Selasa, 22 September 2015

Mendaki dan Melintasi Puncak Pesagi Lagi

Pekon Serungkuk
Tepat 2 minggu yang lalu kami mendaki puncak Pesagi (2.231 mdpl) lagi. Kali ini bersama 2 teman kuliah saya Ariswanto (sekarang sudah menjadi ketua Mapala dan menjadi pemimpin pendakian kami. baca dulu: Mendaki Gunung Pesagi, Puncak Tertinggi di Lampung) dan Okta (baru coba-coba naik gunung), serta seorang senior Mapala STKIP PGRI Bandar Lampung dan seorang siswa mapala yang sedang diberi pendidikan dasar. Perjalanan yang tepat, sebelum menghadapi perangkat pembelajaran untuk praktek mengajar di sekolah, hahaha

Kali ini kami mendaki -masih- melalui rute Serungkuk-Hujung dalam waktu tempuh lebih kurang 8 jam. Kami mendaki dalam kondisi masih musim kemarau panjang, sehingga sumber air yang kami lewati pun sedikit airnya yang mengalir, bahkan kami membuat stok air khusus hanya untuk di puncak dan pulang.

Setelah sampai di Puncak, kami tidak mendirikan tenda karena di sana telah tersedia gubuk  yang terbuat dari seng. Tak banyak kegiatan yang kami lakukan di puncak selain selinggoman piyu (selimutan/sarungan) karena sedang angin kencang, sambil marok (ngobrol) bersama seorang pendaki dari Kotabumi sambil memperhatikan bulan penuh dan lampu-lampu yang berkelap-kelip di bawah kami.

Seninnya (31/8) setelah puas menikmati matahari terbit dan berfoto ria, kami pun pulang melalui jalan belakang mushola, jalur Bahway. Ini adalah kali pertama kami menuruni puncak melalui jalur Bahway juga dengan informasi yang tidak memadai soal lintasan, kesulitan hingga sumber air.
Dan ternyata persediaan air kami kurang dari setengah liter!
Cukup?
Enggak!
Track Bahway di dominasi dengan jalur yang bagian kanan kirinya dibatasi tebing, sehingga kita berjalan sambil melihat indahnya pemandangan bumi Sekala Brak sampai ke danau Ranau dan Seminung-nya. Kami pun menuruni Pesagi perlahan tapi pasti dengan persediaan air yang sangat menipis. Kurang dari setengah liter buat 6 orang, cuy.
Tau bagaimana kami mengirit air kami?
Yak! Captain kami Aris membuat kebijakan, kami hanya dijatah minum air sebanyak 2 tutup botol.
Begitulah terus sampai kami menuruni puncak dan bertemu shelter post 3. Awal bertemu, senang sekali rasanya karena akhirnya bakal bisa melepas dahaga yang telah tertahankan selama 6 jam. Namun takdir berkata lain #tsaaah. Sumber air yang kami datangi, KERING! Akhirnya, kami pun terus berjalan turun tanpa air, hebat kan, hahaha. Banyak makanan tapi gak bisa apa-apa karena tetap butuh air.

Singkat cerita, setelah 2 jam turun tanpa air, akhirnya kami keluar dari gerbang rimba dan disambut oleh perkebunan kopi milik warga pekon Bahway, dan bersyukur pemilik kebun belum pulang dari kebunnya. Sehingga kami bisa meminta air untuk melepas dahaga kami dan menyelesaikan sisa perjalanan kami menuju pekon Sarhum Bahway.

Banyak sekali pengalaman yang telah kami dapatkan dari pendakian ini, dari bagaimana cara menghargai nikmat alam hingga rasa kekeluargaan. Beda perjalanan, beda pula pelajarannya.

Terima kasih Mapala STKIP PGRI Bandar Lampung, salam lestari!
Berikut foto perjalanan kami kali ini:

Kapan lagi bisa difoto, haha

Mendaki melewati perkebunan kopi warga Hujung

Beristirahat di Pos 4 Serungkuk

Aliran sungai yang tersisa di musim kemarau

Mengambil Wudhu

Sholat

Memanjat

Beristirahat sejenak

Matahari mulai terbit

Jajaran Bukit Barisan Selatan

Aris.. sedang sibuk menulis kata-kata buat seseorang, hahahay..

Panorama gunung Seminung (Lampung Barat) dan gunung Raya (OKU Selatan)

Cukup tangannya saja yang selfie

Batu Sambung

Menuruni lereng Pesagi

Menyusuri kebun kopi warga

Pekon Sarhum dari salah satu bukit di lereng Pesagi

Leader kami, Aris Wanto Abdullah
Wajah-wajah bahagia setelah menuruni Pesagi dengan air yang kurang dari cukup (np: kamera pinjaman)

Sampai di pekon Sarhum, Bahway, Liwa.

Selasa, 21 Juli 2015

Petualangan ke Suoh


Tepat 2 minggu yang lalu kami berkunjung ke rumah bibi kami di Suoh. Setelah sekian lama belum bisa berkunjung karena disibuki dengan studi, musim hujan yang membuat jalanan semakin sulit, hingga belum punya cukup waktu hanya karena harus menghitung-hitung lama perjalanan kesana, akhirnya kami bisa ke Suoh via jalan Sukabumi-Batu Brak pada musim kemarau ini dengan waktu tempuh kurang dari 3 jam menggunakan motor. Lumayan, bikin tepos.

Suoh adalah sebuah kecamatan yang berada di dataran terendah kabupaten Lampung Barat. Letaknya dikelilingi oleh kaki Bukit Barisan Selatan serta berbatasan langsung dengan kabupaten Tanggamus dan kabupaten Pesisir Barat.

Tak asing lagi kalau kita berbicara soal Suoh, yang akan kita dengar adalah aksesnya yang rusak parah. Eh, gak rusak sih, cuma blm pernah dibagusin doang, hahaha (Jasa ojek via Sukabumi atau Sekincau bisa sampai Rp 200 ribu sekali jalan). Sudah banyak berganti pemerintah di tempat ini hingga kecamatan dimekarkan menjadi 2 wilayah kecamatan, yakni kecamatan Suoh dan Bandar Negeri Suoh, namun hingga kini akses menuju ke sana tak kunjung mulus. Belum lagi saat musim hujan, warga yang hendak dari atau menuju Suoh terpaksa menunggu beberapa hari hingga jalan kering atau memasang rantai pada ban untuk tetap bisa jalan.

Banyak sekali potensi objek wisata yang tak kalah dengan tempat-tempat indah di Lampung yang bisa kita jumpai di Suoh. Bahkan -mungkin- hanya di Suoh kita bisa menjumpai tempat-tempat indah yang seperti ini di Lampung.

Suoh memiliki potensi panas bumi (geotermal) yang sangat besar hingga pernah sebuah perusahaan energi datang untuk meneliti tempat ini. Karena sumber panas buminya, banyak fenomena alam yang bisa kita liat di Suoh seperti padang rumput yang luas, danau-danaunya dan kawah-kawahnya yang mengeluarkan belerang dari bawah tanah.

Letusan atau Padang Ilalang

Adik dan 2 sepupu di Puncak
Masyarakat sekitar menamainya Letusan karena di tempat ini sering muncul kawah-kawah kecil yang mengeluarkan cairan atau uap panas. Letusan bak tempat-tempat yang biasa kita lihat di timur Indonesia, sejauh mata memandang kita hanya melihat kombinasi hijaunya rumput ilalang dan birunya langit yang menyegarkan mata.

Pada waktu tertentu, dari lubang ini akan keluar air atau uap panas.

Berkeliling di padang rumput.
Di Suoh sering diadakan kejuaraan Motocross.

Danau-danau di Suoh

Adik: Melukis alam danau Lebar

(bukan) Nusa Tenggara
Danau Lebar adalah salah satu dari 5 danau yang bisa ditemukan di Suoh, letaknya berada sangat dekat dengan Letusan, sehingga bisa dinikmati dari salah satu bukit di Letusan.

Danau Asam
Danau Asam adalah salah satu danau yang berada di dekat rumah warga, sehingga warga sering mengambil air dari danau ini untuk kebutuhan di rumah.


Danau Minyak
Danau Minyak adalah danau yang juga berada di tengah-tengah padang ilalang Letusan. Danau ini dinamakan danau Minyak karena di waktu tertentu warna danau ini menjadi warna air yang terkena minyak.

Keramikan

Melintasi keramikan
Keramikan merupakan sebuah hamparan dataran yang terbentuk dari zat berupa air dan pasir yang dikeluarkan dari dalam bumi kemudian mengendap dan mengeras bertahun-tahun lamanya. Berada di tempat ini cukup menyita perhatian supaya tetap hati-hati ketika kita sedang berjalan-jalan di sini. Ketebalan lapisan ini tak tentu, ada yang sangat tebal sehingga bisa dipijak sampai ketebalan yang sangat tipis. Sehingga untuk menelusuri tempat ini kita perlu menggunakan sebuah tongkat untuk mengetahui ketebalan lantainya agar kita tidak terperosok ke bawahnya.

Di sini kita dapat menjumpai kawah-kawah yang mengeluarkan air panas, tak jarang setiap orang yang berkunjung ke sini membawa telur untuk direbus lalu dimakan di sana.

Aliran sungai panas

Keramikan

Merebus telur.. cuma karena gak mateng-mateng, jadinya ditinggal, haha


Kawah yang bisa ditemukan di Keramikan

Suasana pagi di Suoh

Kendaraan motor melintas Letusan

Menuruni tanjakan curam dengan muatan yang berlebihan

Ojek kopi sehabis terjatuh

Catatan: Akses menuju Suoh bisa ditempuh melalui jalan Sukabumi, Batu Brak, Liwa dengan waktu tempuh sekitar 2 jam dengan jalan yang berbatu, serta jalan Sekincau dengan jalan tanah yang sangat makin seru jika dilewati saat musim hujan dan via Bandar Negeri Semuong (Tanggamus) dengan akses yang lebih mudah dari 2 akses sebelumnya. Untuk waktu perjalanan yang lebih mudah dan cepat, datanglah saat musim kemarau.

Senin, 15 Juni 2015

Arakan Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak di Polda Lampung

Lapahan Sai batin
Ada yang tak biasa di kota Bandar Lampung pada hari Minggu kemarin (14/6), sebuah arak-arakan (sussung) agung kerajaan adat Paksi Pak Sekala Brak mengawal sang Raja yang jenderal, Yang Mulia Sai batin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Brigjen. Drs. Pangeran Edward Syah Pernong, Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23 menuju gerbang Polda Lampung sebagai Kapolda Lampung yang baru. Arakan ini dihadiri juga oleh sultan Kepaksian Sekala Brak lainnya, raja-raja marga, komunitas adat Marga Lima Way Handak dari Kalianda, hingga raja-raja Nusantara dari Sulawesi.

Di kehidupan sehari-hari, sussung adalah salah satu kebudayaan adat Lampung Saibatin yang biasa dijumpai di Lampung Barat, bumi Sekala Brak. Prosesi adat sussung biasa digunakan sebagai penyambutan raja, tamu terhormat, atau juga pengantin. Arak-arakan tersebut biasa dimulai beberapa ratus meter dari tempat yang dijadikan sebagai perhelatan acara serta selama prosesi juga diiringi oleh tabuhan alat musik hadra. #cmiiw

Berikut  foto-foto di acara tersebut:
Kaki prajurit
Pahar (tempat makanan)
Pembawa pahar
Aban gemisikh, digunakan untuk mengarak raja atau pengantin adat Lampung Saibatin
Sultan Kepaksian Buay Belunguh (baju hitam-tengah)
Pedang Istambul, pedang prajurit Puting Beliung
Polisi berfoto
Pengabadi momen sebelum sussung dimulai
Arakan yang diawali dengan tari pedang tunggal Samang Begayut
Tentara Puting Beliung, pasukan khusus sang Raja
Perdana Menteri Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak, Pun Ike Edwin Gelar Gusti Batin Mangkunegara
Seragam tentara Baju Besi
Tentara Baju Besi Paksi Pak Sekala Brak
Perdana Menteri Sekala Brak bercengkerama dengan para raja-raja Nusantara dari Sulawesi
Emblem Kepaksian Buay Pernong Sekala Brak di baju raja Gowa
Arakan Saibatin menuju Gedung Kuning
Arakan Saibatin menuju Gedung Kuning #2
YM SPDB Brigjen. Drs. Edward Syah Pernong bersama Brigjen Heru Winoko (Kapolda yang lama)

PS: Mohon koreksinya jika ada kesalahan dalam penulisan nama, tempat, istilah atau pun maknanya. Tabik.