Perjalanan Bersepeda Membelah Bumi Sekala Brak

Pantai Mandiri, Salah satu pantai favorit turis mancanegara untuk berselancar.

Sebulan yang lalu, saya dan partner saya, bang Firmansyah atau rekan-rekan Komunitas Pecinta Kopi di Lampung (KPKL) memanggilnya Blackbeans telah bersepeda menempuh jarak yang lebih jauh lagi hingga memerlukan waktu berhari-hari. Touring!

Lebih dari sekedar Bike to Camp, pergi bersepeda mengunjungi tempat yang indah, mendirikan tenda, menghabiskan malam lalu kembali lagi ke rumah keesokan harinya seperti yang sudah biasa kami lakukan sebelumnya. Kali ini kami bersepeda cukup jauh, yang terjauh bagi saya, menjadi nomaden di jalanan dan berjumpa orang-orang baru yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Namun cukup menarik bagi saya karena rute yang akan kami lewati didominasi oleh masyarakat yang familiar dan bisa menggunakan bahasa Lampung, bahasa Lampung Pesisir tepatnya.

Rute Bukit Kemuning - Bandar Lampung via lintas pantai barat, kami tempuh selama 4 hari.
Demi merealisasikan angan-angan kami berdua untuk bersepeda jauh. Kami menamai rute yang kami lalui rute Bumi Sekala Brak. Karena waktu dan kondisi yang terbatas, rute ini kami mulai dari kota Bukit Kemuning (Lampung Utara) sebagai start point-nya hingga kembali lagi ke Bandar Lampung melintasi kota Liwa (Lampung Barat), Krui (Pesisir Barat), Kota Agung (Tanggamus), Pringsewu dan Gedong Tataan (Pesawaran). Sebenarnya sudah lama sekali saya diajak bang Firman untuk merealisasikan perjalanan ini, sempat akan berangkat sejak tahun lalu, namun harus tertunda lagi dan lagi karena kendala biaya dan urusan perkuliah saya, hehehe
Bumi Sekala Brak sendiri adalah sebutan untuk wilayah kabupaten Lampung Barat baru-baru ini, karena di sana ada dan masih lestari eksistensinya keberadaan kerajaan adat asli Lampung di lereng gunung Pesagi (Lampung Barat), yakni Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak (yang jg diyakini menjadi asal-usul suku Lampung). Namun, sesuai berjalannya waktu adat kerajaan Sekala Brak pun telah tersebar kesegala penjuru pesisir Lampung, yang bisa kita sebut dengan Lampung Pesisir -atau Lampung Sabatin-.
Tak seperti partnerku yang kesehariannya sudah menggunakan sepeda rigid produksi Federal, dengan sepeda itu dia pasti sudah bisa berpergian jauh dengan aman dan nyaman. Tetapi cukup repot bagi saya untuk mempersiapkan sepeda yang cocok untuk kegiatan kami kali ini. Selain perlengkapan yang terbatas, modal yang saya punya hanya sebuah sepeda gunung. Beruntung, banyak kawan sepeda yang membantu melengkapi kebutuhan perjalanan kami, seperti memodifikasi rack belakang sepeda, tas pannier, tenda, matras, pompa angin, sampai tripod kamera. Oke, gak modal banget yah.

Puncak Betik, Sumber Jaya, Lampung Barat








Di hari pertama, Bukit Kemuning (Lampung Utara) menjadi start point kami. Kami pun berkemas merapikan bawaan dan mulai mengayuh sepeda menuju wilayah Lampung Barat. Sekincau menjadi target kami bersepeda pada hari itu. Menuju Sekincau, udara yang kami rasakan kian dingin. Sekincau adalah dataran tertinggi di Lampung. Jadi, hari pertama kami akan dihabiskan dengan melewati banyak tanjakan. Mantap!
 
Siang itu, santai tapi pasti, mulai terlihat tulisan besar di atas sebuah bukit di bawah patung-patung pengawal dengan membawa seorang muli (gadis) bermahkota siger khas adat Lampung Saibatin memegang kotak berwarna emas -sepertinya- Tari Sembah Batin yang bertuliskan, "BUMI SEKALA BGHAK". Tulisan itu menandakan bahwa kita telah berada di wilayah sebuah kerajaan tua di Lampung yang masih eksis hingga saat ini, yaitu Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak.


Masjid Jami'i Aminatul Jannah di Puncak Betik, Sumber Jaya atau biasa warga sekitar menyebutnya masjid Puncak.

Lalu, di bawah bukit tersebut berdiri sebuah masjid kecil berarsitektur detail nan megah. Masjid Jami'i Aminatul Jannah namanya. Penduduk sekitar biasa menyebutnya masjid Puncak. Kami sempatkan beristirahat dan kawan pun sholat di masjid tersebut.

Pesawahan Terasering di desa Mutaralam, Way Tenong, Lampung Barat

Lagi nanjak, cekrek.
Gerimis kembali turun setiba kami di Sekincau, kota kelahiranku yang dingin pakai banget itu, gerimis deras pokoknya. Gerimis deras itu biasa ku namai hujan salju, salju yang mencair sebelum ia sampai ke bumi. Udara Sekincau yang biasa dingin pun menjadi semakin dingin. Kami pun singgah sejenak di salah satu rumah warga sembari memasang raincover pada tas pannier-ku, lalu perjalanan dilanjutkan kembali karena dari Sekincau, melibas hujan salju turun melewati pekon Giham sampai ke Batu Kebayan. Udara semakin dingin serta hari mulai gelap, kami pun memutuskan berhenti jika adzan Maghrib telah berkumandang. Entah bagaimana jika di tempat lain, di Lampung, aku dan kawan-kawan biasa membuat janji menggunakan waktu berdasarkan waktu sholat. hehehe
 
Sekincau, dataran tertinggi di Lampung.
Adzan Maghrib telah berkumandang, kami pun berhenti di pekon (desa dalam bahasa Lampung Saibatin) Way Ngison untuk bermalam. Kami berniat mendirikan tenda di komplek Puskesmas di sana, namun beruntung, setelah bertemu dengan warga sekitar yang datang sholat di masjid, kami disarankan untuk bermalam di masjid saja. Ditemani suara gerimis yang tak kunjung reda sejak kami tiba di Sekincau tadi, kami pun berbincang-bincang tentang perjalanan yang telah ditempuh hari ini. Malam pun kami lewati dengan tidur hanya berselimutkan kain sarung, padahal biasanya jika malam di tempat itu temperatur bisa hingga di bawah 20' C. Ok! Tidur di tempat dingin gak pakai selimut tebal, biar greget. Mission Achieved!
_____________________


Hari ke 2. Langit masih gelap sekali padahal sudah pagi, udara pekon Way Ngison yang memang sudah ngison, makin ngison lagi! Pikirku, cuma mendung, mungkin hujannya akan turun nanti siang. Kami pun berkemas-kemas memasukkan barang-barang ke pannier, supaya jam 7 sudah bisa jalan lagi. Setelah siap untuk berangkat, hujan pun turun. Ternyata perkiraanku salah. Kami pun terpaksa menunda perjalanan kami. Berharap hujan segera reda.

Sembari menunggu reda, bang Firman pun mengeluarkan senjata perkopiannya. Dihidupkannya kompor mini, direbusnya air, lalu dikeluarkannya kopi robusta dari Ulu Belu Lampung yang didapatinya dari juru seduh di kedai kopi Keiko Bahabia semalam sebelum kami berangkat. Kopi itu pun diseduh tanpa campuran pemanis gula maupun susu. Bagiku yang biasa menikmati kopi susu disuruh buat belajar minum kopi yang benar-benar kopi, katanya. Boleh juga. Bener-bener macam hidup. Tak selamanya yang pahit itu tidak nikmat ternyata. Apasih.

Ngupi pai, tik! Kantab ajo!
(Ngopi dulu, kawan! Mantap ini!)

Berteduh.
Sejam berlalu, kopi pun sudah tinggal ampas, hujan belum kunjung reda. Mau gak mau harus jalan karena sudah banyak waktu yang terbuang. Hari itu target yang akan kami tempuh ternyata sangat cukup jauh pula. Kawanku bilang sore ini harus bisa sampai desa sebelum wilayah TNBBS di Pemerihan, Bengkunat Belimbing. Ah, saya iya iyakan saja, walaupun sebenarnya saya orang asli Liwa tapi saya tak cukup paham dengan daerah di Pesisir Barat dan Tanggamus sana. Lewat pun belum pernah.

Lamban Gedung Kepaksian Buay Belunguh Sekala Brak, Kenali, Belalau.
Berangkatlah kami, melibas puluhan kilometer bersepeda di bawah rintik hujan. Akhirnya keluar mantel juga, kawanku pakai mantel handmade sendiri. Terbuat dari plastik ukuran jumbo, sepertinya bekas sayur, nemu di jalan sebelum sampai Sekincau kemarin, dilubanginya 2 sisi plastik besar itu dan ia pun menyebutnya Ironsuit MK 43 (kostum ironman ala ala).

Rute untuk hari ke-2 bisa dibilang enak. Enak banget malah. Karena dari Sekincau menuju Liwa hingga pesisir Krui nanti akan didominasi oleh jalanan menurun. Menuruni perbukitan, melewati pekon Bakhu, Simpang Luas, Kenali, Belalau, Sukarame, Kerang, Kotabesi, Canggu, Batu Brak, Kegeringan, Keramian, Kembahang, sampai Teratas, pekon-pekon yang masih khas dengan barisan rumah panggungnya pun terlewati. Ah! Akhirnya ku kayuh juga sepedaku ini melintasi kampung tercinta yang masih kental adat budayanya, bumi Sekala Brak.

Lamban (rumah) Ugokhan Batin, Canggu, Batu Brak.

Gedung Dalom (istana) kerajaan adat Paksi Pak Sekala Brak, Batu Brak.
Siang itu kami sampai di ibukota kabupaten Lampung Barat, Liwa. Mungkin, kalau googling kata "Liwa", hasilnya adalah oasis terbesar di negara Abu Dhabi Arab, ya kan? Kecuali googling dengan keyword "Kota Liwa" maka ibukota Lampung Barat lah yang muncul. Jadi, hanya ada dua tempat yang menggunakan nama Liwa di bumi ini, dan salah satunya ada di Lampung. Nama yang sangat-sangat tua. Liwa berasal dari kata Al-liwa (bahasa Arab: bendera kemenangan), yang pada sejarahnya para maulana atau Paksi Pak (Empat Paksi: Pernong, Belunguh, Bejalan Diway dan Nyerupa) dan ayahnya Maulana Penggalang Paksi menyiarkan menancapkan bendera kemenangan keberhasilan mereka dan pengikutnya setelah mengalahkan kerajaan Sekala Brak kuno yang dipimpin oleh seorang ratu, ratu Sekeremong di dalam perang. Dan kini, Liwa telah menjadi nama ibukota Lampung Barat dan juga salah satu nama marga dalam adat Lampung Saibatin.

Liwa adalah kota tempat ku tumbuh besar, kota kecil yang dingin di kaki gunung Pesagi. Sebuah kota yang menjadi persimpangan arah antara Krui (Pesisir Barat) dan Ranau (Sumatra Selatan), ditengahnya berdiri tegak tugu Kayu Akha, atau biasa kami sebut tugu Liwa. Sebuah kota yang terkenal akan kenikmatan kopi robusta dan kopi luwaknya. Sudah pernah dengar kopi Liwa, kan?

Turis di kota sendiri.
Nama Liwa masih melegenda di ingatan masyarakat luas hingga kini. Menjelang waktu sahur pada tanggal tanggal 15 Februari 1994 (belum lahir), kota Liwa dan sekitarnya diguncang gempa tektonik berpusat di Sesar Semangko berkekuatan 6.5 SR hingga menewaskan ratusan jiwa dan hampir semua bangunan rata dengan tanah. Begitu banyak korban dari gempa tersebut karena terjadi saat warga masih sedang tidur.
Tugu Kayu Akha, Kota Liwa.

Makan siang selesai, istirahat puas, sepeda mulai dikayuh lagi. Kawan saya kecewa karena gagal mencicipi kenikmatan kentalnya Mie Ayam H. Sarka yang berada di Simpang Empat Taman Jaya, Liwa karena tutup. Mie Ayam Sarka menjadi salah menu makanan yang wajib dicicipi jika sedang ada di Liwa. Beda pokoknya. Haduh, belum beruntung, kita bang. Kapan-kapan ke Liwa lagi ya, haha
 
Isi bahan bakar dulu. Eh, gak perlu ya.
Sepeda kami cek lagi, rem, ban, hingga bawaan supaya tak jadi masalah di perjalanan nanti karena tujuan berikutnya adalah Krui, ibukota babupaten Pesisir Barat. Untuk mencapai Krui, kami akan memasuki hutan kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, kawasan hutan hujan tropis di ujung selatan pulau Sumatra. TNBBS merupakan tempat tinggal bagi tiga jenis mamalia besar yang paling terancam di dunia, yaitu gajah, badak dan harimau sumatera.

Memasuki Wilayah Hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Kubuperahu, Liwa.

Gapura TNBBS, juga sebagai tanda perbatasan antara Kabupaten Lampung Barat dan Pesisir Barat.

Salah satu dari sekian banyak air terjun kecil di sepanjang kawasan TNBBS, pekon Labuhan Mandi, Krui.

Gara-gara keasikan foto-foto, sepedaku tiba-tiba roboh dan nyungsep masuk siring yang dalamnya 3 meter. Setelah dicek, bersyukur gak ada masalah. Seandainya ada yang rusak, terpaksa aku pulang kampung ke Liwa, gak jadi touring :D

Dua jam berlalu, tibalah kami di Krui dan disambut oleh hujan deras dan pengalihan jalur karena ada tayuhan (acara adat Lampung). Kami terpaksa harus mengambil jalan memutar lewat jalur alternatif ke Bengkulu.
Selama di Pesisir Barat ban sudah bocor sampai 3 kali.

Selama melintas Pesisir Barat, tak ada pantai yang kami singgahi hingga akhirnya hari itu kami hanya bisa menempuh sampai pantai Mandiri, salah satu pantai yang sangat dekat dengan jalan lintas, salah satu spot favorit para turis mancanegara untuk berselancar ria (Lainnya ada Pantai Labuhan Jukung dan Tanjung Setia). Sayang sekali, selama di sana kami tak berjumpa satu pun turis yang berselancar atau pelesiran karena masih musim hujan, ombak samudra belum asik untuk diselancari. Sore itu cuaca masih mendung dan semakin gelap sehingga kami tak bisa menyaksikan eloknya matahari terbenam yang sudah tersohor 11-12 dengan pantai Kuta Bali itu.

Senja di pantai Mandiri

Sambil membayangi kekasih.


Beruntung lagi, setelah puas bersantai-santai di pantai, seorang pemilik warung di dekat pantai mempersilahkan kami untuk beristirahat di pondok miliknya. Malam di tepi pantai kami habiskan untuk bercengkrama dengan pemilik warung dan beberapa warga sambil minum kopi lalu tidur ditemani deburan ombak besar samudra Hindia. Tidur di pantai samudra Hindia. Mission Achieved!
_____________________


Hari ke-3. Hujan sejak dini hari telah reda, udara menjadi sangat dingin untuk di daerah pesisir. Setelah bertanya-tanya soal jarak menuju TNBBS bagian Pemerihan, ternyata hari ini kami masih harus bersepeda di Pesisir Barat seharian. Melewati pantai Biha, Tanjung Setia, Ngambur, Melasti, Baliyoga, Bengkunat, sampai tiba di desa Pemerihan kecamatan Bengkunat Belimbing. Semakin ke selatan, jalan raya semakin sepi. Terjawab juga pertanyaan saya tentang pemekaran wilayah Lampung Barat menjadi Pesisir Barat, ternyata wilayah Lampung Barat sebelumnya masih sangat luas sehingga masih banyak daerah-daerah yang belum tersentuh oleh pembangunan.
 
Salah satu pura di desa Baliyoga, Bengkunat, Pesisir Barat.
Selama di perjalanan tak jarang banyak warga sekitar yang sedang beraktifitas di depan rumah atau mungkin hanya duduk-duduk di beranda rumah menyempatkan diri untuk memanggil atau menyapa kami. Ada yang menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Lampung, bahkan bahasa Inggris. Jadi, dari anak-anak sampai tamong (kakek) pun tak sungkan untuk memanggil kami bule, turis atau menyapa, "Hello, good morning". Padahal waktu itu sudah sore. Mungkin bagi mereka, orang yang sedang bersepeda dengan tas-tas besar di sepedanya adalah bule, juga tak jarang pesepeda touring mancanegara melewati rute pantai barat Sumatra. Padahal, saat bersepeda kami tidak menggunakan masker atau kacamata.

Anak-anak yang mengira kami bule, akhirnya mengajak kami bermain bulutangkis.
Berikut percakapannya:
Anak-anak SMP: Wih, wat bule uy cakak ketangin. Hello, Mister, good morning? (Wah, ada bule nih naik sepeda ...)
Saya: Nah, cawa api kuti? (Nah, ngomong apa kalian?)
Anak-anak: Hahaha.. penyanaku bule. (yaaah.. kami kira bule) *bubar*
Orang tua: Singgah pay kuti no, Bule. (Mampir dulu kalian itu, Bule)
Saya: Iyu pak, sikam haga mulang, khadu dibi. (Iya pak, kami mau pulang, udah sore)
Orang tua: Nah, bule ni dapok cawa Lappung. (Nah, bulenya bisa ngomong Lampung) *ngomong ke tetangganya yang juga lagi duduk-duduk di seberang jalan*
*lagi jajan di warung karena cuaca waktu itu sedang panas*
Pemilik: Cari apa?
Saya: Sirup ni dapok dikeni es awek, Pak? (Sirupnya bisa dikasih es gak ya, Pak?)
Pemilik: *kaget* Nah, penyana ku jeno kuti ji bule, khadu bingung nyak khepa kanah ngejawabni. (Nah, saya kira tadi bule, udah bingung saya gimana nanti jawab omongan kalian) *Abis itu ngobrol, pake bahasa lampung*
Anak-anak SD: Hello, Mister. How are you?
Saya: Hi, so hot here, is there any cold place here?
Anak-anak SD: *nyengir*

Air minum asli dari mata air pegunungan perbukitan, ada manis-manisnya gitu :D

Sore itu jalan mulai sepi, tak ada lagi rumah penduduk, dan timbul pertanyaan di benak saya, "Kok jalannya ini nanjak terus?". Ternyata kami telah memasuki kawasan TNBBS lagi, wilayah perbatasan antara kabupaten Pesisir Barat dan Tanggamus. Untuk mencapai wilayah Tanggamus, kami harus melintasi hutan kawasan TNBBS wilayah Tanggamus. Saya pikir elevasi jalan dalam hutan kawasan bagian Pesisir Barat - Tanggamus bakal sama seperti TNBBS bagian Liwa - Krui, namun kata Bang Firman, "Nggak, ini tanjakan yang paling 'gak sopan' di Lampung, semuanya tanjakan, curam-curam pula". Teringat, beberapa bulan lalu, bis yang membawa para mahasiswa KKN Unila terperosok di daerah sini. Benar-benar cihuy tanjakan hutan kawasan di sini ya!

Zigzag teruuus..
Tiba-tiba perut kami mulai terasa lapar, capek mulai terasa, perkampungan sudah pasti gak ada lagi karena sudah di tengah hutan. Akhirnya kami berhenti untuk istirahat. Cek tas, untung masih ada 3 buah alpukat yang kami beli dari desa Baliyoga tadi pagi. Langsung saja kami blend dalam gelas. Jadilah jus alpukat darurat.
 
Ngejus alpukat karena kelelahan dan kelaparan di tengah kawasan TNBBS Tanggamus.
Setelah 3 jam menaklukkan tanjakan-tanjakan aduhai dalam TNBBS dengan sekuat jiwa raga kami yang energinya telah di-boost oleh jus alpukat tadi -plus sorak sorai para pengendara yang lewat lalu menyemangati dan memberi harapan pada kami-, keluarlah kami dari kawasan TNBBS dengan perasaan yang merdeka. Rasanya ingin nyerah karena rasa lapar dan takut kemalaman di dalam hutan, untung disemangatin sama para pengendara yang mendahului kami. Jadinya kuat lagi, hahaha, apasih.

Setelah menuruni turunan Sedayu, jalan yang lebih ekstrim lagi dibanding jalan yang kami lewati tadi, karena kemiringan jalannya bisa sampai lebih dari 45', sampailah kami di Masjid Imaduddin di pekon Semaka, Tanggamus yang kami jadikan sebagai tempat istirahat untuk malam itu. Tak hanya kami, ternyata ada banyak banyak pengendara yang menyempatkan diri untuk singgah di masjid itu untuk sholat atau pun hanya sekedar singgah saja sebelum mereka melanjutkan perjalanan melintasi hutan kawasan TNBBS ataupun setelah melewatinya.

Sepeda kami sudah selesai kami setel, perut sudah kami isi, badan udah kinclong lagi. Malam itu pun kami habiskan dengan berbincang-bincang bersama warga sekitar yang biasa berkumpul di masjid tersebut pada malam hari.


Hari Ke-4. Sisa perjalanan tinggal 100an km lagi. Target kami hari ini adalah kota Bandar Lampung. Berharap cuaca tetap adem ayem seperti Liwa dan Krui. Sepeda mulai dikayuh lagi. Melintasi pekon-pekon sepanjang jalan lintas di Tanggamus, hingga akhirnya tiba di Kota Agung, sebuah kota di tepi pantai teluk Semaka, ibukota kabupaten Tanggamus. Kami pun berhenti beristirahat untuk menikmati kesegaran segelas es dawet yang dijual di pusat Kota Agung, karena cuaca hari itu cerah sekali.

Pesawahan di salah satu pekon di Kota Agung, Tanggamus.
Gisting, Padang Cermin, Pringsewu dan Gedung Tataan pun terlewati selama seharian itu hingga akhirnya kami tiba juga di Bandar Lampung tepat jam 9 malam. Kami pun berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.

Akhirnya perjalanan bersepeda terjauh kami selesai. Kurang lebih 380 km telah kami tempuh dalam 4 hari. Melintasi bumi Sekala Brak hingga ke teluk Semaka dan kembali ke kota Tapis Berseri. Banyak pelajaran dan hal-hal baru yang saya dapat selama di perjalanan. Berkat disiplin, kesabaran, toleransi dan solidaritas membimbing kami untuk bisa menempuh tujuan bersama-sama. Seperti kata petuah Afrika, "Jika ingin pergi cepat, pergilah sendiri. Namun jika ingin pergi jauh, pergilah bersama-sama".
 
Akhirnya sepedaku bisa parkir di tepi pantai samudera Hindia.

Bumi Sekala Brak hingga ke Kota Tapis Berseri,
9-12 Februari 2016

Komentar

  1. yang gak saya terima tu kenapa bisa raincoat hasil riset dari plastik sayur temuan bisa disebut ironsuit mk43!!, sungguh terlalu tidak bisa dicerna dengan akal-akalan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan prototype mas, sama kaya' di filmnya, kemampuannya aja terbatas, hahahaha :D

      Hapus
  2. Wuuuhhh.. Kereenn.. Temen SMP gueh nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, teman SMP ku, terimakasih udah mampir ;)

      Hapus
  3. wah perjalanan yang emnantang rupanya, pasti banyak rintangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget mbak, apa lagi pas lagi di hutan kawasan TNBBS wilayah Tanggamus, udah katanya rawan, gak ada persediaan makanan, mau sore lagi, beeeh..

      Hapus
  4. Wueeee! Mantap beringas! Selesai tugas kuliah langsung nyepeda 380 km. :D Eh, untung bukan nyepeda pergi-pulang, hahaha :D. Batinku di awal pas ngelihat petanya, "Asem, jauh banget rutenya, berapa hari ini, lewat Tanggamus pula, mantap jauhnya, kurang kerjaan banget, hahaha." Klo dirimu ada sepeda nganggur aku temenin nyepeda deh, tapi < 100 km aja jaraknya. :D
    Tapi emang yang paling berkesan selama nyepeda jauh itu perkara ban bocor, hujan, tanjakan, sama dikira orang aneh (dirimu masih untung disangka bule :p).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahahaha, diracun sama si Firman Bijihitam itu sih mas, orangnya nekat. Makanya sampai sepeda mtb ku aja diakalin biar bisa dipasang tas pannier :D Aku adanya cuma sepeda mtb ini tok, satu-satunya buat kendaraan di Bandar Lampung, tapi tenang aja mas, yang rute deket-deket aja gapapa, paling entar klo mas Wijna mau ikut nyepedah di Lampung ntar tak pinjemin sepeda kawan, hehe
      Bener mas, soalnya emang banyak bule touring lewat jalur pantai barat (jalur eksotis), sembari lewat main di pantai dulu. Ya, walaupun sempat sepeda ku nyungsep ke siring, untung gak ada yg patah atau rusak, hahaha

      Hapus
  5. Balasan
    1. Hehe, terimakasih bang. Tetap Semangat! ;)

      Hapus
  6. Izin berkunjung dan nyimak langsung artikelnya ya gan? Salam kenal, semoga sukses selalu AMIIN!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap, Gan! Semoga sukses selalu. Amin :)

      Hapus
  7. Balasan
    1. Hehehe, terima kasih, Tin. Kan kita perlu untuk menjadi "gila" terhadap sesuatu ;)

      Hapus
  8. walla bule sai ji gerot igheh :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, mak api apilah, kan senangon jelma kham ji kuat kuat, hahaha

      Hapus
  9. ah ga ngajak2..

    Artikel yg inspiratif, teruskan nak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, kan dirimu sedang sibuk membangun rumah tangga, nanti kegiatannya mengganggu lagi :D

      Hapus
  10. Bagian paling gua suka saat di kira bule tapi ternyata bisa ngomong lampung. Jadi pengen bisa faseh bahasa lampung hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahaha..
      Gw pun memfavoritkan itu, ternyata seru bisa jadi turis di kampung sendiri. Emang harus mas, seru. Hal yang gw dapat karena faseh bahasa daerah: nggak kenal berubah jadi saudara. Gokil!

      Hapus
  11. Suka ceritanya.pas baca bagian di daerah sedayu jd keinget rasanya nanjak,ngeri2 seru �� Boleh dibagikan,dio?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih ya mbak Risna udah mampir.
      Berarti mbak udah pernah lewat sana juga dong? Wah, mantep ya tanjakannya, bikin kenyang, hahaha..
      boleh dong mbak, malah makasih lagi ini mah ;)

      Hapus
  12. halo lae,ternyata ada juga marga siregar lahir & besar di lampung seperti aku hehehe.kenalin aku febri faisal siregar,bagi info dong utk touring pakai sepeda. aku punya niat mau touring ke daerah sana. dgn rute yg sama,tapi aku ga bs bahasa lampung pesisir hehehe. kalah pny sosmed FB blh dong tanya2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bah, bayoregar pula, tapi masa panggil lae, gimana nya. Siregar apa appara? Add aja fb ku: Exaudio Siregar, biar chatting kita. Sebenarnya gak harus bisa bahasa lampung kok bro, itu cuma nilai tambah aja, buktinya sering bule touring lewat sana juga. Asal kita sopan, warga sana juga pasti welcome kok sama kita.

      Hapus
  13. sungguh saya kagum dengnan kegigihan mu kisanak!!!.... saya nyetir bawa mobil matic aja kadang pegel mampups ke Lambar ama Pesibar..lha dikau pakai Sepeda!!!! sungguh cadasss dirimu kawan!!! kagum deh, makin ngeFans aku pada mu brother..... btw photo dan kisah singgah singgah mu sungguh seru yaaa... apalagi bisa berinteraksi bentar dengan masyarakat setempat... keren lah pokoke.!!! Salut!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huah, aku jadi tersentuh bacanya, hehehe, makasih banyak ya bang!

      Kuat gak kuat harus kuat itu bang, mungkin memang kedengerannya aku gila sepedahan 4 hari berturut-turut dari Liwa ke Bandar Lampung, tapi percayalah gila ku ada karena udah ketularan sama rekanku si Firman Blackbeans, dia yang selama ini racunin aku buat sepeda gila-gilaan ke mana-mana :D

      Sekali lagi terima kasih ya, Bang!

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer