Jumat, 19 Agustus 2016

Warna-warni Perayaan Kemerdekaan Indonesia di Teluk Betung


Tujuh belas Agustus tahun empat lima~

Kita semua pasti familiar dengan tanggal itu. Mungkin kalian bakal membacanya sambil bernyanyi. Ya kan?

Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia atau tujuh belasan biasa diperingati dengan upacara bendera di sekolah, daerah pemerintahan atau kantor, lalu dilanjutkan dengan macam-macam pelombaan yang biasa diadakan oleh masyarakat Indonesia. Bahkan, saya baru tau kalau ternyata di kota, acara perayaan kemerdekaan bisa berlangsung hingga akhir pekan dengan diisi berbagai macam kegiatan dari perlombaan, hiburan, sampai sosial. Keren!

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memeriahkan hari kemerdekaan. Kali ini, saya mulai dengan datang ke tempat-tempat perayaan hari kemerdekaan sambil bersepeda. Teluk Betung pun menjadi tujuan saya bersepeda di hari yang merdeka ini.

Seperti umumnya perayaan kemerdekaan di Indonesia, berikut adalah foto-foto yang saya dapati saat ikut berbaur dan merasakan serunya perayaan kemerdekaan Indonesia di Teluk Betung Selatan tepatnya di kampung Cungkeng dan beruntung juga bisa menyaksikan panjat pinang di atas sungai di Gedung Pakuon.

Upacara yang digelar masyarakat Gedung Pakuon, Teluk Betung Selatan

Pedagang mainan

Berteduh di bawah kapal

Balap karung

Lomba makan kerupuk

Balap bakiak

Ibu-ibunya juga gak mau kalah, ikut balapan

Perlombaan panjat pinang di Gedung Pakuon

Antusias penonton panjat pinang

Suasana panjat pinang di Gedung Pakuon

Lomba memasukkan belut

Pertandingan pukul bantal

Suasana pertandingan pukul bantal

sepedaku dan penonton anak-anak

Beberapa panitia acara yang ternyata murid-murid waktu praktik mengajar di sekolah

Satu kata saat menonton pukul bantal: geregetan

Masukin dek, sambil ngeden.
Blogger Tricks

Minggu, 17 Juli 2016

Pesta Sekura, Halloween ala Lampung Barat


Ada empat pilihan kegiatan yang biasa dilakukan oleh warga Liwa dan sekitarnya dalam mengisi hari raya Idul Fitri setiap tahunnya. Diantaranya: diam di rumah, ke tempat kawan dan saudara, pelesiran ke danau Ranau atau pantai-pantai Krui dan yang terakhir, menonton Pesta Sekura atau Sekuraan.

Sekura ya, bukan sakura, kalau itu sih adanya di Jepang sana.

Sekura betik dan penonton
Setelah beberapa hari diam dan melakukan tugas rumah, pada hari lebaran ke-4 kemarin (10/7), saya dan adik saya berangkat menuju Gedung Dalom Kepaksian Pernong di Pekon Balak kecamatan Batu Brak untuk ikut merasakan kemeriahan pesta Sekura.
Sekura sekura betik
Pesta sekura atau sekuraan (orang yang menggunakan topeng) adalah salah satu budaya asli Lampung Barat yang biasa digelar bergiliran dari satu desa ke desa lainnya pada hari raya Idul Fitri, biasanya dari 1 hingga 6 Syawal.

Walaupun anak perempuan, tapi tetap gagah, kan?

Ramai sampai macet.
Tradisi sekura lahir sebagai bagian sejarah dari masuknya ajaran agama Islam ke bumi Sekala Brak. Kala itu kerajaan Sekala Brak yang masih menganut animisme akan berperang melawan rakyatnya yang sudah menjadi Islam yang dipimpin oleh Maulana Penggalang Paksi beserta keempat anaknya, Maulana Pernong, Maulana Lapah di Way, Maulana Belunguh dan Maulana Nyerupa. Mereka pun berperang dengan menggunakan sekura untuk menutupi wajah mereka supaya tak dikenal oleh lawan mereka yang merupakan kerabat mereka sendiri.

Sekura kamak

Meski perang telah lama usai, pesta sekura pun masih tetap lestari hingga kini dan selalu digelar sebagai wadah silaturahmi antar warga hingga desa satu ke desa lainnya. Sekura biasa diadakan di pekon-pekon (kampung) besar di Lampung Barat seperti Way Mengaku, Liwa, Gunung Sugih, Kegeringan, Pekon Balak, Canggu, Kotabesi, Belalau hingga Bakhu, tetapi kali ini juga ada pekon-pekon yang mulai mengadakan Pesta Sekura seperti pekon Padang Cahaya dan Kebun Tebu. Kawan juga pernah bilang kalau ternyata di kabupaten Tanggamus pernah ada acara sekuraan, namun tak seramai di Lampung Barat.

Update status pai.

Pada saat sekuraan, tak jarang semua pemilik rumah panggung sekitar pesta terlihat membuka semua pintu dan jendelanya supaya dikunjungi. Jadi, jangan sungkan-sungkan singgah di rumah warga untuk bersilaturahmi. Enggak kenal? ya kenalan, dijamin dikasih makan enak oleh tuan rumah. ;)

Menyaksikan hiruk pikuk sekura dari atas rumah.
Rombongan sekura betik dari pekon Kembahang, yang gak pakai celana itu kawan saya, Oka.
Sekura Kamak dan pengunjung yang menonton
Kita akan melihat banyak orang dari anak-anak sampai yang dewasa menjadi sekura. Dari dandanannya, bisa dibilang pesta ini seperti halloween di Amerika. Bedanya, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk bersenang-senang dan berbaur bersama sekura lainnya. Bahkan, kita pun boleh turut serta menjadi sekura juga lho.


Ada 2 jenis sekura, yaitu Sekura Betik / Kecah (bersih) dan Sekura Kamak (kotor). Jenis sekura yang banyak diperankan oleh anak-anak ini berpenampilan bersih dan rapi layaknya jawara, dandanannya didominasi oleh lipatan-lipatan kain panjang khas Lampung Barat, selindang miwang yang biasa dipakai untung mengggendong bayi dengan memakai kacamata gelap dan membawa senjata tajam -beneran- seperti parang, sabit, golok sampai pedang.

Sekura betik / kecah
Sedangkan Sekura Kamak berpenampilan benar-benar kotor dan biasanya didominasi oleh orang dewasa. Mereka memakai topeng yang diukir dari kayu atau bahan tumbuhan lainnya, lalu memakai pakaian dari barang bekas. Mereka berkumpul berkelompok lalu salah satu dari mereka akan nyambai (bernyanyi) dan yang lain mengiringinya dengan menabuh alat musik hadra (sejenis rebana) untuk membuat pesta semakin meriah. Terkadang juga sekelompok sekura kamak datang dan berbaur sambil bernyanyi dan menari bersama-sama diiringi oleh tak cuma hadra, apapun yang bisa bersuara sampai panci pun mereka bawa dari rumah untuk membuat acara semakin seru dan heboh.


Sekura kamak
Sepanjang hari sekura akan pergi berkeliling desa, berbaur, bersilaturahmi dengan sesama atau orang-orang yang datang pada kegiatan itu dan bersenang-senang selayaknya merayakan hari kemenangan dari berpuasa Ramadhan. Malahan, sekura pun bisa jadi ajang berkenalan dengan muli (gadis) yang datang pada acara itu.

Sekura sekura cilik

Mr. Zane pemilik salah satu cottage di pantai Labuhan Jukung Krui pun ikut menyaksikan keseruan pesta Sekura
Layaknya teater luar ruang, siapa pun boleh ikut serta bersenang-senang dan larut dalam keseruan pesta sekura. Menjelang sore, pesta sekura pun akan diakhiri dengan dipanjatnya buah-buah (batang pinang berhadiah) oleh kawanan sekura kamak secara bergotong-royong.

Batang pinang berhadiah atau buah di beranda Gedung Dalom yang dipanjati oleh sekura anak-anak.