Blusukan di Kota Metro

Refleksi masjid Taqwa di Taman Merdeka, Metro.
Sejak perkenalan saya dengan admin @seputarkotametro (namanya Mas Danel Mahendra) beberapa bulan lalu, postingan galeri instragram-nya bikin saya pengen berkunjung ke kota Metro lagi. Dengan bersepeda tentunya, biar puas.

Entah sudah keberapa kalinya saya ke kota Metro, tetapi belum banyak tempat-tempat keren di Metro yang pernah saya kunjungi. Selama ini keluyuran di pusat kotanya aja sih. Hehehe

Kendaraan melintas di kebun karet PTPN 7 Trikora, Karanganyar, Lampung Selatan
Setelah urusan perskripsian saya masih dalam proses menunggu, akhirnya (27/3), saya bersepeda menuju kota Metro. Beruntung, Mas Danel bersedia untuk menemani saya bersepeda keliling Metro pada hari itu dengan bersepeda juga. Jadi, selain aktif mempromosikan kota Metro di media sosial, Mas Danel juga penggiat bersepeda juga lho.

Mas Danel, admin @seputarkotametro di pematang sawah Bantul.
Kota Pendidikan. Sebuah julukan paling khas untuk kota Metro yang juga adalah kota terbesar kedua di provinsi Lampung. Sama seperti Pringsewu, kota Metro diduduki oleh penduduk mayoritas Jawa. Jadi, kalau lagi di Metro rasanya seperti lagi di Jawa sana. "Apa lagi kalau ke alun-alun waktu malam, suasanya Malioboro-nya kerasa banget.", kata Mas Danel. Letaknya sekitar 45 km dari kota Bandar Lampung.


Untuk menuju kota Metro, bisa ditempuh melalui dua jalur yaitu via jalan lintas Branti (bypass) atau via desa Karanganyar, Lampung Selatan. Kali ini saya melewati jalan Karanganyar saja, karena ini jalan favorit saya kalau ke kota Metro. Walaupun sebagian jalannya rusak hingga berlubang cukup parah, tetapi jalan Karanganyar itu lebih aman dan nyaman karena melewati pedesaan juga perkebunan karet yang masih asri dibanding melintasi jalan lintas Branti yang tak jarang harus berdampingan dengan truk-truk besar. Ngeri.

Pertunjukan seni Reog Ponorogo yang saya temui di desa Kibang, Metrokibang.

Pagelaran Seni Kuda Lumping di Kibang, Metrokibang.

Siap dipanen.
Udara pagi terasa dingin sekali karena hujan turun semalaman. Bikin mager. Mau gak mau ya tetap jalan, daripada besok-besok jadinya tertunda lagi. Pagi itu juga saya melapor sama Mas Danel kalau saya sudah berangkat. Biarin dia nunggu saya, saya keliling dulu deh di perkebunan karet di desa Karanganyar.

Pesawahan warga Bantul, Metro.

Apa nama buah ini di tempat kalian?
Setelah dua jam melibas jalanan berlubang yang telah digenangi air hujan.. (bisa buat pelihara lele ini) akhirnya hamparan sawah terasering luas di kanan kiri jalan mulai terlihat. Ini dia alasan lain kalau lewat Karanganyar, pemandangan sawahnya yang luas hingga bersusun tingkat itu selalu bisa menyegarkan mata.

Masjid Taqwa di Taman Merdeka alun-alun kota Metro
Jam 9 tepat. Tiba juga di Alun-alun kota Metro. Sudah terlihat dari jauh sepeda fixie berwarna kuning parkir di dekat gerbang masjid megah di alun-alun kota Metro, masjid Taqwa namanya. Masjid Taqwa adalah sebuah bangunan yang sangat ikonik di kota Metro sejak dulu. Namun sayang, setelah berdiri hampir setengah abad, masjid ini direhabilitasi dirubah pada tahun 2013 lalu menjadi bangunan masjid yang baru bertingkat dengan hanya menyisakan sebuah menara dari bentuk masjid yang lama. Padahal ternyata dulu pertama dibangun, masjid ini diresmikan oleh K.H. Ahmad Dahlan.

Goa Warak
Setelah berkenalan panjang lebar dengan Mas Danel secara langsung, cusss.. Goa Wara jadi destinasi pertama saya pagi ini. Melewati pesawahan lagi, teringat, dulu saya pernah bawa motor ingin ke Bandar Lampung via Karanganyar tetapi malah kesasar sampai ke sini.

Becek, men.
Goa Wara (ada yang menamainya goa Macan Putih) adalah sebuah gua yang berada di bawah pesawahan warga di 24, Tejosari, Metro. Sekitar 500 meter dari stadion Tejosari. Konon, menurut para penduduk setempat mengatakan bahwa bagian dalam goa tersebut cukup luas dan dalam. Kami berdua mengiyakan saja, toh waktu itu gak bisa masuk karena di mulut goa digenangi air yang mengalir dari sawah di atasnya.

Mas Danel menembus jalanan berlumpur dengan sepeda fixienya, gokil guys.

Pulang dari mencari rumput.

Sepedaku di antara kuningnya sawah.
Selesai dari Goa Wara, foto-fotoin sawah lagi, perut kami kelaparan karena belum sarapan. Akhirnya kami kembali lagi ke pusat kota menuju 16c (wilayah terminal dan kampus STO) untuk sarapan dan beristirahat di warung makan di sana supaya bisa makan kenyang dengan tetap bayar murah pake banget. Tau gak? Kota Metro itu kota dengan biaya hidup termurah ke-4 di Indonesia, lho.

Salah satu sisi jalan di pinggiran kota Metro.
Perut sudah kenyang, puas juga selonjoran di beranda rumah pemilik warung makan prasmanan di 16c. Kami pun jalan lagi, melintasi sawah lagi, munuju jembatan Pelita di desa Bantul, dekat bumi perkemahan Metro, jembatan tua yang sudah lama terkenal sampai ke Bandar lampung.

Kalau musim, ada banyak buah-buahan yang bisa kita nikmati di sekitar kota Metro dengan gratis seperti jambu biji, jambu air, rambutan, dll, yang penting izi sama yang punya pohon dulu ya!

Jembatan Pelita
Jembatan pelita adalah salah satu jembatan gantung yang bisa kita jumpai di kota Metro. Jembatan ini jadi salah satu jembatan penghubung antara Metro dan Metrokibang, Lampung Timur. Dibangun sekitar tahun 1960an, jembatan ini masih kuat dan kokoh untuk dilewati oleh kendaraan bermotor. Hanya sedikit berisik karena lantai jembatan tersusun kayu-kayu tambalan. Tak jarang banyak warga melintas dengan membawa bawaan yang cukup besar dan berat seperti rumput hingga kayu bakar.

Pencari rumput melintas.

Tiang jembatan Pelita, miring.
Hari sudah sore, sudah puas mengambil foto di jembatan Pelita, waktunya pulang. Targetku sebelum maghrib harus sudah sampai Bandar Lampung supaya gak kemalaman di jalan. Akhirnya puas juga bisa keliling kota Metro seharian. Sangat berkesan karena sudah ditemani oleh admin kece sekota Metro ber-blusukan-ria di kota Metro. Pakai fixie pula. Edan, Mas. Tapi nanti kapan-kapan kita keliling Metro lagi ya! Masih banyak yang belum dikunjungi, kan?

Sepedaku di tengah-tengah sawah.

Komentar

  1. Aaarggh!!! Sukses membuat aku iri hati dan dengki. Ini cakep banget sih Mas. Ada ya tempat bagus kayak gini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, Metro emang cakep, apa lagi kalau sawah-sawahnya mulai menguning. Aku gak ada maksud lho, kan berbagi, kalau tempat bagus di Lampung ada banyak mbak, banyak banget malah, tinggal pilih tujuannya aja ;)

      Hapus
  2. jadi pingin punya sepeda lagi & jalan2 keliling kota.
    btw, metro punya banyak spot bagus ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Disarankan harus punya om, lumayankan buat nambah/ikut acara bersepeda, keliling kota apalagi ;)
      Bener banget! Ini aja cuma beberapa tempat aja yang bisa dikunjungi karena waktunya gak cukup, dan next time harus ke spot bagus lainnya yg belum pernah dikunjungi nih, hehehe

      Hapus
  3. Semoga Augustus bisa blusukan juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantep, semoga ya! Ditunggu ceritanya ;)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer