Jumat, 13 April 2018

Pendakian Menuju Puncak Gunung Seminung

Danau Ranau, danau terbesar kedua di Indonesia.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Sebulan sebelumnya, Ismu dan Aris, teman kuliahku, sudah sibuk pengaruhiku untuk ikut rencana pendakian mereka. Karena kami sudah memiliki kesibukan masing-masing, akhirnya kami sepakat untuk mengamankan hari Jumat di akhir bulan Maret karena libur. Kami bertiga pun sepakat bakal 'bolos' kalau seandainya nanti hari Senin kami tak sempat kembali ke tempat masing-masing pada waktunya.
  
Seminung pagi itu.
Bersama tekad yang sudah bulat, kami memutuskan untuk mendaki gunung Seminung (1.881 mdpl) yang berada di Lampung Barat. Sebelumnya, Ismu dan Aris sempat mempermasalahkan gunung mana yang bakal didaki, dan gunung Pesagi sempat menjadi pilihan lagi. Dengan informasi yang minim dan perlengkapan mendaki yang didukung oleh adikku Vincent, kami mengatur rencana A sampai Z agar pendakian ini bisa berjalan dengan baik.

Jumat pagi, aku dan Ismu sudah ada di dalam bus Pangeran Muda, bus jurusan Rajabasa - Sukau yang siap mengantar kami sampai ke kota tujuan, yaitu Kotabatu. Aris dan teman yang diajaknya, Dani, akan naik bersama kami juga jika bus melewati tempat yang sudah kami janjikan. Kotabatu terletak di wilayah kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatra Selatan. Kota di tepi danau ini berbatasan langsung dengan kota asalku, yaitu Liwa, Lampung Barat. Butuh 8-9 jam untuk mencapai kota kecil ini. Bernostalgia masa kuliah pun menjadi topik yang sangat menghibur di dalam perjalanan, terutama kisah romansa Aris dan perempuan pujaannya yang uh..

Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa kami jadi berangkat ke Kotabatu, padahal gunungnya berada di Lampung Barat. Jadi, sebenarnya gunung Seminung berada di perbatasan antara 2 provinsi, yaitu Lampung dan Sumatra Selatan. Dan lagi, adikku yang notabene sudah pernah mendaki menyarankan untuk mendaki dari Kotabatu. Jalur pendakian lainnya bisa ditempuh dari Lumbok Seminung, Lampung Barat.

Keramba ikan di dekat dermaga Kotabatu.
Kian sore, penumpang tinggal kami berempat saja. Saat sudah di Kotabatu, aku segera meminta supir bus untuk menghentikan busnya tepat di depan sebuah warung mie ayam paling enak di Kotabatu. Namanya Warung Bakso dan Mie Ayam Podo Moro. Ini perlu disebut, soalnya mie ayam inilah yang menjadi motivasi kami selama perjalanan, dan siapa tahu kalau kalian berkunjung ke danau Ranau bisa sekalian mampir untuk coba mie ayam Podo Moro. Sayang sekali, hari itu mie ayam sudah habis, jadi kami hanya memesan mie tektek yang tentu tak kalah nikmatnya.
 
Sering mampir ke sini jika ke Ranau.

Puncak Seminung dari balik jendela rumah Pak Syahrin.
Setelah membeli semua keperluan selama pendakian, ternyata si pemilik warung mengingatkan kami untuk melapor ke juru kunci atau kuncen gunung Seminung. Sontak saja, kami baru tahu kalau ternyata kami harus melapor terlebih dulu. Akhirnya, si pemilik warung mengarahkan kami untuk mengunjungi rumah kuncen gunung Seminung, Bapak Syahrin. Tetapi tiba di rumah beliau, kami hanya bertemu dengan anaknya saja. Ternyata Pak Syahrin lebih sering tinggal tinggal di gunung.
 
Kami dipersilahkan untuk beristirahat di rumah Pak Syahrin. Ternyata rumah tersebut sudah lama menjadi tempat pendaki untuk bermalam ketika akan atau pun turun dari Seminung. Padahal sebelumnya, kami berencana akan bermalam di masjid.

Beranda rumah pak Syahrin, Juru kunci gunung Seminung.
Pagi pun tiba. Cuaca cerah sekali. Langit barat menunjukkan kekhasannya yang selalu menjadi favoritku, membiru. Pertanda cuaca akan bersahabat sampai sore nanti, setidaknya. Selepas berkemas-kemas dan sarapan, kami pun berjalan kaki menuju dermaga yang tak jauh dari rumah Pak Syahrin untuk menyeberang langsung ke jalur pendakian dekat objek wisata Way Panas.

Karena waktu itu sedang libur akhir pekan yang panjang, ada banyak pendaki yang mendaki gunung pada hari ini. Kami pun sekapal dengan para pendaki dari Palembang. Dengan membayar 10 ribu per orang, kami sudah bisa menyeberangi danau Ranau langsung ke Way Panas dengan kapal penyeberangan yang biasa disebut getek.

Ramai pendaki dari Palembang.

Menunggu penumpang lainnya.
Sesampainya di Way Panas, pendakian pun dimulai dengan menyusuri jalan setapak yang telah dibeton oleh warga supaya mudah dilewati motor. Kami harus menyusuri  hingga ke pondok tempat Pak Syahrin tinggal. Ternyata, belum sampai ke rumah beliau pun, kami sudah kelelahan dan berkeringat tak karuan. Benar kata Vincent, jalur pendakian Seminung benar-benar aduhai tantangannya. Jalurnya menanjak terus hingga ke puncak. Tak ada bonus jalan datar atau pun turunan. Tiba di rumah Pak Syahrin, kami pun beristirahat dan meregistrasikan diri terlebih dahulu, supaya kami tetap terpantau dari naik hingga turun dari puncak nanti.

Getek.
Ada hal yang unik saat berada di kota kecil di tepi Ranau ini, umumnya masyarakat Kotabatu dan sekitarnya menggunakan 2 bahasa daerah, yaitu bahasa Ranau (sama seperti Lampung) dan Ogan (seperti bahasa Palembang). Sering aku meladeni orang sana dengan hanya menggunakan bahasa Lampung dan mereka membalas dengan berbahasa Ogan. Seru. Kami sama-sama mengerti meskipun menggunakan bahasa yang berbeda.
 
Pos terakhir untuk mendapatkan air.

Aris dan Ismu, kombinasi manusia yang bakal buat perjalananmu tak membosankan.
Jam 10 tepat, kami tiba di posko terakhir tempat tersedianya air minum. Di sana sudah banyak orang yang sedang beristirahat. Mungkin baru turun dari puncak atau pun akan naik. Di posko ini terdapat beberapa pondok yang tak didiami oleh pemiliknya dan sebuah musala. Di belakang musala, terdapat bak yang sangat besar yang berisi banyak air. Sehingga para pendaki bisa mengisi kembali botol bawaan mereka untuk bekal di perjalanan pendakian.
 
Gilingan kopi manual yang cara kerjanya digiling dulu baru dijemur.
Sayang, banyak sekali coretan di tembok musala tersebut. Sehingga musala tersebut terlihat kotor dan tak terawat. Kadang aku gak habis pikir sama mereka yang melakukan vandal tersebut. Padahal, sebenarnya tak ada yang peduli dengan apapun yang mereka tulis di sana. Cuma kotor-kotorin tempat orang aja. Serius, gak ada kerennya sama sekali. Mak nihan.

Pintu gerbang pendakian menuju puncak.

Pengingat yang sering dilupakan.

Jalur yang curam dan memanjat menjadi tantangan yang paling sering dihadapi dalam pendakian kali ini. Tak ada jalan yang datar, kepala selalu mengadah ke atas. Tak banyak juga pemandangan yang bisa dilihat selama di perjalanan. Sering sekali kami mengambil waktu untuk berhenti dan beristirahat. Berada berjam-jam di jalur pendakian membuat kami berempat saling mendorong diri satu sama lain untuk bergerak supaya sampai di puncak bersama-sama.
 
Rehat sejenak setelah berjam-jam menanjak.
Sesekali kami juga saling mengingatkan untuk menghemat air, karena walaupun kami membawa banyak persediaan air, kami harus mengatur kebutuhan air kami agar bisa diminum sampai turun lagi. Bagaimana pun, mendaki gunung bukanlah untuk menaklukkan apapun kecuali diri sendiri. Lebih dari sekedar logistik, mendaki gunung adalah tentang bagaimana cara menjaga fisik, batin, kesabaran, solidaritas dan sikap dengan baik supaya tujuan bersama yang telah direncanakan jauh-jauh hari bisa tercapai dengan baik. Asik.
Ayo, kawan, mie ayam podo moro menanti!
Hanya ada 3 pilihan dalam sebuah perjalanan, terus, istirahat dulu, atau pulang dan kami berempat tetap hanya mendaki terus ke depan dengan sesekali berhenti untuk beristirahat. Rasa lelah yang sudah terasa kami alihkan dengan obrolan-obrolan yang sebenarnya tak penting tetapi menjadi seru untuk dibahas. Mulai dari cerita masa kuliah, dosen, teman, pekerjaan, percintaan, sampai mie ayam Podo Moro yang belum sempat kami cicip waktu itu. Tentu, obrolan-obrolan tersebut bisa menjadi lebih seru berkat kekocakan Ismu dan Aris.

Semburat pepohonan di atas gunung.
Setelah 6 jam lamanya menanjak, akhirnya kami berhasil mencapai puncak Seminung. Kedatangan kami disambut oleh hujan badai. Segera ku keluarkan tenda dari dalam tas ku dan langsung mendirikannya supaya barang-barang kami basah. Lalu duduk-duduk di dalamnya dengan tangan dan kaki yang sudah terasa kaku sambil menikmati biskuit yang sudah aku remukkan, biar awet. Soalnya cuma beli sebungkus. 😀

Satu persatu pendaki dari Palembang yang satu kapal dengan kami mulai mencapai puncak juga. Kami pun mengajak mereka untuk berteduh ke dalam tenda kami dulu karena hujan belum reda. Ternyata mereka tak membawa tenda dan baju ganti karena rencana pendakian mereka bukan untuk bermalam, melainkan naik dan turun gunung pada hari itu juga. Lalu, salah satu dari rombongan mereka jatuh pingsan karena kelelahan dan kedinginan. Segera kami menyediakan tenda kami agar segera dirawat. Sementara kami menunggu di luar sambil bergerak bebas supaya tak kedinginan. Tentu memakai mantel hujan.

Badai sudah reda, dua jam sudah kami menunggu di luar bersama teman-teman yang lain, kakak yang jatuh pingsan tadi sudah siuman. Karena hari sudah gelap, tak mungkin lagi kalau mereka harus turun pada waktu itu. Sehingga mereka pun menginap dengan menumpang di tenda-tenda para pendaki yang bermalam pada waktu itu dan 2 dari mereka menginap di tenda kami.

Setelah mengisi perut dengan makanan enak (baca: indomie + nasi), malas rasanya keluar dari tenda setelah dihujani berjam-jam tadi. Mungkin karena sudah kecapekan, kami memilih untuk tidur. Malam kami lewati dengan meringkuk di dalam sleeping bag ditemani kelakar dan alunan nyanyian anak-anak Muaradua dari tenda sebelah.

Pengabadi matahari terbit.

Putih-putih berkabut di ujung sana itu kota Liwa.

05.30. Alarm ponsel ku berbunyi. Aku langsung membangunkan teman-teman. Saatnya keluar. Pagi itu, apa yang sebelumnya cuma dengar dari orang saja akhirnya bisa ku saksikan dengan mata kepala ku sendiri. Apa yang orang-orang bilang tentang bagaimana indahnya alam dari puncak Seminung benar-benar nyata. Inilah kali pertamaku mendaki gunung Seminung dan disuguhi pemandangan yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Luar biasa indahnya dari puncak sana. Sesekali awan melintas, seketika itu juga pemandangan jadi tak nampak. Benar-benar mistis sekali suasana pagi itu.

Misterius.

Bayangan gunung.

Tandus karena pernah terbakar.

Ismu, Aris, aku dan Dani yang punya wilayah.

Golden hour.

Model lain hotel bintang 5 milyar di pagi itu, pakai terpal, coy!

Jauh di sana.

Take nothing but picture.

Sekilas seperti danau Toba.

Pucuk tertinggi gunung Seminung.

Masih betah.

Lupa bawa gelas dan piring, pakai panci ini saja!

Sumber energi untuk menuruni gunung pagi itu, nasi + indomie goreng + ikan sarden + telor tak matang.

But first, let's take a selfie with me, folks!
Puas berfotoria, saatnya kembali ke tenda untuk mengisi energi dan berkemas. Ternyata pagi itu Pak Syahrin baru saja sampai mendaki untuk mengecek para pendaki, lalu mengajak semua para pendaki untuk turun bersama-sama.

Berkemas.

Pak Syahrin memberikan arahan untuk turun bersama-sama.

Macam pasar.

Rehat di rumah Pak Syahrin.

Kebun di kaki gunung Seminung.

Di kaki gunung, kanan kiri banyak kebun kopi dan lada.
Menuruni gunung selalu lebih cepat dibandingkan mendaki. Turun jam 10, kami pun tiba di pondok Pak Syahrin pada pukul 2 siang. Lalu dilanjutkan lagi dengan menuruni perkebunan warga menuju dermaga Way Panas selama 2 jam. Sayang kalau berada di Way Panas tapi tak mandi di pemandian air panasnya. Tempat pemandian Air Panas ini selalu ramai saat hari libur. Dulu, untuk sampai ke tempat ini harus menyusuri jalan setapak yang hanya bisa dilalui motor, namun sekarang, sudah bisa diakses dengan mudah menggunakan mobil.

Pemandian Air Panas, OKU Selatan.

Abis mandi di sini, badan gatal-gatal semua.

Tiba di dermaga Kotabatu, kami pun langsung menuju warung Mie Ayam Podo Moro untuk melunasi keinginan kami yang tak tercapai kemarin karena kehabisan. Setelah itu kembali menuju rumah Pak Syahrin untuk bermalam di sana dan kembali ke Bandar Lampung di keesokan harinya. Terpaksa, kami semua bolos bekerja, apa lagi Aris yang pada Senin itu dia menjadi Penanggung Jawab Ujian Sekolah di sekolah tempat dia mengajar.

Kapal pulang menuju dermaga Kotabatu.

Bersama teman-teman baru.

Sungguh pendakian kali ini adalah sebuah pengalaman yang sangat mengesankan, karena selain menguasai cara bagaimana menaklukkan diri sendiri, menjaga solidaritas dan sikap menghadapi apa yang terjadi di perjalanan, tentu juga karena berjalan bersama teman-teman segokil Ismu dan Aris.

Terima kasih, Mie Ayam Podo Moro.

Blogger Tricks

Jumat, 23 Maret 2018

Piknik Naik Kereta ke Kotabumi

Patung kereta pengantin di Taman Sahabat, Kotabumi.
Berkereta adalah salah satu dari banyak hal yang paling aku sukai jika bepergian. Bahkan selama di Jawa, aku sering melakukan perjalanan dengan berkereta. Sedangkan di Lampung, aku baru sekali naik kereta beberapa tahun yang lalu, dari stasiun Tanjung Karang, Bandar Lampung menuju stasiun Kertapati, Palembang.

Sebenarnya, naik kereta masih menjadi hal yang asing bagi sebagian besar masyarakat Lampung, mungkin hanya mereka yang di Bandar Lampung atau di beberapa daerah saja yang menggunakan transportasi massal ini. Dari 15 kabupaten dan kota, hanya 1 kota dan 4 kabupaten saja yang terhubung, seperti kota Bandar Lampung, Pesawaran, Lampung Tengah, Lampung Utara dan Way Kanan lalu berujung di Palembang. Sedangkan di kampungku, Liwa, di sana  tak ada kereta, adanya cuma kerita (dalam bahasa Lampung artinya sepeda). 😂

Ifa, Ola dan Winda: wajah-wajah yang baru ngerasain naik kereta 😁

Berawal dari niatku untuk mengajak salah satu member Rumah Inggris, Winda, yang ketahuan belum pernah sama sekali naik kereta. Sekalian aku juga mau coba berkereta dari Bandar Lampung ke Kotabumi, Lampung Utara. Di luar dugaan, ternyata ada banyak teman-teman Rumah Inggris yang juga pingin ikutan ke Kotabumi naik kereta. Mantap ini!

Tiket kami.

Pada hari Minggunya, pagi-pagi sekali kami sudah berada di stasiun Labuan Ratu untuk membeli tiket karena tiket hanya bisa dibeli di hari keberangkatan dan kereta berangkat pada jam 06.30 WIB. Dengan Rp10.000,- per tiketnya, kami berenam -aku, Okta, Loren, Ola, Ifa dan Winda- sudah bisa ke Kotabumi dengan menaiki KRD Seminung. Sebenarnya ada 2 teman lagi -Rafif dan Agung- yang mau ikut, sayangnya mereka datang terlambat, jadi mereka menyusul dengan menggunakan bis.

Menaiki kereta KRD Seminung
KRD Seminung
Suasana di dalam KRD Seminung.
Kereta KRD Seminung pun tiba, para penumpang berbondong-bondong menaiki gerbong kereta. Karena akhir pekan, kereta pun ramai dipenuhi oleh penumpang. Sebagian penumpang termasuk kami pun jadi harus berdiri tak kebagian tempat duduk, ada juga yang duduk di lantai dan sesekali harus berdiri setiap kereta menaikkan atau menurunkan penumpangnya. Kereta pun jalan, si Winda yang gak pernah naik kereta itu pun akhirnya pernah naik. Mission achieved!

Pemandangan dari jendela.

Anak-anak bisa bermain di kereta.


Selepas dari Bandar Lampung, pemandangan dari jendela mulai tampak menyegarkan, mulai dari sawah, sungai, perkebunan dan perkampung kecil, ditambah lagi karena masih pagi sekali, cahaya matahari membuat warna-warna alam di luar sana menjadi sangat menyegarkan.

Berlari.

Kereta babaranjang melintas.
Dari stasiun Labuan Ratu, KRD Seminung akan melewati 11 stasiun dan sesekali harus berhenti di stasiun yang berel ganda karena ada kereta yang memuat batubara atau babaranjang (batu bara rangkaian panjang) melintas, membawa batubara dari Muara Enim Palembang ke Tarahan Lampung.

Tiba di stasiun Kotabumi.

Sesampainya di stasiun Kotabumi, salah satu dari kami mengecek tiket pulang. Ternyata tiket kereta pulang bisa diperoleh siang hari. Kami berjalan kaki menuju Taman Sahabat untuk bertemu dengan 2 teman yang ikut ke Kotabumi dengan menggunakan bis. Sambil menunggu siang nanti, kami pun memutuskan untuk berkunjung ke rumah salah satu teman kami, Agung di Rejosari, sembari beristirahat, maklum cuaca pada hari itu terik sekali.

Salah satu masjid di Kotabumi.

Taman Sahabat, Kotabumi.

Taman Sahabat, Kotabumi.

Menjelang siang, waktunya membeli tiket di stasiun supaya bisa pulang dengan berkereta lagi. Apadaya, tiba di sana, tiket telah habis. Kereta lainnya untuk jurusan Bandar Lampung pun sedang bermasalah. Akhirnya, mau tak mau kami pun pulang dengan kendaraan alternatif, naik bis. Diantar oleh abangnya Agung, kami diantar ke loket bis Puspa Jaya, armada bis yang sering digunakan oleh masyarakat Kotabumi. Beruntung, walaupun ramai penumpang yang ingin membeli tiket bis, kami masih kebagian tiket untuk pulang. Mungkin sebagian dari mereka yang hendak menaiki bis hari itu sama seperti kami yang tak kebagian tiket kereta.

Patung penari berkostum baju tradisional adat Lampung.