Jumat, 31 Maret 2017

Menikmati Selimut Kabut dari Bukit Belakang Rumah

Kabut Liwa
Hampir setiap pagi saya dan adikku Vincent datang ke tempat ini untuk menikmati tebalnya kabut menyelimuti desa kami sejak sebelum matahari muncul dari balik barisan Bukit Barisan Selatan. Tak pernah bosan buat datang karena satu hal yang saya sadari semenjak tinggal dan besar di tempat ini adalah akan selalu ada hal menakjubkan dan berbeda untuk dinikmati di setiap harinya. Dan ini salah satunya. Banyak mereka yang lebih asik terlelap meringkuk diri di dalam selimut tebal karena udara di kampung halaman kami, Lampung Barat, sangat tekenal akan dinginnya. Apalagi saat malam datang hingga pagi menjelang bisa mencapai 17' C.
 

Mistis
Sering sekali pagi-pagi sudah dibangunkan adik untuk mengerjakan tugas rumah membuka warung dan menyiapkan dagangan. Setelah beres, segera kami tancap gas melaju ke atas bukit tepat jauh di belakang rumah kami. Kurang dari 15 menit bermotor, menembus kabut tebal hingga berada di atas permukaan kabut, menaiki perbukitan dan melintasi kebun sayur dan kopi, pemandangan menakjubkan seperti di dalam artikel ini pun langsung tersajikan di depan mata. Mati kantab!

Kamera Vincent merekam kabut, perbukitan dan gunung Seminung
Ada banyak tempat di Liwa yang bisa dikunjungi untuk menikmati tebalnya kabut yang menyelimuti Bumi Sekala Brak di pagi hari. Yang paling hits adalah Bawang Bakung di Negeriratu, Kembahang Tuha atau populer dengan sebutan Puncak Geredai. Namun sangatlah jauh untuk kami tempuh dari rumah. Kurang lebih sejam perjalanan.

Kabut menutupi bukit
Tak ada nama spesifik untuk nama bukit yang sering kami kunjungi ini, karena sebenarnya tempat ini adalah sebuah kebun milik warga Talang Bambu, Sedampah Indah yang lahannya menghadap langsung ke hamparan hijau Bumi Sekala Brak dan puncak gunung Pesagi. Asalkan datang dengan jaga sikap serta menjaga kebersihan, kami pun leluasa berjalan di tengah lahan yang sering ditanami sayur-mayur ini.

Vincent dan Okta

Seusai kabut menghilang, dari atas sini, hampir seluruh desa-desa dan kota Liwa mulai terlihat di kejauhan. Warna hijau masih mendominasi lansekap kampung halaman kami ini yang sebenarnya adalah daerah dataran tinggi yang mayoritas penduduknya adalah petani. Dalam jangka waktu setahun, berbagai macam tanaman bergantian ditanam di bukit ini sesuai musim dan harganya, seperti kubis, cabe, tomat, sawi, buncis, dll.

Kali keduanya menikmati kabut tebal

Semburat sinar matahari

Siluet Aris, Okta dan saya

Bumi Sekala Brak

A post shared by Siregar, Exaudio (@exaudiosiregar) on


Blogger Tricks

Senin, 31 Oktober 2016

Menemani Mirko Buzzelli, Bule Itali yang Bersepeda Membelah Asia


"Bro, hari senin bakal ada bule sampai di Lampung, bisa gak jemput dia di Panjang pas siang kalau gak sore?"

Begitulah isi pesan whatsapp bang Firman si Blackbeans Sabtu lalu (22/10) yang tiba-tiba membuatku jadi sangat sumringah karena akhirnya aku bakal bisa ketemu pesepeda touring dari luar negeri.

Gimana enggak? Selama tinggal di Bandar Lampung, aku belum pernah berjumpa dengan "orang gila" seperti mereka Kenapa mereka kusebut orang gila? Karena mereka mau meninggalkan kehidupan normal mereka dan menghabiskan waktu bahkan sampai bertahun-tahun di atas sepeda untuk mengelilingi dunia. Gokil.

Setelah memperoleh kontak Mirko, si pesepeda touring dari UK itu, aku pun mulai menghubunginya untuk menanyakan posisi dan rencana perjalanannya beberapa hari ke depan. Pada hari Minggu itu dia sudah berada di kapal feri untuk menyeberang menuju pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan lalu beristirahat semalam dan akan melanjutkan kembali perjalanannya esok hari. Kami pun membuat janji untuk bertemu di daerah Panjang, Bandar Lampung.

Senin pagi jam 8 (24/10), handphone ku pun berbunyi, Mirko sudah sampai di daerah Tarahan, Lampung Selatan, tidak jauh lagi dari tempat kami akan bertemu. Luangan, geluk ikheh! Ku pikir dia bakal tiba siang atau sore nanti tapi ternyata dia tiba lebih cepat dari yang ku kira. Aku pun bergegas menyusulnya ke Panjang tempat kami akan bertemu. Bang Firman pun mengabariku kalau dia tak bisa ikut menjemput karena dia sedang dalam pekerjaan menyelesaikan gerobak dagangannya.

Mirko Buzzelli adalah seorang Italia yang telah lama tinggal di London, United Kingdom. Dia berniat untuk bersepeda mengelilingi Asia yang dimulai dari Bali sampai ke Jepang. Jadi, berdasarkan perhitungan Mirko, dia akan menyelesaikan perjalanannya sampai setahun ke depan! Leluangan.

"Kokpit" sepeda Mirko.

Sebelum tahu kalau dia seorang Italia, pikirku bakal seru nanti bisa bercakap-cakap dengan seorang British. Ternyata tidak, Mirko menggunakan bahasa Inggris Amerika dengan aksen bicaranya yang membuatku jadi ingat pembalap motoGP terkenal. Oh, iya! Valentino Rossi! Dia berbicara seperti Valentino Rossi. Hahaha, senang sekali aku waktu itu bisa berjumpa dan bercakap-cakap bahasa Inggris dengan dia. Walaupun sebenarnya ada beberapa percakapan yang gak dimengerti karena kadang dia bercerita terlalu cepat. Jadi, aku yes-yes-in aja, hahaha..

Teman berpetualang Mirko.

Setelah berkenalan secara langsung, hal pertama yang diminta Mirko adalah mengantarkannya ke tempat untuk membeli kopi. "Can we get good coffee here? I need a lot of coffee!", katanya. Dia tahu bahwa tempat dia berada sekarang adalah tempat dimana kopi terbaik bisa ditemukan. Kopi Robusta Lampung. Pikirku, "Ah, pasti bang Firman yang ngeracunin dia pas di Malang nih". Pas sekali, aku juga lagi butuh asupan kafein.

Singgah di kedai Flambojan.

Kami pun mulai mengayuh sepeda menuju seputaran Enggal. Dalam setengah jam, kami tiba di salah satu kedai kopi yang sudah sering kukunjungi, yaitu Flambojan. "This place looks like the coffee shops in my place. I thought the shop was like warung in Java.", begitulah kesan pertama Mirko mengunjungi Flambojan, sebuah kedai kopi di Bandar Lampung dengan konsep take away coffee shop, tapi hari itu kami minum di tempat saja.

Banyak pilihan cara seduh yang ditawarkan oleh juru seduh Flambojan, namun Mirko memilih kopi tubruk. "I'm in Indonesia right now, so I'm an Indonesian right now, I wanna drink coffee like Indonesian people", begitulah sahut si Mirko kepadaku. Jadilah waktu itu kami menikmati secangkir kopi robusta Liwa dengan cara seduh khas orang Indonesia, tubruk.

Mirko di Flambojan.

Puas menikmati kopi terbaik dari Lampung, kopi Liwa, kami pun melanjutkan perjalanan menuju bengkel las Art Metal Studio milik Mas Bangun di Tanjung Senang. Di sana, bang Firman sudah menunggu kami sambil membangun gerobak Burger Bakar Patty-nya. Sebenarnya Mirko dan bang Firman sudah pernah bertemu di rumah singgah pesepeda sewaktu di Malang, Jawa Timur beberapa minggu yang lalu. Saat itu Mirko tiba dari Bali dan bang Firman tiba dari Lampung setelah hampir 3 minggu menjelajahi jalanan di pulau Jawa.

(Baca juga: Pesta Sekura, Helloween ala Indonesia)

Tiba di Art Metal Studio, Mirko pun langsung dijamu makan siang oleh bang Firman, sederhana, namun dia senang sekali karena diberi makanan khas Jawa, pecel. Hahaha, dia suka dengan makanan itu karena bumbu kacangnya. "Are you a vegan?", tanyaku. "No, is there any meat here?", tanya Mirko. "No, it is a Javanese food called pecel. There are some vegetables, peanut sauce, and overcooked rice or lontong. Pecel is a delicious food which is very cheap we can find". Lalu Mirko menjawab dengan sangat yakin, "Yes, of course, that's why if I'm hungry, I prefer to look for warung than a restaurant. The food is very cheap!". Itulah salah satu percakapan kami saat sedang beristirahat di Art Metal Studio mas Bangun. Sesekali Mirko mengeluarkan candaan yang cukup kami mengerti sama yang dia bilang. Katanya, "I was scared when I knew that your name is Dio. When I just arrived at Bakauheni port, I thought that I was going to meet God". Mas Bangun bertanya kenapa. Lalu Mirko menjawab dengan ekspresi khas bulenya, "Yes, sure, because Dio, I mean Dios in Spanish means God."

Singgah di Art Metal Studio-nya Mas Bangun.

Usai cukup lama mengobrol di Art Metal Studio siang itu, kami pun mengajak Mirko untuk singgah ke Keiko Bahabia. Kebetulan bang Firman ada urusan dengan salah satu juru seduh di sana, bang Kutu Bocah. Siapa kira, kami gak nyesel ajak Mirko ke kedai ini. Dia cukup terkesan dan senang berada di kedai itu. Katanya di negaranya jarang atau bahkan tak ada kedai kopi dengan lukisan mural kreatif dan nyeleneh seperti kedai yang satu ini. Apa lagi gambar-gambarnya dibuat oleh si juru seduh kedai itu sendiri. Mungkin jika selama ini cafe atau kedai kopi yang dia pernah singgahi atau yang di negaranya selalu dilengkapi dengan wifi di sini tidak. "Sorry no wifi, talk to each other", baca si Mirko sambil tertawa. Ia pun mondar-mandir menikmati gambar dan foto-foto pariwisata provinsi Lampung yang juga dipajang di Keiko Bahabia.

(Baca juga: Perjalanan Bersepeda Membelah Bumi Sekala Brak)

Memperhatikan juru seduh Keiko Bahabia menyeduh kopi.

Sore itu pun kami habiskan dengan mengobrol santai dengan Mirko sambil menunggu teman-teman Warmshowers Indonesia menjemput Mirko untuk membawanya ke rumah singgah. Banyak hal yang kami obrolkan di sana hingga tak terasa sudah banyak juga kopi yang Mirko habiskan pada hari itu, dan dia terlihat sangat menikmatinya. Sampai aku penasaran dan bertanya, "Will you sleep tonight? You've really spent a lot of coffee". Dengan ekspresi khas bulenya, Mirko menjawab, "It's okay. At least, I can enjoy some great coffee in here for free. And there is no bule price". Seketika itu kami pun tertawa setelah Mirko mengucap bule price (harga untuk pengunjung internasional).

Mirko meminta aku dan teman-teman yang dijumpainya untuk mengenakan topinya, lalu ia foto.

Menjelang malam, bersama-sama teman Warmshowers, kami pun menuju rumah singgah untuk pesepeda touring. Warmshowers adalah sebuah organisasi yang menyediakan tempat singgah dan informasi bagi pesepeda touring lokal atau pun luar. Tak hanya di Lampung, Warmshowers tersebar di berbagai kota yang sering dilintasi oleh pesepeda touring di seluruh Indonesia.

Banyak cerita yang kami dapatkan dari Mirko selama perjalanannya di Indonesia, tepatnya saat di pulau Jawa. Sebagian ceritanya itu membuat kami tertawa, mungkin Mirko memang suka bercanda seperti seorang komik, dia bercerita tentang kisahnya dan cerita-ceritanya bisa membuat pendengarnya tertawa. Di Probolinggo, ponselnya pernah terjatuh dan saat akan diambil ada truck besar yang juga melintas lalu seketika itu pula ponselnya terlindas. Pernah juga ia membeli bakso di warung tenda di tepi jalan, lalu ia dibohongi dengan harga bakso Rp 500.000,- /mangkok, lantas Mirko tak terima dan hanya meninggalkan Rp 30.000,- saja di warung itu. Mirko sangat senang berada di Indonesia, berada di Indonesia dia merasa seperti seorang "a famous rockstar", katanya, seperti bule kebanyakan, banyak orang yang memanggilnya demikian saat bersepeda dan banyak pula yang meminta padanya untuk foto bersama. Dia sangat suka makan di warung. Dia bisa memilih dan menyantap makanan enak dengan harga yang sangat murah baginya.

Sarapan nasi uduk di Kemiling. "I prefer to eat in warung, it's very cheap", kata Mirko.

Foto bersama sebelum Mirko melanjutkan perjalanan menempuh Pesisir Barat Lampung.

Esok harinya, pagi-pagi, aku dan bang Firman pun menemani Mirko sampai ke perbatasan kota, Kemiling. Dia menargetkan bisa menempuh Kota Agung Tanggamus, atau jika hari masih terang dia bisa menginap di masjid Imaduddin pekon Semaka (rest area sebelum melintasi belantara Taman Nasional Bukit Barisan Selatan) lalu perjalanan keesokan harinya melintasi Pesisir Barat Lampung hingga ke Bengkulu.

(Catatan: Setelah dari sini, janggutku pun kucukur habis)

Jumat, 21 Oktober 2016

Mengunjungi Air Terjun Curug Gumawang Serang


Perihal menghadiri undangan pernikahan mantannya temannya di masa SMA, Okta pun mengajakku untuk bertolak ke kota yang terkenal dengan seni beladiri debus dan pantai Anyernya, yaitu Serang, provinsi Banten. Di hari yang sudah kami tentukan, kami pun berangkat menggunakan motor kesayanganku dan selama di sana kami sempat menginap di pondok pesantren tempat Okta menyelesaikan masa aliyahnya sebagai santri.

Wadah informasi tentang Curug Gumawang di dunia maya

Sebenarnya tak ada referensi destinasi yang tercatat selama ini jika seandainya pergi ke Banten, kecuali pantai Anyer. Itu pun ku tau karena sudah sering sekali ku dengar di kalangan pesepeda di Lampung yang sudah pernah atau berencana bersepeda jarak jauh, dan lagi-lagi pantai itu sering menjadi destinasi bersepeda. Jadi berhubung selama ini juga hanya di Lampung saja, sekali-kali berakhir pekan di luar kota gak kenapa-kenapa, kan.

Mbak dan sepupu-sepupunya Okta yang ikut ke curug

Seusai menghadiri undangan pernikahan, kami pun berencana untuk pergi. Belum tau mau kemana, bersyukur waktu itu ada sepupu Okta yang mau menemani kami berkeliling, Adam namanya. Adam bilang, "Kita pergi ke Curug Gumawang aja ya, A". Tanpa banyak tanya kami ikut saja.

Setelah setengah jam menempuh jalanan desa, kami pun tiba di desa yang lumayan jauh dari tempat kami menetap, desa Padarincang namanya. Dari desa itu, kami menempuh lagi jalan kecil sampai ke tempat yang disediakan untuk memarkirkan motor. Dari sana, kami harus berjalan kaki lagi. Cukup seru dan berisik waktu itu karena tak hanya kami bertiga, Okta juga mengajak mbak dan sepupunya untuk turut serta. Bisa dibilang mereka sedang reuni setelah cukup lama tak berjumpa.

Menyeberangi sungai

Menuju curug ini ternyata tak sulit, setelah menyeberangi sungai, perjalanan pun dilanjutkan dengan menyusuri jalur di kaki bukit tanpa harus melalui tanjakan atau turunan yang berarti. Banyak sekali pohon tangkil yang bisa dijumpai di jalan. Baru ingat, ternyata Okta pernah bilang kalau di Serang kulit tangkil memang sudah menjadi bahan utama jajanan khas di sana. Kulitnya sering diolah menjadi keripik.

Anak-anak Mengkuliti tangkil

Keripik Kulit Tangkil yang dijual di sekitar curug. Harganya Rp 1000 doang!

Setelah berjalan kaki 15 menit lamanya, akhirnya derasnya curug Gumawang pun terlihat. Sudah ada banyak orang yang sedang foto-foto atau mandi di bawah curug. Oiya, lupa kalau hari itu adalah weekend. Sebelum masuk ke curug, kami telah membayar tiket dua kali dengan harga per tiket Rp 5000,-. Cukup membingungkan bagi saya, kenapa gak sekalian 1 tiket seharga Rp 10.000,- saja?

Curug Gumawang

"Nah, ini namanya curug Gumawang, A. Tingginya sampai 40 meter. Gak cuma dari Serang, orang Jakarta juga sering datang ke sini", kata Adam. Sama seperti Lampung, ternyata ada banyak curug yang bisa dijumpai di Banten, dan curug ini adalah salah satunya yang sering dikunjungi karena aksesnya yang mudah. Curug Gumawang atau Cigumawang berada di desa Padarincang, kabupaten Serang, Banten. Curug ini bisa ditempuh kurang lebih 1,5 jam menggunakan kendaraan pribadi dari Serang kota. Nama Gumawang sendiri berasal dari bahasa Sunda "bawang". Masyarakat sekitar pun menamai demikian karena derasnya aliran curug terlihat seperti bawang.

Sampah-sampah pengunjung dikumpulkan di sini

Ada toilet atau ruang ganti

Pondok-pondok di sekitar curug
Menurut masyarakat sekitar yang berjualan di sana, curug ini biasa digunakan untuk kegiatan olahraga panjat tebing, berkemah dan outbound. Konon, air di curug ini pun dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan jika sepasang kekasih datang ke tempat ini diyakini bisa jadi berjodoh, katanya.

Curug kecil di sekitar air terjun
Puas memandang, mengambil gambar sambil makan keripik tangkil atau mandi-mandi di bawah curug, kami pun bergegas pulang karena hari semakin gelap. Tak lupa, kami membeli cukup banyak keripik tangkil yang dijual di sana sebagai oleh-oleh buat teman-teman di Lampung, biar mereka bisa cicip juga, soalnya di Lampung gak ada, hehe. Walaupun hanya sebentar di Serang, akhirnya kami sempat mengunjungi tempat yang kata Adam adalah salah satu tempat hits di Banten. Kan lumayan buat bahan postingan blog.

Jauh-jauh dari Lampung harus foto di sini juga, geh

Curug Cigumawang atau Gumawang, Padarincang, Serang, Banten

Sabtu, 17 September 2016

Ada Teropong Laut di Muncak

 

Kemarin pagi tumben-tumbennya saya bisa bangun lebih pagi dari biasanya. Pokoknya rekor bangun terpagi untuk bulan ini. Padahal, selama ini saya lebih suka menikmati sejuknya udara pagi Bandar Lampung dengan cara leyeh-leyeh di kasur kostan tercinta yang sebentar lagi masa kontraknya bakal habis. Mungkin karena keberadaan kamera si Vincent di kostan telah memotivasi saya untuk bisa bangun lebih pagi dan pergi bersepeda, mungkin.

Rumah dalam Teropong Laut Muncak.

Teropong Laut Muncak menjadi tujuan saya bersepeda pagi itu. Teropong Laut itu berada di puncak bukit Tirtayasa, desa Muncak, kecamatan Teluk Pandan, kabupaten Pesawaran. Walaupun berada dalam wilayah Pesawaran, spot yang menurutku ajib banget ini dominan dikunjungi oleh pengunjung dari Bandar Lampung karena letaknya yang sangat dekat. Kenapa ajib? Dari Muncak kita bisa menikmati pemandangan kota sekaligus alam dari tempat tinggi, juga semakin keren dan menarik karena disediakan banyak balkon atau viewing point ala ala di Kalibiru, Yogyakarta.

Desa Muncak, bukit, hutan dan gunung Betung.

Teropong Laut adalah sebuah kafe kecil yang dibangun di puncak bukit Tirtayasa. Iya, namanya Teropong Laut Muncak. Teropong Laut yang ada di Muncak. Mungkin karena dari sana kita bisa menikmati hijaunya perbukitan, pesisir, pulau-pulau juga birunya teluk Lampung yang luas atau mungkin juga nanti di tempat itu benar-benar disediakan teropong laut macam di Menara Siger, Bakauheni. Mungkin sih, lupa nanya, hehehe

Dorong.

Dibuka semenjak lebaran kemarin, tempat ini mendadak masyur di seantero jagat maya terutama instagram karena spotnya yang instagramable banget. Sampai pernah kata kawan, "Belum hits kalau belum ke sini". Hampir setiap hari tempat ini ramai dikunjungi dari yang muda sampai yang tua untuk berkumpul, bersenang-senang dan berfoto-foto ria.

Nanjak terus, tek.
 
Sebenarnya sudah lama sekali berencana untuk bersepeda menuju Muncak, malah sejak sebelum Teropong Laut dibangun dan sebelum Muncak terkenal seperti sekarang ini. Hanya saja, setiap punya kesempatan, kawan yang biasa saya ajak bersepeda malah ogah karena ragu dengan tempatnya. Saya pun jadi ogah juga karena gak ada kawan. Ya, di kalangan pesepeda di Bandar Lampung, desa Muncak menjadi salah satu rute bersepeda yang wajib dikunjungi karena tanjakannya pemandangannya yang aduhai. Selain itu, dari desa Muncak, kita juga bisa menuju kota Hanura atau desa Umbul Kunci via jalan desa dengan jalan bebatuan. Jadi, yang mau bersepeda downhill atau cross country, bisa banget.

Berenti dulu, ngumpulin nafas.

Berangkat jam setengah 6. Pikir saya desa Muncak bisa ditempuh dengan bersepeda dalam sejam dan ternyata perkiraan saya benar. Saya tiba di desa Muncak jam setengah 7. Setengah jam bersepeda menempuh simpang Muncak, setengah jamnya lagi tegambuy menaklukkan tanjakan desa Muncak. Mandi Keringat. Sendirian. Kantab.

Balkon-balkon tempat berfoto atau menikmati pemandangan diluar Teropong Laut.

Puas beristirahat dan mengambil gambar di atas balkon-balkon yang tersebar di penjuru bukit (di luar area Teropong Laut). Sebenarnya untuk naik ke balkon diharuskan membayar sesuai tarif yang tertera, cuma karena mungkin masih pagi dan tak ada penjaganya, saya jadi naik turun balkon sesuka hati, hahaha. It's the power of nyubuh.

Depan Teropong Muncak. atau Munca. Sama saja.

Tak jauh dari tempat saya mengumpulkan nafas tadi, dorong dikit, akhirnya sampai di gerbang Teropong Laut Muncak dan langsung disambut oleh para pengelola tempat yang sudah standby di pintu masuk. Dengan tarif lima ribu rupiah, kita sudah bisa masuk dan foto-foto dimana pun kita mau. Mereka heran melihat saya bersepeda sendirian karena biasanya selama ini yang bersepeda ke tempat ini selalu bersama rombongan atau komunitas. Ramah sekali, mereka langsung menyarankan saya untuk menaruh sepeda di balkon utama yang sudah tak asing lagi saya lihat di media sosial. "Sepedanya taruh di balkon sana aja, Bang. Kasian sepedanya udah capek tuh.", saut salah satu penjaga dengan logat Sunda. Yaelah, yang abis keringetan siapa, mang?

Karena masih sepi, sepedanya boleh ditaruh di balkon utama.
Bersyukur bisa sampai ke tempat ini pagi-pagi dan cuacanya cerah sekali. Saya adalah pengunjung pertama Teropong Laut hari itu. Menurut pengelola, biasanya tempat ini akan mulai ramai dikunjungi sejak siang sampai malam tiba. Sehingga banyak dari balkon-balkon yang tersedia dipasang waktu maksimum bagi pengunjungnya untuk berfoto agar bisa bergantian dengan rombongan pengunjung lainnya. Teropong Laut Muncak pun ternyata memiliki jam operasional dari jam 6 sampai 8 malam.
Penjaganya ramah nih, nawarin diri bersedia motoin saya yang masih tegambuy dan mandi keringat ini.

Kopinya juga enak.

Salam tikhamku diniku (Salam rinduku padamu), ahahai de.


Salah satu balkon di dalam area Teropong Laut Muncak.

Balkon dan pemandangannya.


* * *
Sebelum ramai seperti saat ini, sebenarnya saya sudah sering datang ke desa Muncak dengan bermotor bersama teman-teman kuliah. Tempat ini menjadi salah satu daftar tempat yang bisa dikunjungi untuk melepas penat dari tugas perkuliahan tanpa harus membayar mahal. Hanya saja kami lebih sering datang ke puncak bukit di sebelah bukit Teropong Laut Muncak.

Saya dan kawan menyebutnya Kafe Muncak.

Di puncak bukit yang sering kami kunjungi itu hanya berdiri satu rumah dan beberapa pondok. Teman saya Okta menyebutnya Kafe Muncak (walaupun sebenarnya hanya sebuah rumah dengan beranda yang cukup luas). Jika Teropong Laut menawarkan pemandangan kabupaten Pesawaran dan laut teluk Lampung, dari kafe ini kita bisa menikmati panorama hijaunya perbukitan dan kota bandar Lampung. Jika ke sini, cukup membayar tiga ribu rupiah saja untuk parkir motor dan lima ribu rupiah untuk parkir mobil. Makanan dan minuman di sini juga bisa tinggal ambil, pulangnya baru bayar. hehehe.

Beranda Kafe Muncak.

Pemandangan Kota Bandar Lampung dari Kafe Muncak.

Tempat favorit untuk santai.

Pemandangan terbaik dari sini ada di waktu malam.