3 Hari Bersepeda Mudik ke Liwa



Butuh waktu sebulan buatku untuk mempertimbangkan apakah aku harus melakukan perjalanan ini sendirian. Setiap aku melintasi jalur ini dengan menggunakan motor, aku selalu membayangkan bisa menempuh jalur ini dengan bersepeda. Ya paling tidak sekali dalam seumur hidup. Toh, tahun kemarin aku belum memiliki pencapaian personal yang membuatku sangat bersemangat untuk melakukan dan menyelesaikannya.

[Artikel perjalanan ajib sebelumnya: Bersepeda Membelah Bumi Sekala Brak]

Rute perjalanan yang ditempuh

Sebenarnya tahun 2016 lalu aku sudah pernah bersepeda melintasi jalur eksotis ini dari Liwa ke Bandar Lampung bersama seorang kawan, Namun kali ini aku ingin melakukannya sendirian dari rute yang sebaliknya. Aku ingin sekali mencoba berhari-hari berada di luar sana sendirian menempuh destinasi, sekaligus mulang pekon (pulang kampung) untuk merayakan hari natal di rumah.

Lupa kapan terakhir merasa sesemangat ini, tetapi yang jelas sejak seminggu sebelum keberangkatan, aku selalu tak sabaran untuk segera mengemas barang-barangku, menyiapkan sepeda, dan segera pergi bersepeda menuju Liwa.

[Artikel perjalanan ajib sebelumnya: Bersepeda Membelah Bumi Sekala Brak]

Setelah mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan selama perjalanan nanti, aku pun memulai perjalanan soloku pada 17 Desember 2019 dan tiba di Liwa pada 20 Desember 2019. Itu pun sebenarnya kalau waktu itu aku mager, aku akan menunda perjalanan tersebut atau batal. Secara Desember sebenarnya bukan waktu yang tepat untuk keluar bersepeda berhari-hari karena musim penghujan yang selalu turun hampir setiap hari.

Malam sebelum keberangkatan, Anggilang mengirim pesan singkat kalau dia akan ikut bersepeda menemaniku sampai ke Pringsewu. Dia bilang kalau selama ini belum pernah bersepeda ke sana. Ya mantap dong, jadi ada teman ngobrol selama perjalanan. Memang hanya dia yang tahu soal keberangkatanku ini karena kepadanya aku dapat pinjaman tas pannier yang kupakai selama perjalanan tersebut.


Bandar Lampung, 17 Desember 2019

Baru saja terbangun, ternyata hujan masih juga turun sejak malam. Aku pun bersantai-santai bermain ponsel hingga akhirnya Anggilang yang tinggal di seputaran Teluk Betung tiba-tiba mengabarkan kalau dia sudah berada di dekat kontrakan adikku. Wow, sepertinya ada yang lebih semangat dari diriku.

Bertemu Mas Agus di jalan raya Gedong Tataan.
Bergegas aku bersiap dan menghampirinya di tempat yang sudah dijanjikan meskipun sebenarnya hujan waktu itu turun lumayan deras. Akhirnya kami pun menepi di depan minimarket yang di berandanya tersedia kursi yang terlihat sangat enak untuk diduduki. Sesaat, kami pun lanjut mengobrol panjang lebar sambil menunggu hujan benar-benar reda.

[Artikel perjalanan ajib sebelumnya: Bersepeda Membelah Bumi Sekala Brak]

Dua jam terlewat sudah, akhirnya kami putuskan untuk memulai perjalanan. Jalanan yang basah dan udara yang dingin adalah waktu dimana seharusnya kembali ke rumah lalu menyeduh teh atau kopi hangat ditemani roti gabin lalu menikmati film atau bacaan favorit, namun tidak dengan hari itu. Semua tetap bisa aku dilakukan di perjalanan, hahahaha.

Dari Rajabasa, kami pun bersepeda menuju Gedong Tataan dan singgah sebentar di Rumah Inggris supaya sekaligus bisa menyantap masakan Bukle Niken tempat aku biasa makan selama tinggal di Gedong Tataan waktu itu.

Pernah bersepeda ke Rumah Inggris yang di Gedong Tataan 😀

Menjelang siang, kami pun meninggalkan Rumah Inggris menuju Pringsewu. Cuaca panas sekali waktu itu. Sepertinya hujan pagi itu turun rata di seluruh wilayah dan berubah menjadi cerah. Hingga tiba di sebuah landmark bertuliskan Pringsewu di tepi jalan, kami pun harus berpisah karena Bang Gilang memang hanya akan menemaniku bersepeda sampai ke sana saja.

Foto dulu sebelum berpisah.

Waktunya bersepeda sendirian. Mulai kukayuh sepeda melintasi kota Pringsewu sampai ke kota selanjutnya. Tak banyak kendaran besar yang melintas di jalur sana, arus jalan raya hanya didominasi oleh mobil pribadi dan motor penduduk lokal. Sesekali gerimis turun, aku berhenti untuk berteduh sekaligus meluruskan kaki supaya tidak keram.

Tiba di Talang Padang, aku pun memilih untuk singgah di sebuah minimarket untuk membeli air minum dan makanan ringan. Tak disangka, hari itu sudah melintasi 3 kabupaten sekaligus: Pesawaran, Pringsewu, dan telah memasuki wilayah Tanggamus. Sesekali orang yang melihatku sedang beristirahat mengajakku mengobrol dari mana dan hendak ke mana. Tak sedikit dari mereka heran kenapa aku niat sekali bersepeda dari Bandar Lampung menuju Liwa. "Kurang kerjaan.", pikir mereka, mungkin.

[Artikel perjalanan ajib sebelumnya: Bersepeda Membelah Bumi Sekala Brak]

Asik mengobrol dengan orang-orang yang kutemui di salah satu minimarket di Talang Padang, tiba-tiba terdengar suara bocor dari ban sepedaku. Kukira itu bocor biasa namun ternyata setelah dibongkar, pentil ban tersebut lepas dari tempatnya. Wah, bahaya. Sepertinya aku salah perhitungan karena tidak mengganti ban depan sepedaku yang sudah terlihat sangat tipis. Tak apa. Dalam perjalanan seperti wajib hukumnya membawa ban serep dan peralatan menambal.

Pecah ban pertama di Talang Padang Tanggamus.

Mengganti ban pada sepeda bisa menjadi atraksi bagi orang lain yang melihatnya. Bagaimana tidak, bagi mereka yang melihatku membongkar ban sepeda akan takjub karena aku bisa melakukannya sendirian tanpa alat bantu seperti membongkar ban sepeda motor dan bisa kuselesaikan dengan cepat. Hahaha. Di akhir pertunjukan biasanya salah satu dari mereka yang menonton akan meminta ban bekas sepedaku untuk mereka bawa pulang. Untuk dibuat menjadi tali karet, katanya.

Rampung melakukan atraksi mengganti ban, aku pun kembali melanjutkan perjalananku. Setelah diperhitungkan, Gisting menjadi akhir perjalanan hari itu dan aku akan menghadapi tanjakan sepanjang 15 km. Biasa aja. Karena tanjakan yang lebih gila ada di keesokan harinya. Hahahaha.

Gisting adalah sebuah kota kecil di kabupaten Tanggamus yang letaknya berada di kaki gunung Tanggamus. Di tanjakan kaki gunung, lebih tepatnya. Menjelang sore, tidak sedikit orang yang berpapasan denganku menyapa. Mungkin mereka heran melihat seorang diri bersepeda dengan barang-barang di sepedanya. Pasti orang jauh. Malah ada yang mengira aku adalah turis dari luar negeri.

Setelah cukup lama bersepeda, waktu di jam tanganku sudah menunjukkan jam 8 malam. Kulewati jalan tersebut sambil memperhatikan tempat untuk bermalam hingga akhirnya aku menemukan sebuah toko besar terang benderang dengan sebuah tulisan Rest Area. Ku kira toko tersebut sering dijadikan para supir truk untuk beristirahat karena saat aku tiba di toko tersebut ada beberapa truk yang parkir di halaman toko tersebut.

[Artikel perjalanan ajib sebelumnya: Bersepeda Membelah Bumi Sekala Brak]

Kuparkirkan sepedaku, lalu aku pun masuk ke dalam toko untuk membeli air minum. Setelah membayar, aku pun meminta izin kepada si ibu penjaga toko yang sepertinya juga adalah si pemilik toko namun beliau tidak mau mengakuinya. Dengan menyampaikan tujuanku hendak menginap di depan tokonya, beliau cukup ramah dan banyak hal yang kami bicarakan waktu itu. Sempat juga beliau menawarkan salah satu produk hasil usaha masyarakat lokal di sana yang dijual di toko itu. "Biar kalau saya kenapa-kenapa jadi ada kawannya", katanya. Ok. Untungnya tidak ada kejadian yang tak diinginkan terjadi malam itu.

Tempat tidur malam pertama di Toko SRC Nur Gisting

Di hari pertama perjalananku, aku pun tidur di salah satu kursi panjang yang ada di samping toko. Bahkan, disediakan terminal listrik untuk mengisi daya ponselku. Ia juga menawarkanku password wifi tokonya. Tetapi aku menolak karena diizinkan tinggal di tempatnya saja sudah cukup apalagi di samping tokonya ada kamar mandi yang bisa aku pakai. Ya kalau ada wifi juga nanti malah gak jadi tidur.


Gisting Atas, 18 Desember 2019

Azan subuh membangunkanku pagi itu karena masjid tepat berada di sebelah toko yang kuinapi. Di depan toko, masih ada beberapa truk yang parkir karena supirnya masih tidur pulas di kursi-kursi panjang di depan toko tersebut. Sebagian dari mereka ada yang terjaga sambil menyetel lagu-lagu koplo dari ponsel mereka.

Seusai doa mengucap rasa syukur dan meminta berkat, aku pun mengatur rencana dan mengestimasi perjalanan hari kedua. Sesuai yang sudah diperkirakan, hari kedua kuisi dengan menempuh perjalanan dari Gisting sampai ke perbatasan kabupaten Tanggamus dan Pesisir Barat. Tetapi, sebelum memulai perjalanan, pagi itu aku harus kembali menuruni tanjakan Gisting untuk kembali ke Pasar Gisting. Karena ban bocor kemarin, aku harus membeli ban baru lagi sebagai ban serep.

Aktivitas pasar Gisting
Sayang sekali toko sepeda yang aku datangi belum buka karena aku datang terlalu pagi. Sembari menunggu, aku pun keliling sebentar di kota kecil yang berada di tanjakan tersebut. Bagiku, Gisting adalah kota favoritku di Lampung selain daerah yang berada di Lampung Barat karena suasananya yang asri dan dingin. Terlebih lagi, di tepi jalan utama kota itu terdapat sebuah komplek Gereja Katolik bernama Gereja St. Pius yang nyaman untuk dikunjungi. Waktu itu sedang ramai, sepertinya baru selesai kebaktian.

Gereja St. Pius di Gisting, Tanggamus.
Akhirnya ban yang dibutuhkan sudah didapat, waktunya kembali ke toko tempat menginap semalam untuk bersiap-siap dan berpamitan dengan si pemilik toko. Destinasiku pagi itu adalah Kota Agung. Jika semalam sebelumnya aku habiskan dengan menempuh tanjakan, maka pagi itu aku bisa menempuh Kota Agung Pusat kurang dari 1 jam dengan bersepeda karena didominasi oleh turunan sepanjang 22 km. Ganteng!

Toko SRC Nur Gisting dan pemiliknya.

[Artikel perjalanan ajib sebelumnya: Bersepeda Membelah Bumi Sekala Brak]

Kota Agung adalah sebuah kota yang berada di pesisir Teluk Semaka. Kalau tidak salah, otak-otak dari daerah ini terkenal enak namun sayang aku bukanlah penggemar makanan tradisional tersebut. Setelah mengayuh sepanjang jalanan kota, akhirnya hati ini memutuskan berhenti di salah satu Rumah Makan Padang di seberang jalan lantaran melihat sepiring daging ayam ukuran besar yang dipajang di depan masih mengeluarkan asap panas dari penggorengan dan aku pun hanya perlu menghabiskan uang Rp20.000-ku untuk makanan senikmat itu. Onde wednesday~

Foto di sebelah salah satu bangunan di Kota Agung.
Dari Kota Agung, aku melanjutkan kayuhanku menuju sebuah masjid yang selalu dihampiri banyak pengendara untuk beristirahat sebelum atau sesudah melintasi kawasan TNBBS wilayah Semaka. Cuaca hari itu cerah namun berawan. 2 hari bersepeda sudah cukup membuat kulitku yang coklat menjadi lebih gelap. Apalagi aku bukan pesepeda yang akrab dengan pakaian serba panjang seperti pesepeda lainnya. Toh, memang dari dulu sudah seperti itu.

Dermaga Kota Agung, Tanggamus

Sepanjang melintasi jalan kabupaten Tanggamus, aku sering disapa oleh masyarakat sekitar dari yang muda hingga yang tua dengan sebutan Bule atau Turis. Padahal, selama di perjalanan kemarin aku tidak mengenakan masker. Aku sadar mereka semua berusaha untuk menyapa dengan akrab sebisa mereka. Mulai dari memanggilku "mister" hingga menyapaku dengan salam "good morning" padahal waktu itu sudah sore. Hal itu pun menjadi hiburanku sendiri dan tentu ku jawab dengan bahasa Inggris juga karena menurutku ada rasa bangga bagi mereka karena bisa menyapa orang asing apalagi orang luar negeri.

Dermaga Kota Agung, Tanggamus.

Setiap singgah, aku sering dihampiri masyarakat sekitar yang terlihat heran kalau ternyata aku bukanlah turis luar negeri yang mereka kira. Banyak dari mereka geleng kepala setelah kujawab kalau aku bersepeda dari Bandar Lampung menuju Liwa melalui rute tersebut. Soalnya, mereka langsung membayangkan bagaimana bila aku menempuh hutan TNBBS yang dikenal rawan kecelakaan karena bentuk jalannya yang menanjak sangat curam dan panjang. Aku pun hanya menjawab, "Dijalani, kalau capek tinggal istirahat. Terus lanjut lagi."

Sesungguhnya premium di daerah adalah untuk para pengecer.

Tak salah kalau rute Bandar Lampung - Liwa adalah rute favorit bagi mereka yang pernah melintasinya karena banyak sekali pemandangan alam yang bisa dinikmati di sepanjang jalan. Mulai dari persawahan, perkebunan, hutan, dan laut. Sering sekali aku berhenti di suatu tempat untuk sekedar menikmati alam yang tidak bisa aku temui di kota besar ditambah lagi masyarakat sekitar yang menyapa dengan ramah sekali. Gowes dikit. Berhenti. Foto.

Hujan deras di depan mata.

Sore itu aku pun tiba di Masjid Imaduddin di sebuah pekon bernama Way Kerap Semaka. Selain sebagai menjadi tempat beribadah, masjid ini sering dihampiri para pengendara yang hendak atau dari melintas Taman Nasional Bukit Barisan Selatan untuk sekedar beristirahat. Masjid ini juga dijadikan penduduk sekitar sebagai pangkalan mandi karena di masjid tersebut terdapat aliran air segar yang mengalir dari perbukitan di belakangnya.

Masjid Imaddudin sebagai area peristirahatan pengemudi yang baru atau hendak melintasi TNBBS.

Anak-anak mandi di pangkalan Masjid Imaddudin sebelum belajar mengaji.

Minuman yang disediakan cuma-cuma di masjid Imaddudin, Way Kerap, Tanggamus.

Usai mandi, aku pun berbenah mengecek barang dan sepeda kembali karena perjalan sehabis itu akan sangat berat. Dari arah masjid tersebut, rute yang akan aku lewati selanjutnya adalah tanjakan yang sangat curam dan panjang. Tak jarang, ada pemberitaan kecelakaan kendaraan yang sering terjadi di rute ini karena tidak menanjak atau rem blong. Ingat saat bersepeda tahun 2016 lalu, aku dan Bang Firman lebih memilih untuk menuntun sepeda dibanding menaikinya saat menuruni turunan yang dikenal dengan nama Sedayu tersebut.

Badan sudah segar setelah seharian panas-panasan bersepeda dari Gisting. Saatnya mendaki tanjakan Sedayu yang aduhai tersebut. Kukayuh sepeda perlahan dengan cara zigzag supaya menjadi lebih ringan terutama saat melewati tikungan-tikungannya yang tajam.

Tikungan dan truk yang sempat tak mampu melewatinya di Sedayu.

Sesekali aku berjumpa dengan penduduk lokal yang dari penampilannya seperti baru saja pulang dari ladang. Dengan ramah mereka menyapaku atau hanya sekedar tersenyum. Bahkan, ada juga bapak-bapak yang sebelumnya sempat kutemui di masjid ternyata mengikutiku dan menawariku bantuan supaya sepedanya ditarik saja sampai ke atas dengan motor. Namun aku menolaknya karena meskipun memang tanjakan tersebut cukup membuat kelelahan dan sempat membuat pikiranku dipenuhi pertanyaan "Kok mau sih ngelakuin hal seperti ini?", aku sangat-sangat menikmatinya.

Penjaga tikungan yang mendampingi pengendara truk melintas tikungan tajam dan curam di Sedayu.
Buatku, bersepeda adalah cara lain untuk bermeditasi karena bisa dilakukan sendirian dan bahkan sepedaku bisa membawaku ke tempat-tempat yang mungkin belum bisa ditempuh dengan motor atau mobil. Dan antara aku dan sepedaku, bersepeda menempuh jarak jauh menjadi sebuah obsesi dan kesenangan yang menjadi tantangan tersendiri bagiku untuk bisa aku lalui.

Berharap di ujung tikungan itu ada turunan. Namun tidak ada.

Tiba di ketinggian tanjakan Sedayu, aku pun berteduh di sebuah warung kecil untuk membeli air. Berbicara dengan pemilik tokonya akhirnya mengarahkanku untuk melanjutkan sepeda hingga menemukan Balai TNBBS Wilayah Semaka. Menurut pemilik warung, aku bisa bermalam di kantor tersebut karena ada yang menjaganya. Namun setelah sampai di sana, tidak ada penjaga yang berpiket. Aku pun menghampiri salah satu rumah yang ada di seberang kantor tersebut untuk bertanya.

Siapa sangka kalau ternyata pemilik rumah tersebut adalah seorang penjaga balai tersebut. Setelah menyampaikan maksud dan tujuanku, bapak yang akrab disapa Pak Sutris itu pun mempersilakanku untuk bermalam di kantor tersebut.

Pak Sutris adalah warga lokal yang bekerja sebagai pendamping tamu yang hendak mengunjungi TNBBS baik untuk berwisata ataupun tujuan tertentu seperti penelitian. Selama di rumahnya, beliau banyak sekali cerita tentang pekerjaannya yang sudah digeluti kalau tak salah hampir 20 tahun tersebut. Mulai dari membuat jalur lomba "jungle tracking" yang selalu bisa membuat peserta lomba kualahan menyelesaikan misi hingga ceritanya mengusir pengunjung karena niat tidak baik si pengunjung yang hendak berburu atau mengambil satwa atau fauna langka di kawasan tersebut dengan mencatat kordinat di gps yang ia bawa.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 9 malam, aku pun pamit untuk untuk beristirahat di dalam kantor. Tetapi malam itu, tak lama aku di kantor tersebut aku pun mengurungkan diri dan lebih memilih untuk tidur di rumah Pak Sutris karena suasana kantor yang entahlah. Bentuk gedungnya yang besar dan luas membuatku merasa sedang diawasi. Apalagi suasananya yang sepi sekali. Hanya sesekali kendaraan melintasi daerah itu karena berada di tepi belantara hutan hujan sumatra. Parno, euy.


TNBBS Wilayah Semaka, 19 Desember 2019

Aku terbangun begitu saja pagi itu. Rasanya baru saja memejamkan mata tetapi hari sudah pagi. Luar biasa. Sepertinya 2 hari perjalanan sudah membuatku kelelahan hingga bisa membuat tidur malam itu nyenyak sekali. Apalagi sore sebelumnya kuhabiskan menanjak ria di tanjakan paling kejam di provinsi ini. Tapi aku bangga dengan diri sendiri karena bisa mengalahkan musuh terbesarku selama ini, diri sendiri.

Aku dan Pak Sutris.

Setelah mencuci muka dan membereskan barang. Ku teguk teh yang sudah disiapkan istri Pak Sutris saat aku tidur. Hangatnya cara mereka menerimaku di rumah mereka membuat teh itu menjadi sangat nikmat. Aku pun pamit dan meminta beliau untuk foto bersama supaya foto itu nanti bisa aku cetak dan saat melewati jalan tersebut aku bisa kembali singgah dan menyerahkan foto tersebut supaya Pak Sutris tidak lupa denganku.

Aku pun mulai mengayuh kembali. Dari rumah beliau, aku masih harus berurusan dengan tanjakan-tanjakan yang panjang, paling tidak hingga gapura perbatasan kabupaten Pesisir Barat dan Tanggamus. Dari sana sampai ke desa pertama setelah hutan kawasan nanti akan didominasikan oleh jalanan turunan. Ganteng! Akhirnya aku bisa melintasi hutan hujan tropis yang eksotis itu.

Sepedaku di hutan tropis Sumatra
Bersepeda di tengah hutan sendirian saat itu membuatku kembali mengingat-ingat kejadian selama 2 hari sebelumnya. Tak menyangka kalau akhirnya aku sudah bisa sampai di tempat seindah ini dengan bersepeda. Sesekali aku berhenti untuk beristirahat dan mengambil foto. Sempat juga bertemu seekor anak kucing yang sepertinya dibuang oleh seseorang. Akhirnya kucing tersebut ku bawa sebagai temanku selama di hutan hujan tersebut. Tak jarang para pengemudi kendaraan lain yang mendahuluiku heran melihatku membawa kucing di tas belakang sepedaku.

Si Kucing yang kutemui di tengah TNBBS.

Hingga tiba di Way Heni, aku pun meninggalkan anak kucing tersebut di sana. Ternyata hanya butuh 4 jam menempuh hutan hujan dari gerbang rimba wilayah Semaka hingga ke Pekon Way Heni di Bengkunat, Pesisir Barat. Menurut perkiraanku waktu itu, ku kira aku akan menyelesaikan bersepeda hari ketigaku hingga Krui. Namun, ternyata aku baru menyadari kalau aku perlu mengayuh kurang dari 100 km lagi.

Rute hari ketiga memiliki rute yang lebih mudah dibandingkan hari hari sebelumnya karena aku menempuh wilayah kabupaten Pesisir Barat yang didominasi dengan jalan datar dan lurus, namun cuacanya yang cerah sejak pagi membuat hari itu sangat panas sekali tanpa awan sedikitpun. Sesekali aku menepi untuk membeli minuman dingin demi menyegarkan tubuh yang juga jadi ikutan panas. Bahkan panasnya membuat diri ini selalu mengantuk di sepanjang perjalanan.

Sudah berada 181 km dari Teluk Betung Bandar Lampung.
Semakin dekat ke Krui, semakin banyak orang yang menyapaku dengan kepolosan mereka seolah-olah aku adalah pesepeda luar negeri seperti pe-touring yang sering mereka jumpai di sana meskipun aku tidak memakai masker ataupun kacamata.

Ada yang melihatku dengan takjub karena mungkin sepedaku terlihat keren di depan mereka, ada yang menyapaku dengan bahasa Inggris semampu dan setahu mereka. Aku pun sering membalas sapaan mereka dengan menggunakan bahasa Inggris dan juga bahasa Lampung hingga membuat mereka terkejut kalau ternyata aku juga masih orang Indonesia dan bisa berbahasa Lampung. Hahahahaha.

Panasnya hari pun ketempuh demi mencapai pantai pertama di Pesisir Barat yang berada dekat dengan jalan utama. Kukira aku aku akan tiba tidak lama setelah melewati pekon Way Heni. Namun pada kenyataannya, pantai itu masih jauh di depan mata. Aku masih harus melewati banyak tanjakan-tanjakan Bukit Barisan dan banyak pekon pekon kecil yang sepi dilewati kendaraan besar.

Bukit yang habis dibakar lalu ditanam padi darat.

Setelah jauh mengayuh, akhirnya suara riuh ombak besar sudah mulai terdengar. Ku kencangkan laju sepedaku karena tak sabaran ingin melihat ombak samudra yang menyentuh pantai coklat di tepi jalan raya itu. Aku lupa namanya, tetapi suasana pantainya yang jarang sekali dikunjungi dan pasir pantai yang luas membuat diriku selalu menyempatkan diri untuk singgah setiap kali melintasi pantai ini saat berkendara.

Sendirian di tengah pantai samudra luas.
Rasanya kegembiraan saat tiba di pantai ini membuatku ingin menangis mengingat aku telah menghabiskan hampir 3 hari dan menembus hutan belantara bersepeda dan akhirnya bisa mencapai salah satu tempat paling indah di Lampung ini. Tapi gak jadi nangis beneran sih. Hehehehe. Usai mengambil beberapa foto, aku pun bergegas kembali mengayuh sepeda melanjutkan perjalanan karena cuaca yang tiba-tiba berubah menjadi kelabu dan akhirnya hujan.

Pantai favorit di ujung selatan Pesisir Barat.
Kukayuh sepeda menelusuri jalanan lurus khas kabupaten Pesisir Barat yang ukurannya hanya selebar dua mobil yang berpapasan hingga ke kota Krui. Meskipun sepi, sesekali aku harus menghindar ke pinggir jalan karena mobil-mobil yang melintas sangat cepat. Biasalah, jalanan lurus dan sepi selalu menjadi godaan para pengendara untuk membuat kendaraannya melaju dengan cepat.

Si Bebek, teman bersepeda ke Liwa.
Hari ketiga itu aku menargetkan akan bermalam di rumah saudaraku, Kak Nova Siregar. Sesuai arahan dia di chat whatsapp tempo hari, akhirnya aku menemukan rumah yang aku tuju sorre itu. Aku pun disambut oleh orang tua kakakku yang dari sehari sebelumnya sudah sibuk meneleponku padahal posisiku masih sangat jauh rumah.

Pemandu cilik saat aku sedang berteduh di pantai tepi jalan yang kulintasi.

Setelah bersih-bersih, aku pun langsung dijamu oleh kedua orang tua Kak Nova yang kupanggil Bapatua dan Mamatua. Panggilan tersebut adalah tutur untuk orang tua yang marga ayahnya sama dengan marga kita dalam adat Batak. Seketika rasa rindu rumahku langsung terobati meskipun sebenarnya aku belum benar-benar sampai ke rumahku.

Mamatua mengira bahwa aku akan tiba di rumah sehari sebelumnya. Padahal saat beliau menghubungi, aku masih sibuk bertarung ngos-ngosan melewati tanjakan-tanjakan curam di Sedayu. Beserta kelapa merah spesial yang disiapkan hanya untuk diriku, kami pun mengobrol panjang lebar karena sudah bertahun lamanya tidak berjumpa. Alangkah bahagianya hidup ini disambut hangatnya keluarga setelah berhari-hari melakukan perjalanan jauh.

Sebuah madrasah di daerah Bengkunat

Ngambur, 20 Desember 2019

Keesokan paginya, aku pun bangun dengan lebih semangat dari hari-hari sebelumnya karena hari itu adalah hari terakhir aku bersepeda menuju kampung. Segera aku pergi ke dapur untuk minum lalu bergegas keluar rumah untuk melihat bahwa cuaca hari itu cerah sekali. Langit di Barat Lampung menunjukkan kekhasannya yang menenangkan itu.

Dari saat tiba di rumah Kak Nova kemarin sebenarnya aku sudah penasaran dengan suara ombak yang terdengar bila sedang berada di belakang rumah. Maka hari itu aku harus menuntaskan rasa penasaranku supaya bisa pulang kampung dengan tenang tanpa diselimuti tanda tanya. hahaha.

Kebun kelapa di Ngambur.

Tak sabar aku ingin melanjutkan dan menyelesaikan perjalanan terpanjangku kembali ke Liwa. Sepertinya malam ini aku akan tiba di rumah. Sembari menunggu mamatua menyiapkan sarapan, aku pun keluar bersepeda ke pantai di belakang rumahnya. Melintasi perkebunan kelapa, aku pun tiba di pantai yang ternyata memiliki pasir pantai yang sangat luas.

Pantai belakang rumah bapatua di Ngambur.
Aku pun menelusuri bibir pantai tersebut dan menikmati deru ombak dan angin yang menghampiri. Menyenangkan sekali karena akhirnya dapat mewujudkan impian bersepeda di pantai seindah itu. Memang, pantai-pantai di Pesisir Barat terkenal akan keindahannya yang bukan hanya isapan jempol semata. Pantai samudranya yang berada di daerah yang jauh dari kota membuatnya memiliki keindahan tersendiri. Tidak hanya indah, ombaknya yang besar sering menjadi destinasi bagi para peselancar mancanegara karena menantang dan masih sepi.

Nelayan tanpa melaut.

Tak terasa sudah 1 jam berlalu, aku pun kembali ke rumah saudaraku untuk bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Rute untuk hari itu sudah tidak seberat hari-hari sebelumnya karena elevasinya yang datar memanjang hingga ke Kota Krui nanti.

Namun sayang tidak seribu sayang, hari itu sepedaku bermasalah. Hub bagian belakang sepedaku tidak berfungsi sesuai yang semestinya. Los. Sepertinya pelor-pelor di dalamnya sudah habis apalagi kemarin-kemarin dipakai menanjak tanjakan yang elevasinya sangat tinggi, otomatis ada dorongan yang sangat besar yang memungkinkan pelor di dalamnya pecah. Apalagi semenjak beli, hub tersebut belum pernah aku ganti. Sial. Di tempat seperti itu mana mungkin ada jualannya dan tentu membutuhkan waktu yang lama untuk memperbaikinya. Ya sudahlah, tidak ada pilihan. Aku sudahi saja perjalanan bersepedaku kemarin sampai di Ngambur.

Gulungan tali yang dipakai untuk menjala ikan di ombak laut.

Tidak ada perasaan kecewa sama sekali hari itu karena aku sadar bahwa tidak semua hal akan terjadi sesuai yang aku inginkan. Walaupun sepertinya persiapanku terasa kurang matang. Tak apa. Toh, memang hidup ini berjalan diluar dugaan kita, kan?

Aku pun kembali menyandarkan sepedaku dan menurunkan barang muatannya lalu memutuskan untuk kembali ke Liwa dengan menaiki bus saja. Beruntung hari itu bus damri jurusan Bengkunat Belimbing - Liwa melintas 2 kali sehari pada jam 7 dan jam 2. Akhirnya, ku habiskan hariku di rumah bapatua di bawah pohon favorit mereka itu sembari menunggu bus melintas di depan rumahnya.

Bersama Maktua dan Bapatua di tempat favorit mereka menghabiskan hari jika sedang panas dan tidak kemana-mana.

Setelah menanti, bus damri itu pun tiba. Cukup membayar Rp20.000,- aku pun sudah bisa sampai Liwa dengan aman. Selama perjalanan itu pun aku terlarut dalam renungan betapa beruntungnya diriku bisa melakukan perjalanan ini walaupun aku tidak bersepeda sampai ke rumah. Namun, rasa syukur inilah yang membuat diri ini tidak menyesalinya bahkan memberi harapan-harapan baru untuk melakukan hal-hal lainnya lagi demi mengalahkan ego diri sendiri.


Akhirnya sepedaku lelah.
Tiba di Liwa, aku pun langsung mencari bengkel sepeda yang bisa menangani masalah pada sepedaku. Tentu bengkel yang mumpuni tersebut adalah bengkel sepeda langganan kami di Liwa walaupun sampai sekarang aku tidak tahu nama bengkelnya. Hehehehe. Setelah dicek, uda teknisi yang mengecek sepedaku pun menyanggupi memperbaiki hub sepedaku yang sudah usang itu tanpa harus menggantinya dengan yan baru sehingga aku masih tetap bisa bersepeda selama tinggal di Liwa akhir tahun kemarin. Gokil, Uda!

Beruntung ada teknisi sepeda yang bisa menangani masalah sepedaku :3
Tiba di rumah aku pun disambut ibu dan bapak yang selalu asik dengan tontonannya tv sambil terheran-heran senekat itu diriku bersepeda. Segera aku membersihkan diri dan lalu membuat catatan-catatan kecil agar tidak lupa dan akhirnya tulisan tersebut bisa aku tulis di dalam artikel ini. Perjalanan, fotografi dan blog ini pun menjadi motivasiku untuk melakukan hal-hal baru ataupun bila tak baru aku perlu menulisnya supaya suatu saat ketika aku terjatuh, aku pernah berusaha untuk, bukan menaklukkan dunia, tetapi diri sendiri.

Comments

  1. Replies
    1. Wow. Terima kasih sudah baca-baca ya, meskipun belum aku selesaikan, hohohoho~

      Delete
  2. Replies
    1. Terima kasih sudah baca-baca ya, Ziz! Salam pramuka.

      Delete
  3. Replies
    1. Thank you for reading the article, hahaha. Egg good~

      Delete
  4. Saya cuman punya seprda fixie. Kalo pake Turing gmn kira" senpai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa tidak, terakhir pernah lihat pesepeda dari luar keliling dunia cuma pakai sepeda bmx. Hahahaha, yang penting kan mau digowes. eaaa~

      Delete
  5. Kita ke bengkulu dio setsetelah ini...

    ReplyDelete
  6. aku dateng ke akun ini dari diskusi komentar marga Siregar di wordpress. kaget banget pas liat "about me" nya ternyata blasteran Lampung dan Batak. kok sama banget haha saya marga Siregar dan lahir di Teluk Betung dari ibu asli Lampung. salam kenal semoga sehat selalu!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, tidaaak. Bapak dan ibuku sama-sama orang Batak, cuma karena aku lahir dan besar di Lampung, jadi wajar dong kalau aku mengakui sebagai orang Lampung, hehehe

      Delete

Post a Comment

Tell me anything on your thought. Thank you.

You can also read this