Senin, 31 Oktober 2016

Menemani Mirko Buzzelli, Bule Itali yang Bersepeda Membelah Asia


"Bro, hari senin bakal ada bule sampai di Lampung, bisa gak jemput dia di Panjang pas siang kalau gak sore?"

Begitulah isi pesan whatsapp bang Firman si Blackbeans Sabtu lalu (22/10) yang tiba-tiba membuatku jadi sangat sumringah karena akhirnya aku bakal bisa ketemu pesepeda touring dari luar negeri.

Gimana enggak? Selama tinggal di Bandar Lampung, aku belum pernah berjumpa dengan "orang gila" seperti mereka Kenapa mereka kusebut orang gila? Karena mereka mau meninggalkan kehidupan normal mereka dan menghabiskan waktu bahkan sampai bertahun-tahun di atas sepeda untuk mengelilingi dunia. Gokil.

Setelah memperoleh kontak Mirko, si pesepeda touring dari UK itu, aku pun mulai menghubunginya untuk menanyakan posisi dan rencana perjalanannya beberapa hari ke depan. Pada hari Minggu itu dia sudah berada di kapal feri untuk menyeberang menuju pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan lalu beristirahat semalam dan akan melanjutkan kembali perjalanannya esok hari. Kami pun membuat janji untuk bertemu di daerah Panjang, Bandar Lampung.

Senin pagi jam 8 (24/10), handphone ku pun berbunyi, Mirko sudah sampai di daerah Tarahan, Lampung Selatan, tidak jauh lagi dari tempat kami akan bertemu. Luangan, geluk ikheh! Ku pikir dia bakal tiba siang atau sore nanti tapi ternyata dia tiba lebih cepat dari yang ku kira. Aku pun bergegas menyusulnya ke Panjang tempat kami akan bertemu. Bang Firman pun mengabariku kalau dia tak bisa ikut menjemput karena dia sedang dalam pekerjaan menyelesaikan gerobak dagangannya.

Mirko Buzzelli adalah seorang Italia yang telah lama tinggal di London, United Kingdom. Dia berniat untuk bersepeda mengelilingi Asia yang dimulai dari Bali sampai ke Jepang. Jadi, berdasarkan perhitungan Mirko, dia akan menyelesaikan perjalanannya sampai setahun ke depan! Leluangan.

"Kokpit" sepeda Mirko.

Sebelum tahu kalau dia seorang Italia, pikirku bakal seru nanti bisa bercakap-cakap dengan seorang British. Ternyata tidak, Mirko menggunakan bahasa Inggris Amerika dengan aksen bicaranya yang membuatku jadi ingat pembalap motoGP terkenal. Oh, iya! Valentino Rossi! Dia berbicara seperti Valentino Rossi. Hahaha, senang sekali aku waktu itu bisa berjumpa dan bercakap-cakap bahasa Inggris dengan dia. Walaupun sebenarnya ada beberapa percakapan yang gak dimengerti karena kadang dia bercerita terlalu cepat. Jadi, aku yes-yes-in aja, hahaha..

Teman berpetualang Mirko.

Setelah berkenalan secara langsung, hal pertama yang diminta Mirko adalah mengantarkannya ke tempat untuk membeli kopi. "Can we get good coffee here? I need a lot of coffee!", katanya. Dia tahu bahwa tempat dia berada sekarang adalah tempat dimana kopi terbaik bisa ditemukan. Kopi Robusta Lampung. Pikirku, "Ah, pasti bang Firman yang ngeracunin dia pas di Malang nih". Pas sekali, aku juga lagi butuh asupan kafein.

Singgah di kedai Flambojan.

Kami pun mulai mengayuh sepeda menuju seputaran Enggal. Dalam setengah jam, kami tiba di salah satu kedai kopi yang sudah sering kukunjungi, yaitu Flambojan. "This place looks like the coffee shops in my place. I thought the shop was like warung in Java.", begitulah kesan pertama Mirko mengunjungi Flambojan, sebuah kedai kopi di Bandar Lampung dengan konsep take away coffee shop, tapi hari itu kami minum di tempat saja.

Banyak pilihan cara seduh yang ditawarkan oleh juru seduh Flambojan, namun Mirko memilih kopi tubruk. "I'm in Indonesia right now, so I'm an Indonesian right now, I wanna drink coffee like Indonesian people", begitulah sahut si Mirko kepadaku. Jadilah waktu itu kami menikmati secangkir kopi robusta Liwa dengan cara seduh khas orang Indonesia, tubruk.

Mirko di Flambojan.

Puas menikmati kopi terbaik dari Lampung, kopi Liwa, kami pun melanjutkan perjalanan menuju bengkel las Art Metal Studio milik Mas Bangun di Tanjung Senang. Di sana, bang Firman sudah menunggu kami sambil membangun gerobak Burger Bakar Patty-nya. Sebenarnya Mirko dan bang Firman sudah pernah bertemu di rumah singgah pesepeda sewaktu di Malang, Jawa Timur beberapa minggu yang lalu. Saat itu Mirko tiba dari Bali dan bang Firman tiba dari Lampung setelah hampir 3 minggu menjelajahi jalanan di pulau Jawa.

(Baca juga: Pesta Sekura, Helloween ala Indonesia)

Tiba di Art Metal Studio, Mirko pun langsung dijamu makan siang oleh bang Firman, sederhana, namun dia senang sekali karena diberi makanan khas Jawa, pecel. Hahaha, dia suka dengan makanan itu karena bumbu kacangnya. "Are you a vegan?", tanyaku. "No, is there any meat here?", tanya Mirko. "No, it is a Javanese food called pecel. There are some vegetables, peanut sauce, and overcooked rice or lontong. Pecel is a delicious food which is very cheap we can find". Lalu Mirko menjawab dengan sangat yakin, "Yes, of course, that's why if I'm hungry, I prefer to look for warung than a restaurant. The food is very cheap!". Itulah salah satu percakapan kami saat sedang beristirahat di Art Metal Studio mas Bangun. Sesekali Mirko mengeluarkan candaan yang cukup kami mengerti sama yang dia bilang. Katanya, "I was scared when I knew that your name is Dio. When I just arrived at Bakauheni port, I thought that I was going to meet God". Mas Bangun bertanya kenapa. Lalu Mirko menjawab dengan ekspresi khas bulenya, "Yes, sure, because Dio, I mean Dios in Spanish means God."

Singgah di Art Metal Studio-nya Mas Bangun.

Usai cukup lama mengobrol di Art Metal Studio siang itu, kami pun mengajak Mirko untuk singgah ke Keiko Bahabia. Kebetulan bang Firman ada urusan dengan salah satu juru seduh di sana, bang Kutu Bocah. Siapa kira, kami gak nyesel ajak Mirko ke kedai ini. Dia cukup terkesan dan senang berada di kedai itu. Katanya di negaranya jarang atau bahkan tak ada kedai kopi dengan lukisan mural kreatif dan nyeleneh seperti kedai yang satu ini. Apa lagi gambar-gambarnya dibuat oleh si juru seduh kedai itu sendiri. Mungkin jika selama ini cafe atau kedai kopi yang dia pernah singgahi atau yang di negaranya selalu dilengkapi dengan wifi di sini tidak. "Sorry no wifi, talk to each other", baca si Mirko sambil tertawa. Ia pun mondar-mandir menikmati gambar dan foto-foto pariwisata provinsi Lampung yang juga dipajang di Keiko Bahabia.

(Baca juga: Perjalanan Bersepeda Membelah Bumi Sekala Brak)

Memperhatikan juru seduh Keiko Bahabia menyeduh kopi.

Sore itu pun kami habiskan dengan mengobrol santai dengan Mirko sambil menunggu teman-teman Warmshowers Indonesia menjemput Mirko untuk membawanya ke rumah singgah. Banyak hal yang kami obrolkan di sana hingga tak terasa sudah banyak juga kopi yang Mirko habiskan pada hari itu, dan dia terlihat sangat menikmatinya. Sampai aku penasaran dan bertanya, "Will you sleep tonight? You've really spent a lot of coffee". Dengan ekspresi khas bulenya, Mirko menjawab, "It's okay. At least, I can enjoy some great coffee in here for free. And there is no bule price". Seketika itu kami pun tertawa setelah Mirko mengucap bule price (harga untuk pengunjung internasional).

Mirko meminta aku dan teman-teman yang dijumpainya untuk mengenakan topinya, lalu ia foto.

Menjelang malam, bersama-sama teman Warmshowers, kami pun menuju rumah singgah untuk pesepeda touring. Warmshowers adalah sebuah organisasi yang menyediakan tempat singgah dan informasi bagi pesepeda touring lokal atau pun luar. Tak hanya di Lampung, Warmshowers tersebar di berbagai kota yang sering dilintasi oleh pesepeda touring di seluruh Indonesia.

Banyak cerita yang kami dapatkan dari Mirko selama perjalanannya di Indonesia, tepatnya saat di pulau Jawa. Sebagian ceritanya itu membuat kami tertawa, mungkin Mirko memang suka bercanda seperti seorang komik, dia bercerita tentang kisahnya dan cerita-ceritanya bisa membuat pendengarnya tertawa. Di Probolinggo, ponselnya pernah terjatuh dan saat akan diambil ada truck besar yang juga melintas lalu seketika itu pula ponselnya terlindas. Pernah juga ia membeli bakso di warung tenda di tepi jalan, lalu ia dibohongi dengan harga bakso Rp 500.000,- /mangkok, lantas Mirko tak terima dan hanya meninggalkan Rp 30.000,- saja di warung itu. Mirko sangat senang berada di Indonesia, berada di Indonesia dia merasa seperti seorang "a famous rockstar", katanya, seperti bule kebanyakan, banyak orang yang memanggilnya demikian saat bersepeda dan banyak pula yang meminta padanya untuk foto bersama. Dia sangat suka makan di warung. Dia bisa memilih dan menyantap makanan enak dengan harga yang sangat murah baginya.

Sarapan nasi uduk di Kemiling. "I prefer to eat in warung, it's very cheap", kata Mirko.

Foto bersama sebelum Mirko melanjutkan perjalanan menempuh Pesisir Barat Lampung.

Esok harinya, pagi-pagi, aku dan bang Firman pun menemani Mirko sampai ke perbatasan kota, Kemiling. Dia menargetkan bisa menempuh Kota Agung Tanggamus, atau jika hari masih terang dia bisa menginap di masjid Imaduddin pekon Semaka (rest area sebelum melintasi belantara Taman Nasional Bukit Barisan Selatan) lalu perjalanan keesokan harinya melintasi Pesisir Barat Lampung hingga ke Bengkulu.

(Catatan: Setelah dari sini, janggutku pun kucukur habis)

Jumat, 21 Oktober 2016

Mengunjungi Air Terjun Curug Gumawang Serang


Perihal menghadiri undangan pernikahan mantannya temannya di masa SMA, Okta pun mengajakku untuk bertolak ke kota yang terkenal dengan seni beladiri debus dan pantai Anyernya, yaitu Serang, provinsi Banten. Di hari yang sudah kami tentukan, kami pun berangkat menggunakan motor kesayanganku dan selama di sana kami sempat menginap di pondok pesantren tempat Okta menyelesaikan masa aliyahnya sebagai santri.

Wadah informasi tentang Curug Gumawang di dunia maya

Sebenarnya tak ada referensi destinasi yang tercatat selama ini jika seandainya pergi ke Banten, kecuali pantai Anyer. Itu pun ku tau karena sudah sering sekali ku dengar di kalangan pesepeda di Lampung yang sudah pernah atau berencana bersepeda jarak jauh, dan lagi-lagi pantai itu sering menjadi destinasi bersepeda. Jadi berhubung selama ini juga hanya di Lampung saja, sekali-kali berakhir pekan di luar kota gak kenapa-kenapa, kan.

Mbak dan sepupu-sepupunya Okta yang ikut ke curug

Seusai menghadiri undangan pernikahan, kami pun berencana untuk pergi. Belum tau mau kemana, bersyukur waktu itu ada sepupu Okta yang mau menemani kami berkeliling, Adam namanya. Adam bilang, "Kita pergi ke Curug Gumawang aja ya, A". Tanpa banyak tanya kami ikut saja.

Setelah setengah jam menempuh jalanan desa, kami pun tiba di desa yang lumayan jauh dari tempat kami menetap, desa Padarincang namanya. Dari desa itu, kami menempuh lagi jalan kecil sampai ke tempat yang disediakan untuk memarkirkan motor. Dari sana, kami harus berjalan kaki lagi. Cukup seru dan berisik waktu itu karena tak hanya kami bertiga, Okta juga mengajak mbak dan sepupunya untuk turut serta. Bisa dibilang mereka sedang reuni setelah cukup lama tak berjumpa.

Menyeberangi sungai

Menuju curug ini ternyata tak sulit, setelah menyeberangi sungai, perjalanan pun dilanjutkan dengan menyusuri jalur di kaki bukit tanpa harus melalui tanjakan atau turunan yang berarti. Banyak sekali pohon tangkil yang bisa dijumpai di jalan. Baru ingat, ternyata Okta pernah bilang kalau di Serang kulit tangkil memang sudah menjadi bahan utama jajanan khas di sana. Kulitnya sering diolah menjadi keripik.

Anak-anak Mengkuliti tangkil

Keripik Kulit Tangkil yang dijual di sekitar curug. Harganya Rp 1000 doang!

Setelah berjalan kaki 15 menit lamanya, akhirnya derasnya curug Gumawang pun terlihat. Sudah ada banyak orang yang sedang foto-foto atau mandi di bawah curug. Oiya, lupa kalau hari itu adalah weekend. Sebelum masuk ke curug, kami telah membayar tiket dua kali dengan harga per tiket Rp 5000,-. Cukup membingungkan bagi saya, kenapa gak sekalian 1 tiket seharga Rp 10.000,- saja?

Curug Gumawang

"Nah, ini namanya curug Gumawang, A. Tingginya sampai 40 meter. Gak cuma dari Serang, orang Jakarta juga sering datang ke sini", kata Adam. Sama seperti Lampung, ternyata ada banyak curug yang bisa dijumpai di Banten, dan curug ini adalah salah satunya yang sering dikunjungi karena aksesnya yang mudah. Curug Gumawang atau Cigumawang berada di desa Padarincang, kabupaten Serang, Banten. Curug ini bisa ditempuh kurang lebih 1,5 jam menggunakan kendaraan pribadi dari Serang kota. Nama Gumawang sendiri berasal dari bahasa Sunda "bawang". Masyarakat sekitar pun menamai demikian karena derasnya aliran curug terlihat seperti bawang.

Sampah-sampah pengunjung dikumpulkan di sini

Ada toilet atau ruang ganti

Pondok-pondok di sekitar curug
Menurut masyarakat sekitar yang berjualan di sana, curug ini biasa digunakan untuk kegiatan olahraga panjat tebing, berkemah dan outbound. Konon, air di curug ini pun dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan jika sepasang kekasih datang ke tempat ini diyakini bisa jadi berjodoh, katanya.

Curug kecil di sekitar air terjun
Puas memandang, mengambil gambar sambil makan keripik tangkil atau mandi-mandi di bawah curug, kami pun bergegas pulang karena hari semakin gelap. Tak lupa, kami membeli cukup banyak keripik tangkil yang dijual di sana sebagai oleh-oleh buat teman-teman di Lampung, biar mereka bisa cicip juga, soalnya di Lampung gak ada, hehe. Walaupun hanya sebentar di Serang, akhirnya kami sempat mengunjungi tempat yang kata Adam adalah salah satu tempat hits di Banten. Kan lumayan buat bahan postingan blog.

Jauh-jauh dari Lampung harus foto di sini juga, geh

Curug Cigumawang atau Gumawang, Padarincang, Serang, Banten

Sabtu, 17 September 2016

Ada Teropong Laut di Muncak

 

Kemarin pagi tumben-tumbennya saya bisa bangun lebih pagi dari biasanya. Pokoknya rekor bangun terpagi untuk bulan ini. Padahal, selama ini saya lebih suka menikmati sejuknya udara pagi Bandar Lampung dengan cara leyeh-leyeh di kasur kostan tercinta yang sebentar lagi masa kontraknya bakal habis. Mungkin karena keberadaan kamera si Vincent di kostan telah memotivasi saya untuk bisa bangun lebih pagi dan pergi bersepeda, mungkin.

Rumah dalam Teropong Laut Muncak.

Teropong Laut Muncak menjadi tujuan saya bersepeda pagi itu. Teropong Laut itu berada di puncak bukit Tirtayasa, desa Muncak, kecamatan Teluk Pandan, kabupaten Pesawaran. Walaupun berada dalam wilayah Pesawaran, spot yang menurutku ajib banget ini dominan dikunjungi oleh pengunjung dari Bandar Lampung karena letaknya yang sangat dekat. Kenapa ajib? Dari Muncak kita bisa menikmati pemandangan kota sekaligus alam dari tempat tinggi, juga semakin keren dan menarik karena disediakan banyak balkon atau viewing point ala ala di Kalibiru, Yogyakarta.

Desa Muncak, bukit, hutan dan gunung Betung.

Teropong Laut adalah sebuah kafe kecil yang dibangun di puncak bukit Tirtayasa. Iya, namanya Teropong Laut Muncak. Teropong Laut yang ada di Muncak. Mungkin karena dari sana kita bisa menikmati hijaunya perbukitan, pesisir, pulau-pulau juga birunya teluk Lampung yang luas atau mungkin juga nanti di tempat itu benar-benar disediakan teropong laut macam di Menara Siger, Bakauheni. Mungkin sih, lupa nanya, hehehe

Dorong.

Dibuka semenjak lebaran kemarin, tempat ini mendadak masyur di seantero jagat maya terutama instagram karena spotnya yang instagramable banget. Sampai pernah kata kawan, "Belum hits kalau belum ke sini". Hampir setiap hari tempat ini ramai dikunjungi dari yang muda sampai yang tua untuk berkumpul, bersenang-senang dan berfoto-foto ria.

Nanjak terus, tek.
 
Sebenarnya sudah lama sekali berencana untuk bersepeda menuju Muncak, malah sejak sebelum Teropong Laut dibangun dan sebelum Muncak terkenal seperti sekarang ini. Hanya saja, setiap punya kesempatan, kawan yang biasa saya ajak bersepeda malah ogah karena ragu dengan tempatnya. Saya pun jadi ogah juga karena gak ada kawan. Ya, di kalangan pesepeda di Bandar Lampung, desa Muncak menjadi salah satu rute bersepeda yang wajib dikunjungi karena tanjakannya pemandangannya yang aduhai. Selain itu, dari desa Muncak, kita juga bisa menuju kota Hanura atau desa Umbul Kunci via jalan desa dengan jalan bebatuan. Jadi, yang mau bersepeda downhill atau cross country, bisa banget.

Berenti dulu, ngumpulin nafas.

Berangkat jam setengah 6. Pikir saya desa Muncak bisa ditempuh dengan bersepeda dalam sejam dan ternyata perkiraan saya benar. Saya tiba di desa Muncak jam setengah 7. Setengah jam bersepeda menempuh simpang Muncak, setengah jamnya lagi tegambuy menaklukkan tanjakan desa Muncak. Mandi Keringat. Sendirian. Kantab.

Balkon-balkon tempat berfoto atau menikmati pemandangan diluar Teropong Laut.

Puas beristirahat dan mengambil gambar di atas balkon-balkon yang tersebar di penjuru bukit (di luar area Teropong Laut). Sebenarnya untuk naik ke balkon diharuskan membayar sesuai tarif yang tertera, cuma karena mungkin masih pagi dan tak ada penjaganya, saya jadi naik turun balkon sesuka hati, hahaha. It's the power of nyubuh.

Depan Teropong Muncak. atau Munca. Sama saja.

Tak jauh dari tempat saya mengumpulkan nafas tadi, dorong dikit, akhirnya sampai di gerbang Teropong Laut Muncak dan langsung disambut oleh para pengelola tempat yang sudah standby di pintu masuk. Dengan tarif lima ribu rupiah, kita sudah bisa masuk dan foto-foto dimana pun kita mau. Mereka heran melihat saya bersepeda sendirian karena biasanya selama ini yang bersepeda ke tempat ini selalu bersama rombongan atau komunitas. Ramah sekali, mereka langsung menyarankan saya untuk menaruh sepeda di balkon utama yang sudah tak asing lagi saya lihat di media sosial. "Sepedanya taruh di balkon sana aja, Bang. Kasian sepedanya udah capek tuh.", saut salah satu penjaga dengan logat Sunda. Yaelah, yang abis keringetan siapa, mang?

Karena masih sepi, sepedanya boleh ditaruh di balkon utama.
Bersyukur bisa sampai ke tempat ini pagi-pagi dan cuacanya cerah sekali. Saya adalah pengunjung pertama Teropong Laut hari itu. Menurut pengelola, biasanya tempat ini akan mulai ramai dikunjungi sejak siang sampai malam tiba. Sehingga banyak dari balkon-balkon yang tersedia dipasang waktu maksimum bagi pengunjungnya untuk berfoto agar bisa bergantian dengan rombongan pengunjung lainnya. Teropong Laut Muncak pun ternyata memiliki jam operasional dari jam 6 sampai 8 malam.
Penjaganya ramah nih, nawarin diri bersedia motoin saya yang masih tegambuy dan mandi keringat ini.

Kopinya juga enak.

Salam tikhamku diniku (Salam rinduku padamu), ahahai de.


Salah satu balkon di dalam area Teropong Laut Muncak.

Balkon dan pemandangannya.


* * *
Sebelum ramai seperti saat ini, sebenarnya saya sudah sering datang ke desa Muncak dengan bermotor bersama teman-teman kuliah. Tempat ini menjadi salah satu daftar tempat yang bisa dikunjungi untuk melepas penat dari tugas perkuliahan tanpa harus membayar mahal. Hanya saja kami lebih sering datang ke puncak bukit di sebelah bukit Teropong Laut Muncak.

Saya dan kawan menyebutnya Kafe Muncak.

Di puncak bukit yang sering kami kunjungi itu hanya berdiri satu rumah dan beberapa pondok. Teman saya Okta menyebutnya Kafe Muncak (walaupun sebenarnya hanya sebuah rumah dengan beranda yang cukup luas). Jika Teropong Laut menawarkan pemandangan kabupaten Pesawaran dan laut teluk Lampung, dari kafe ini kita bisa menikmati panorama hijaunya perbukitan dan kota bandar Lampung. Jika ke sini, cukup membayar tiga ribu rupiah saja untuk parkir motor dan lima ribu rupiah untuk parkir mobil. Makanan dan minuman di sini juga bisa tinggal ambil, pulangnya baru bayar. hehehe.

Beranda Kafe Muncak.

Pemandangan Kota Bandar Lampung dari Kafe Muncak.

Tempat favorit untuk santai.

Pemandangan terbaik dari sini ada di waktu malam.

Rabu, 31 Agustus 2016

Menjelajah Semarak Budaya Festival Krakatau Lampung

Topeng menjadi tema dalam Jelajah Semarak Budaya di Festival Krakatau 2016

Sore itu matahari bersinar sangat cerah di lapangan Saburai. Dari sana akan menjadi titik mulai parade budaya hari itu, Minggu, 28 Agustus 2016 dan berakhir di tugu adipura atau biasa disapa tugu gajah oleh masyarakat Bandar Lampung.

Penari naga

Pemusik dan penari naga

Tak jarang banyak dari para peserta parade yang sepertinya sejak siang sudah berdandan sampai sikop (cantik) itu mencari tempat untuk berteduh sambil menunggu parade dimulai. Sesekali mereka berpose atau cuma senyum lantaran sadar ada kamera yang sedang fokus ke arah mereka.

Gitapati.

Berteduh

Peralatan memotret sudah siap. Rasanya senang betul Vincent mau meminjamkan kamera DSLR kerennya itu. Maklum saja, sebenarnya sekarang aku sudah jadi seorang cameraless karena kamera mirrorless yang biasa menemaniku 2 tahunan ini terpaksa pensiun dini sehabis diterjang ombak besar samudra Hindia di pantai Mandiri, Pesisir Barat lebaran kemarin. Sedihlah pokoknya. Bikin patah hati juga. Jadi bersyukurlah aku karena masih ada yang tetap menghiburku walau ku tak bersamanya eh, jadi baper. Maksudnya si Tius mau pinjamkan kamera dan lensa-lensanya yang keren itu. Yaaa walaupun sebenarnya karena waktu itu dia gak bisa menyaksikan parade dan lagi butuh sepedaku untuk persiapan propti di kampusnya. Cie, maba. Makasih banyak ya, beruntung kau jadi kuliah di Unila.

Pahar, wadah makanan raja yang biasa dibawa oleh ibu-ibu.

Pokoknya ku senang, akhirnya bisa ikut menyaksikan lagi acara puncak Festival Krakatau yang sebenarnya di tahun-tahun sebelumnya parade budaya ini lebih akrab dengan sebutan Tapis Carnival.

Topengnya unik.

Diambil dari nama gunung api di Selat Sunda yang sangat terkenal karena letusannya yang dahsyat hingga menggetarkan seantero bumi tepat 133 tahun lebih satu hari silam, 27 Agustus 1883. Ya, pasti kamu tau kan gunung apa namanya? Sekarang, Festival Krakatau menjadi perhelatan unggulan provinsi Lampung sebagai ajang promosi kekayaan budaya dan pariwisata Lampung. Kalau gak salah dari tahun 1991 sampai sekarang. Tapi sayang gak seribu sayang, 4 kali sudah ku menyaksikan sajian acara Festival Krakatau, aku belum pernah kunjung mendaki gunung Anak Krakatau yang legend itu. Mungkin nanti, suatu hari lagi, hehehe

Gajah-gajah yang didatangkan langsung dari Taman Nasional Way Kambas.

Ada banyak yang berbeda di Festival Krakatau tahun ini. Semua rangkaian acara sejak 25-28 Agustus itu bertemakan Jelajah. Seperti Jelajah Pasar Seni atau pameran seni dan fotografi di Mall Boemi Kedaton, Jelajah Layang-layang atau festival layang-layang (internasional lho, diikuti 4 negara) di Stadion Sumpah Pemuda Way Halim, Jelajah Rasa atau wisata kuliner di Lapangan Saburai, Jelajah Krakatau atau mendaki Gunung Anak Krakatau, dan Jelajah Semarak Budaya sebagai puncak dari festival tersebut.
 
Adek-adek manis bertopeng.

Seluruh rangkaian acara jelajah tahun ini pun lebih fokus diadakan di ibukota provinsi, kota Bandar Lampung. Tak seperti di tahun-tahun sebelumnya yang mengusung acara dan kompetisi di berbagai daerah di Lampung seperti kompetisi selancar di pantai Tanjung Setia Pesisir Barat, pesta pantai di Pesawaran, menyelam di teluk Lampung, bike explorer di Lampung Selatan, lomba baca puisi, dsb.
 

Ternyata gak cuma tentang rangkaian acara yang berbeda, tema pawai budaya Festival Krakatau kali ini juga berbeda dibanding tahun sebelum-sebelumnya, semua peserta memakai topeng. Iya, semua peserta parade pada bertopeng. Wah, padahal biasanya cuma kabupaten Lampung Barat dan Lampung Selatan saja deh yang selalu tampil atau memiliki kebudayaan tentang topeng sampai sekarang pikirku, tapi kali ini hampir semua peserta pawai memakai topeng kreasi dearahnya masing-masing. Wah, kalau kata bapak Wakapolda Lampung Krishna Murti: "Lampung Kece!"

Penari kipas bertopeng.

Loh, kok tumben topeng? Kenapa kok temanya topeng? Biasanya tapis atau gak siger? Okelah, jawabannya.. Sudah liat kostum kontingen Indonesia di pembukaan olimpiade di Rio kemarin kan? Gimana respon warga dunia yang menyaksikannya? Terpesona kan? Berarti, intinya Tapis dan Siger sudah go international, tik. Gokil kan. Jadi, sekarang saatnya membawa budaya Lampung yang lainnya supaya bisa dikenal oleh orang banyak.
  
Peserta pawai dari Sekolah SMA YP Unila.

Bicara soal topeng, Lampung punya budaya dan sejarah tentang topeng yang menurut ku punya keunikan tersendiri dibanding budaya topeng dari daerah lain, yaitu Sekura dan Tupping.
  
Menari tari Sekura.

Sekura atau Sekuraan (orang yang menggunakan topeng) adalah kebudayaan asli Lampung Barat yang lahir sebagai bagian dari sejarah masuknya agama Islam ke bumi Sekala Brak. Sekuraan biasa digelar saat hari raya Idul Fitri dari hari lebaran pertama hingga hari keenam secara bergiliran dari satu pekon (desa) ke pekon lainnya. Terlihat seperti lingkup teater luar ruang, dari anak-anak hingga orang dewasa berdandan menjadi sekura kecah dan kamak, lalu berkeliling desa, berbaur, bersilaturahmi dengan orang asing, kawan ataupun sanak saudara. Mereka bersenang-senang layaknya merayakan hari kemenangan. Selengkapnya: Pesta Sekura, Halloween ala Lampung Barat.

Tupping dari Lampung Selatan. Yang putih namanya Mata Sipit, katanya.

 Ada sekura, ada lagi namanya tupping, walaupun arti katanya sama, sekura dan tupping memiliki fungsi yang berbeda. Tupping berkembang sebagai aksesoris penting di daerah Kalianda, Lampung Selatan untuk dikenakan oleh pendekar atau pengawal raja pada masa itu. Berbeda dengan sekura yang siapa saja boleh menjadi sekura, ada 12 tupping dengan 12 karakter berbeda yang dianggap memiliki nilai sakral yang tinggi, jadi gak sembarang orang boleh memakainya. Misalnya di daerah Kuripan, hanya orang yang memiliki garis keturunan tertentulah yang boleh memakai tupping tersebut. Sedangkan di daerah Canti, tupping hanya boleh dipakai oleh pemuda yang berusia 20 tahun. Pada saat ini, tupping lebih sering ditampilkan sebagai drama tari kepahlawanan dalam acara adat, prosesi pernikahan atau acara resmi lainnya.

Sekura atau tupping, hayo?

Memakai topeng bertuliskan aksara Lampung.

Wii, nyak tipoto. (Wi, saya difoto)

Senyummu, dek :3

Salah satu aksi peserta parade.
   
Garuda.

Senyum peserta pawai dari Tulang Bawang Barat.

Pengantin perempuan adat Pepadun bertopeng.

Adek kecil dari Tulang Bawang Barat ini juga gak mau kalah tampil kece dalam parade.

Pemusik bertopeng dari kabupaten Lampung Utara

Gak cuma orangnya, tongkatnya juga bertopeng.

Ibu bapak petani juga bertopeng.

Topeng-topeng yang mirip seperti di film Hush.

Ternyata V for Vendetta juga ikut meramaikan parade.

Suasana pawai di depan Lotus, Radin Intan.
* * *
Kok pada pakai topeng semua?
Ada yang gak pakai topeng gak?
Ada, nih..

Peserta pawai dari kota Bandar Lampung

Peserta pawai dari kabupaten Pringsewu.

Peserta pawai dari kabupaten Pringsewu juga.

Perwakilan kabupaten Pringsewu juga lagi.

Peserta dari Pesisir Barat yang baru saja memecahkan rekor Muri dan dunia: Membawa 1000 pahar.

Pengantin perempuan dengan pakaian adat Lampung Pepadun. Pengantin lakinya mana, kak?

Pengantin Lampung adat Saibatin dari kabupaten Pesisir Barat, ciee, diarak di kota.

* * *
Di setiap parade budaya Festival Krakatau, hal pertama yang pasti bakal ku cari lebih dulu adalah rombongan pawai dari tempat asalku, Lampung Barat atau Liwa. Iya, siapa tau ada yang kenal aku atau aku kenal meraka, hahaha

Kontingen Lampung Barat, sebut saja Rojali (Rombongan Jak Liwa).

Kali ini Lampung Barat menampilkan keunikan budaya khasnya dengan nuansa Pesta Sekura yang biasa diadakan saat hari lebaran. Mereka semua tampil sebagai sekura kamak dan sekura kecah, cewek-ceweknya juga berpenampilan sekura kecah, jadi gak keliatan wajahnya. Mereka juga membawa alat musik tabuh hadra dan beberapa membawa buah (pinang berhadiah) juga, lho. Tentu dalam bentuk yang praktis supaya mudah dibawa dalam pawai.
 
Bapak ini tetanggaku di Liwa.
 
Bima dan Donara, Mekhanai dan Muli (bujang dan gadis) Lampung Barat.

Pasukan sekura kecah.

Pasukan sekura kecah lagi.

Menjaga barisan.
 
Sekura kamak sedang santai.

Trio sekura kamak ini menjadi manusia bertopeng paling kocak di parade.

Sepanjang parade, tingkah lucu dan usil para sekura itu pun selalu mengundang tawa dari para penonton yang memperhatikannya, ada juga beberapa anak atau orang dewasa yang takut saat didekati oleh sekura kamak. Di penghujung acara, Lampung Barat berhasil meraih juara 1 dalam parade Jelajah Semarak Budaya Festival Krakatau. Keren, kan! Hanggum nyak uy ;)

Sebenarnya ini lagi iseng.

* * *
Di Jelajah Semarak Budaya Festival Krakatau itu juga, aku terpesona dengan band pengisi musik di acara tersebut. Mereka tampil dengan mengkombinasikan alat musik trandisional dan modern. Apa lagi kolaborasi antara 2 drummer band tersebut. Gokil! Gak sulit untuk melihat para penonton yang sepertinya juga terhanyut menikmati alunan musik sambil menggoyangkan kepala sesuai ketukan musik yang mereka mainkan.

Pokoknya band pengisi musik acaranya, keren!

Duo drummer-nya juga gokil!

Trio Sekura Kamak dari Liwa ini saja jadi 'mak nahan' buat goyang.

Dan di penghujung acara, panitia parade membagikan lagi topeng-topeng yang tersedia kepada pemerintah, tamu dan warga yang menyaksikan. Tebakan ku benar. Parade budaya kali ini ingin memecahkan rekor. Jelajah Semarak Budaya Festival Krakatau tahun ini menjadi semakin semarak karena berhasil memecahkan rekor Muri dan dunia dengan predikat acara dengan topeng terbanyak. Kira-kira ada 1500an orang memakai topeng di parade itu. Uwaw, Lampung keren!

* * *

Selfie kece bersama Mas Danel dan Wakapolda Lampung, Krishna Murti.

Bersama Hamish Daud yang sedang shooting The Nekad Traveler Movie.
Jujur, pas minta selfie cuma tau kalau intinya Hamish Daud itu artis, sebelumnya gak tau kalau dia itu Hamish Daud yang ternyata salah satu presenter My Trip My Adventure juga, huehehe, maklum gak pernah nonton tv.
* * *