Pendakian Menuju Puncak Gunung Seminung

Danau Ranau, danau terbesar kedua di Indonesia.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Sebulan sebelumnya, Ismu dan Aris, teman kuliahku, sudah sibuk pengaruhiku untuk ikut rencana pendakian mereka. Karena kami sudah memiliki kesibukan masing-masing, akhirnya kami sepakat untuk mengamankan hari Jumat di akhir bulan Maret karena libur. Kami bertiga pun sepakat bakal bolos kalau seandainya nanti hari Senin kami tak sempat kembali ke tempat masing-masing pada waktunya.
  
Seminung pagi itu.
Bersama tekad yang sudah bulat, kami memutuskan untuk mendaki gunung Seminung (1.881 mdpl) yang berada di Lampung Barat. Sebelumnya, Ismu dan Aris sempat mempermasalahkan gunung mana yang bakal didaki, dan gunung Pesagi sempat menjadi pilihan lagi. Dengan informasi yang minim dan perlengkapan mendaki yang didukung oleh adikku Vincent, kami mengatur rencana A sampai Z agar pendakian ini bisa berjalan dengan baik.

Jumat pagi, aku dan Ismu sudah ada di dalam bus Pangeran Muda, bus jurusan Rajabasa - Sukau yang siap mengantar kami sampai ke kota tujuan, yaitu Kotabatu. Aris dan Dani, seorang teman yang diajaknya, akan naik bersama kami juga jika bus melewati tempat yang sudah kami janjikan.

Kotabatu terletak di wilayah kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatra Selatan. Kota di tepi danau ini berbatasan langsung dengan kota asalku, yaitu Liwa, Lampung Barat. Butuh 8-9 jam untuk mencapai kota kecil ini. Bernostalgia masa kuliah pun menjadi topik yang sangat menyenangkan di dalam perjalanan, terutama kisah romansa Aris dan perempuan pujaannya yang uh..

Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa kami jadi berangkat ke Kotabatu, padahal gunungnya berada di Lampung Barat. Jadi, sebenarnya gunung Seminung berada di perbatasan antara 2 provinsi, yaitu Lampung dan Sumatra Selatan. Dan lagi, adikku yang notabene sudah pernah mendaki menyarankan untuk mendaki dari Kotabatu. Jalur pendakian lainnya bisa ditempuh dari Lumbok Seminung, Lampung Barat.

Tambak ikan di tepi danau Ranau, Kotabatu.
Kian sore, penumpang tinggal kami berempat saja. Saat sudah di Kotabatu, aku segera meminta supir bus untuk menghentikan busnya tepat di depan sebuah warung mie ayam paling enak di Kotabatu. Namanya Warung Bakso dan Mie Ayam Podo Moro. Jangan salah, kalian mungkin tak setuju sampai kalian mencobanya juga. Mie ayam inilah yang menjadi motivasi kami selama pendakian. Siapa tahu kalau kalian berkunjung ke danau Ranau bisa sekalian mampir untuk coba mie ayam ini. Namun sayang sekali, hari itu mie ayam sudah habis, jadi kami hanya memesan mie tektek yang tentu tak kalah nikmatnya. 😆
 
Sering mampir ke sini jika ke Ranau.
Setelah membeli semua keperluan selama pendakian, ternyata si pemilik warung mengingatkan kami untuk melapor ke juru kunci atau kuncen gunung Seminung. Sontak saja, kami baru tahu kalau ternyata kami harus melapor terlebih dulu. Akhirnya, si pemilik warung mengarahkan kami untuk mengunjungi rumah kuncen gunung Seminung, Bapak Syahrin. Tetapi tiba di rumah beliau, kami hanya bertemu dengan anaknya saja. Ternyata Pak Syahrin lebih sering tinggal tinggal di gunung.

Puncak Seminung dari balik jendela rumah Pak Syahrin.
Kami dipersilahkan untuk beristirahat di rumah Pak Syahrin. Padahal sebelumnya, kami berencana akan bermalam di masjid. Ternyata rumah tersebut sudah lama menjadi tempat pendaki untuk bermalam ketika akan atau pun turun dari Seminung.

Beranda rumah pak Syahrin, Juru kunci gunung Seminung.
Pagi pun tiba. Cuaca cerah sekali. Langit barat menunjukkan kekhasannya, membiru. Pertanda cuaca akan bersahabat sampai sore nanti, setidaknya. Selepas berkemas-kemas dan sarapan, kami pun berjalan kaki menuju dermaga yang tak jauh dari rumah Pak Syahrin untuk menyeberang langsung ke jalur pendakian dekat objek wisata Way Panas.

Ramai pendaki dari Palembang.
Karena waktu itu sedang libur akhir pekan yang panjang, ada banyak pendaki yang mendaki gunung pada hari ini. Kami pun sekapal dengan para pendaki dari Palembang. Dengan membayar 10 ribu per orang, kami sudah bisa menyeberangi danau Ranau langsung ke Way Panas dengan kapal penyeberangan yang biasa disebut getek.

Menunggu penumpang lainnya.
Sesampainya di Way Panas, pendakian pun dimulai dengan menyusuri jalan setapak yang telah dibeton oleh warga supaya mudah dilewati motor. Kami harus menyusuri  hingga ke pondok tempat Pak Syahrin tinggal. Ternyata, belum sampai ke rumah beliau pun, kami sudah kelelahan dan berkeringat tak karuan. Benar kata Vincent, jalur pendakian Seminung benar-benar aduhai tantangannya. Jalurnya menanjak terus hingga ke puncak. Tak ada bonus jalan datar atau pun turunan. Tiba di rumah Pak Syahrin, kami pun beristirahat dan meregistrasikan diri terlebih dahulu, supaya kami tetap terpantau dari naik hingga turun dari puncak nanti.

Getek.
Ada hal yang unik saat berada di kota kecil di tepi Ranau ini, umumnya masyarakat Kotabatu dan sekitarnya menggunakan 2 bahasa daerah, yaitu bahasa Ranau (sama seperti Lampung) dan Ogan (seperti bahasa Palembang). Sering aku meladeni orang sana dengan hanya menggunakan bahasa Lampung dan mereka membalas dengan berbahasa Ogan. Seru. Kami sama-sama mengerti meskipun menggunakan bahasa yang berbeda.
 
Pos terakhir untuk mendapatkan air.

Aris dan Ismu, kombinasi manusia yang bakal buat perjalananmu lebih menyenangkan.
Jam 10 tepat, kami tiba di posko terakhir tempat tersedianya air minum. Di sana sudah banyak orang yang sedang beristirahat, mungkin baru turun dari puncak atau pun akan naik. Di posko ini terdapat beberapa pondok yang tak didiami oleh pemiliknya dan sebuah musala. Di belakang musala, terdapat bak yang sangat besar yang berisi banyak air. Sehingga para pendaki bisa mengisi kembali botol bawaan mereka untuk bekal di pendakian.
 
Gilingan kopi manual yang cara kerjanya digiling dulu baru dijemur.
Sayang, banyak sekali coretan di tembok musala tersebut. Sehingga musala tersebut terlihat kotor dan tak terawat. Kadang aku gak habis pikir sama mereka yang melakukan vandal tersebut. Padahal, sebenarnya tak ada yang peduli dengan apapun yang mereka tulis di sana. Cuma kotor-kotorin tempat orang aja. Serius, gak ada kerennya sama sekali. Mak nihan.

Pintu gerbang pendakian menuju puncak.

Pengingat yang sering dilupakan.
Jalur yang curam dan memanjat menjadi tantangan yang paling sering dihadapi dalam pendakian kali ini. Tak ada jalan datar, kepala selalu menengadah ke atas. Tak banyak juga pemandangan yang bisa dilihat selama di perjalanan. Sering sekali kami mengambil waktu untuk berhenti dan beristirahat. Berada berjam-jam di jalur pendakian membuat kami berempat saling mendorong diri satu sama lain untuk terus melangkah supaya bisa sampai di puncak bersama-sama.
Rehat sejenak setelah berjam-jam menanjak.
Sesekali kami juga saling mengingatkan untuk menghemat air, karena walaupun kami membawa banyak persediaan air, kami harus mengatur kebutuhan air kami agar bisa diminum sampai turun lagi. Bagaimana pun, mendaki gunung bukanlah untuk menaklukkan apapun kecuali diri sendiri. Lebih dari sekedar logistik, mendaki gunung adalah tentang bagaimana cara menjaga fisik, batin, kesabaran, solidaritas dan sikap dengan baik supaya tujuan bersama yang telah direncanakan jauh-jauh hari bisa tercapai dengan baik. Asik.
  
Ayo, kawan, mie ayam podo moro menanti!
Hanya ada 3 pilihan dalam sebuah perjalanan, terus, istirahat, atau pulang dan kami berempat tetap hanya mendaki terus ke depan dengan sesekali berhenti untuk beristirahat. Rasa lelah yang sudah terasa kami alihkan dengan obrolan-obrolan yang sebenarnya tak penting tetapi menjadi seru untuk dibahas. Mulai dari cerita masa kuliah, dosen, teman, pekerjaan, percintaan, sampai mie ayam Podo Moro yang belum sempat kami cicip waktu itu. Tentu, obrolan-obrolan itu bisa menjadi lebih seru berkat kombinasi antara Ismu dan Aris.

Semburat pepohonan di atas gunung.
Setelah 6 jam lamanya menanjak, akhirnya kami berhasil mencapai puncak Seminung. Kedatangan kami disambut oleh hujan badai. Segera ku keluarkan tenda dari dalam tas ku dan langsung mendirikannya supaya barang-barang kami tak basah. Lalu duduk-duduk di dalamnya dengan tangan dan kaki yang sudah terasa kaku sambil menikmati biskuit yang sudah aku remukkan, biar awet. Soalnya, entah kenapa kok aku cuma beli sebungkus. 😂

Satu persatu pendaki dari Palembang yang satu kapal dengan kami mulai mencapai puncak juga. Kami pun mengajak mereka untuk berteduh ke dalam tenda kami dulu karena hujan belum reda. Ternyata mereka tak membawa tenda dan baju ganti karena rencana pendakian mereka bukan untuk bermalam, melainkan naik dan turun gunung pada hari itu juga. Lalu, salah satu dari rombongan mereka jatuh pingsan karena kelelahan dan kedinginan. Segera kami menyediakan tenda kami agar segera dirawat. Sementara kami menunggu di luar sambil bergerak bebas supaya tak kedinginan. Tentu memakai mantel hujan.

Badai sudah reda, dua jam sudah kami menunggu di luar bersama teman-teman yang lain, kakak yang jatuh pingsan tadi sudah siuman. Karena hari sudah gelap, tak mungkin lagi kalau mereka harus turun pada waktu itu. Sehingga mereka pun menginap dengan menumpang di tenda-tenda para pendaki yang bermalam pada waktu itu dan 2 dari mereka menginap di tenda kami.

Setelah mengisi perut dengan makanan enak (baca: indomie + nasi), malas rasanya keluar dari tenda setelah dihujani berjam-jam tadi. Mungkin karena sudah kecapekan, kami memilih untuk tidur. Malam kami lewati dengan meringkuk di dalam sleeping bag ditemani kelakar dan alunan nyanyian anak-anak Muaradua dari tenda sebelah.

Pengabadi matahari terbit.

Putih-putih berkabut di ujung sana itu kota Liwa.

05.30. Alarm ponsel ku berbunyi. Aku langsung membangunkan teman-teman. Saatnya keluar. Pagi itu, apa yang sebelumnya cuma dengar dari orang saja akhirnya bisa ku saksikan dengan mata kepala ku sendiri. Apa yang orang-orang bilang tentang bagaimana indahnya alam dari puncak Seminung benar-benar nyata. Inilah kali pertamaku mendaki gunung Seminung dan disuguhi pemandangan yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Luar biasa indahnya dari puncak sana. Sesekali awan melintas, seketika itu juga pemandangan jadi tak nampak. Benar-benar mistis sekali suasana pagi itu.

Misterius.

Bayangan gunung Seminung.

Tandus karena pernah terbakar.

Ismu, Aris, aku dan Dani yang-punya-wilayah.

Golden hour.

Salah satu hotel bintang 5 milyar. Pakai terpal, coy!

Jauh di sana.

Take nothing but picture.

Sekilas seperti danau Toba.

Pucuk tertinggi gunung Seminung.

Masih betah.

Lupa bawa gelas dan piring, pakai panci ini saja!

Sumber energiku, nasi + mie instan + sarden + telor gagal matang.

Selfie dulu, kito!
Puas berfotoria, saatnya kembali ke tenda untuk mengisi energi dan berkemas. Ternyata pagi itu Pak Syahrin baru saja sampai mendaki untuk mengecek para pendaki, lalu mengajak semua para pendaki untuk turun bersama-sama.

Berkemas.

Pak Syahrin memberikan arahan untuk turun bersama-sama.

Macam pasar.

Rehat di rumah Pak Syahrin.

Kebun tak terurus di kaki gunung.

Di kaki gunung, kanan kiri banyak kebun kopi dan lada.
Menuruni gunung selalu lebih cepat dibandingkan mendaki. Turun jam 10, kami pun tiba di pondok Pak Syahrin pada pukul 2 siang. Lalu dilanjutkan lagi dengan menuruni perkebunan warga menuju dermaga Way Panas selama 2 jam. Sayang kalau sudah berada di Way Panas tapi tak mandi di pemandian air panasnya. Jadi kami pun memesan pengemudi getek untuk menunggu sebentar selagi kami mandi.

Tempat pemandian Air Panas ini selalu ramai saat hari libur. Dulu, untuk sampai ke tempat ini harus menaiki getek atau menyusuri jalan setapak yang hanya bisa dilalui motor. Sekarang, sudah bisa diakses dengan mudah menggunakan mobil.

Kolam Pemandian Air Panas, OKU Selatan.

Abis mandi di sini, badan gatal-gatal semua.

Tiba di dermaga Kotabatu, kami pun langsung menuju warung Mie Ayam Podo Moro untuk melunasi keinginan kami yang tak tercapai kemarin karena kehabisan. Setelah itu kembali menuju rumah Pak Syahrin untuk bermalam dan kembali ke Bandar Lampung di keesokan harinya. Terpaksa, kami semua bolos bekerja, apa lagi Aris yang pada Senin itu dia menjadi Penanggung Jawab Ujian Sekolah di sekolah tempat dia mengajar. Lelawa!

Kapal pulang menuju dermaga Kotabatu.

Bersama teman-teman baru.
Sungguh pendakian kali ini adalah sebuah pengalaman yang sangat mengesankan, karena selain bagaimana cara menaklukkan diri sendiri, menjaga solidaritas dan sikap menghadapi apa yang terjadi di perjalanan, tentu juga karena perjalanan ini bisa menjadi lebih seru karena bersama teman segokil Ismu dan Aris.

Terima kasih, Mie Ayam Podo Moro.

Rincian perjalanan:
1. Terminal Rajabasa-Kotabatu (8-9 jam): Rp65.000,-/orang 
(Armada Bis: Jaya Wisesa, Usaha Muda, Sekala Brak, Ranau Indah)
2. Tarif penyeberangan Kotabatu-Way Panas (10 menit): Rp10.000,-/orang
3. Kalau bawa motor, bisa bermotor sampai rumah Pak Syahrin tanpa harus menyeberang danau.
4. Narahubung Posko gunung Seminung: Bang Anton 0856 6992 6645
5. Logistik yang bisa diperoleh di Kotabatu: 7/10

Komentar

  1. Gurih gurih sedap gini yaaaa pemandangannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget, benar-benar terbayarkan abis capek nanjak seharian, paginya beeeh.. onde mande :D

      Hapus
    2. mancappppp, keren yoo...!!!

      Hapus
  2. Akhhh haahaa, akhris pun curhat kertas dy kaga di post ama doi haaha(sepertinya dy saat cerita sambil hujan hujanan agar air matanya tak terlihat) haahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha iya nih, udah gw pula yang disuruh kirim ke si doi, bukan kirim langsung, hahaha, Akhis Pencinta Hujan.

      Hapus
  3. Ajak aku Mas kesini. Trackingnya lumayan juga ya, tapi setelah sampai di puncak terbayar sudah. Keren euy Gunung Seminung..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan bikin mager bang, bikin pengen sudahan, tapi ya sayang, haha, pemandangan yang disajikan bener-bener bayar lunas rasa capek kita pas daki, apalagi kalau sudah turun, bisa sekalian mandi air panas dulu. Ayo, bang, kapan-kapan naik lagi, hohoho

      Hapus
  4. Seminung ..
    Aku baru denger nama gunung ini.
    Pemandangan alamnya ternyata keren banget ...
    Aku kesengsem sama foto saat berkabut, kesannya sangat misterius.

    O,iya itu kolam air panasnya besar juga ukurannya, kayak sungai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gunung ini memang kebanyakan lebih dikenal oleh masyarakat sekitar saja, terutama yang tinggal di Sumatra Selatan dan Lampung, terus bukan gunung tertinggi juga, tapi kalau soal tantangan dan pemandangannya, juara!

      Iya nih, kolamnya sudah diperbesar, jadi air panas yang keluar langsung dari mata airnya dibendung di kolam itu.

      Hapus
    2. Semoga setelah artikel ini diposting Siregar, nama gunung Seminung ini dikenal banyak orang dan jadi tujuan wisata populer ya, Amin.
      Ikut kusupport.

      Iya ternyata gunung Seminung punya potensi keren buat liburan 👍

      Hapus
    3. Hahaha, Siregar :D

      Mudah-mudahan, mas, terutama soal keselamatan dan kebersihannya, hehehe. Terima kasih sudah singgah di blogku, Mas ;)

      Hapus
  5. Kak aku jumat ini mau ke seminung, aku boleh minta kontak kakk ga? Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuih, boleh hubungi via email: exaudiosiregar@gmail.com.

      Hapus
  6. Baru tahu ada gunung seindah ini di Lampung Barat, pas bangat untuk pendaki pemula seperti saya. Klo kesana ajakin lago dong gan, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentu dong, di Lampung Barat semuanya indah, beruntung lagi hampir semua bisa diakses dengn mudah, kecuali trekking beginj, perlu tenaga ekstra, hihi, bolehlah kapan-kapan dikabari ;-)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer