Jumat, 31 Maret 2017

Menikmati Selimut Kabut dari Bukit Belakang Rumah

Kabut Liwa
Hampir setiap pagi saya dan adikku Vincent datang ke tempat ini untuk menikmati tebalnya kabut menyelimuti desa kami sejak sebelum matahari muncul dari balik barisan Bukit Barisan Selatan. Tak pernah bosan buat datang karena satu hal yang saya sadari semenjak tinggal dan besar di tempat ini adalah akan selalu ada hal menakjubkan dan berbeda untuk dinikmati di setiap harinya. Dan ini salah satunya. Banyak mereka yang lebih asik terlelap meringkuk diri di dalam selimut tebal karena udara di kampung halaman kami, Lampung Barat, sangat tekenal akan dinginnya. Apalagi saat malam datang hingga pagi menjelang bisa mencapai 17' C.
 

Mistis
Sering sekali pagi-pagi sudah dibangunkan adik untuk mengerjakan tugas rumah membuka warung dan menyiapkan dagangan. Setelah beres, segera kami tancap gas melaju ke atas bukit tepat jauh di belakang rumah kami. Kurang dari 15 menit bermotor, menembus kabut tebal hingga berada di atas permukaan kabut, menaiki perbukitan dan melintasi kebun sayur dan kopi, pemandangan menakjubkan seperti di dalam artikel ini pun langsung tersajikan di depan mata. Mati kantab!

Kamera Vincent merekam kabut, perbukitan dan gunung Seminung
Ada banyak tempat di Liwa yang bisa dikunjungi untuk menikmati tebalnya kabut yang menyelimuti Bumi Sekala Brak di pagi hari. Yang paling hits adalah Bawang Bakung di Negeriratu, Kembahang Tuha atau populer dengan sebutan Puncak Geredai. Namun sangatlah jauh untuk kami tempuh dari rumah. Kurang lebih sejam perjalanan.

Kabut menutupi bukit
Tak ada nama spesifik untuk nama bukit yang sering kami kunjungi ini, karena sebenarnya tempat ini adalah sebuah kebun milik warga Talang Bambu, Sedampah Indah yang lahannya menghadap langsung ke hamparan hijau Bumi Sekala Brak dan puncak gunung Pesagi. Asalkan datang dengan jaga sikap serta menjaga kebersihan, kami pun leluasa berjalan di tengah lahan yang sering ditanami sayur-mayur ini.

Vincent dan Okta

Seusai kabut menghilang, dari atas sini, hampir seluruh desa-desa dan kota Liwa mulai terlihat di kejauhan. Warna hijau masih mendominasi lansekap kampung halaman kami ini yang sebenarnya adalah daerah dataran tinggi yang mayoritas penduduknya adalah petani. Dalam jangka waktu setahun, berbagai macam tanaman bergantian ditanam di bukit ini sesuai musim dan harganya, seperti kubis, cabe, tomat, sawi, buncis, dll.

Kali keduanya menikmati kabut tebal

Semburat sinar matahari

Siluet Aris, Okta dan saya

Bumi Sekala Brak

A post shared by Siregar, Exaudio (@exaudiosiregar) on