Pesta Sekura, Halloween ala Lampung Barat

 
Ada empat pilihan kegiatan yang biasa dilakukan oleh warga Liwa dan sekitarnya dalam mengisi hari raya Idul Fitri setiap tahunnya. Diantaranya: diam di rumah, ke tempat kawan dan saudara, pelesiran ke danau Ranau atau pantai-pantai Krui dan yang terakhir, menonton Pesta Sekura atau Sekuraan.

Sekura ya, bukan sakura, kalau itu sih adanya di Jepang sana.
 
Sekura betik dan penonton
  
Setelah beberapa hari diam dan melakukan tugas rumah, pada hari lebaran ke-4 kemarin (10/7), saya dan adik saya berangkat menuju Gedung Dalom Kepaksian Pernong di Pekon Balak kecamatan Batu Brak untuk ikut merasakan kemeriahan pesta Sekura.
  
Sekura sekura betik
  
Pesta sekura atau sekuraan (orang yang menggunakan topeng) adalah salah satu budaya asli Lampung Barat yang biasa digelar bergiliran dari satu desa ke desa lainnya pada hari raya Idul Fitri, biasanya dari 1 hingga 6 Syawal.
 
Walaupun anak perempuan, tapi tetap gagah, kan?

Ramai sampai macet.
  
Tradisi sekura lahir sebagai bagian sejarah dari masuknya ajaran agama Islam ke bumi Sekala Brak. Kala itu kerajaan Sekala Brak yang masih menganut animisme akan berperang melawan rakyatnya yang sudah menjadi Islam yang dipimpin oleh Maulana Penggalang Paksi beserta keempat anaknya, Maulana Pernong, Maulana Lapah di Way, Maulana Belunguh dan Maulana Nyerupa. Mereka pun berperang dengan menggunakan sekura untuk menutupi wajah mereka supaya tak dikenal oleh lawan mereka yang merupakan kerabat mereka sendiri.

Sekura kamak

  
Meski perang telah lama usai, pesta sekura pun masih tetap lestari hingga kini dan selalu digelar sebagai wadah silaturahmi antar warga hingga desa satu ke desa lainnya. Sekura biasa diadakan di pekon-pekon (kampung) besar di Lampung Barat seperti Way Mengaku, Liwa, Gunung Sugih, Kegeringan, Pekon Balak, Canggu, Kotabesi, Belalau hingga Bakhu, tetapi kali ini juga ada pekon-pekon yang mulai mengadakan Pesta Sekura seperti pekon Padang Cahaya dan Kebun Tebu. Kawan juga pernah bilang kalau ternyata di kabupaten Tanggamus pernah ada acara sekuraan, namun tak seramai di Lampung Barat.

Update status pai.

  
Pada saat sekuraan, tak jarang semua pemilik rumah panggung sekitar pesta terlihat membuka semua pintu dan jendelanya supaya dikunjungi. Jadi, jangan sungkan-sungkan singgah di rumah warga untuk bersilaturahmi. Enggak kenal? ya kenalan, dijamin dikasih makan enak oleh tuan rumah. ;)
 
Menyaksikan hiruk pikuk sekura dari atas rumah.
Rombongan sekura betik dari pekon Kembahang, yang gak pakai celana itu kawan saya, Oka.
  
Sekura Kamak dan pengunjung yang menonton
  
Kita akan melihat banyak orang dari anak-anak sampai yang dewasa menjadi sekura. Dari dandanannya, bisa dibilang pesta ini seperti halloween di Amerika. Bedanya, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk bersenang-senang dan berbaur bersama sekura lainnya. Bahkan, kita pun boleh turut serta menjadi sekura juga lho.
 
 
Ada 2 jenis sekura, yaitu Sekura Betik / Kecah (bersih) dan Sekura Kamak (kotor). Jenis sekura yang banyak diperankan oleh anak-anak ini berpenampilan bersih dan rapi layaknya jawara, dandanannya didominasi oleh lipatan-lipatan kain panjang khas Lampung Barat, selindang miwang yang biasa dipakai untung mengggendong bayi dengan memakai kacamata gelap dan membawa senjata tajam -beneran- seperti parang, sabit, golok sampai pedang.
 
Sekura betik / kecah
  
Sedangkan Sekura Kamak berpenampilan benar-benar kotor dan biasanya didominasi oleh orang dewasa. Mereka memakai topeng yang diukir dari kayu atau bahan tumbuhan lainnya, lalu memakai pakaian dari barang bekas. Mereka berkumpul berkelompok lalu salah satu dari mereka akan nyambai (bernyanyi) dan yang lain mengiringinya dengan menabuh alat musik hadra (sejenis rebana) untuk membuat pesta semakin meriah. Terkadang juga sekelompok sekura kamak datang dan berbaur sambil bernyanyi dan menari bersama-sama diiringi oleh tak cuma hadra, apapun yang bisa bersuara sampai panci pun mereka bawa dari rumah untuk membuat acara semakin seru dan heboh.



Sekura kamak
Sepanjang hari sekura akan pergi berkeliling desa, berbaur, bersilaturahmi dengan sesama atau orang-orang yang datang pada kegiatan itu dan bersenang-senang selayaknya merayakan hari kemenangan dari berpuasa Ramadhan. Malahan, sekura pun bisa jadi ajang berkenalan dengan muli (gadis) yang datang pada acara itu.

Sekura sekura cilik

Mr. Zane pemilik salah satu cottage di pantai Labuhan Jukung Krui pun ikut menyaksikan keseruan pesta Sekura
Layaknya teater luar ruang, siapa pun boleh ikut serta bersenang-senang dan larut dalam keseruan pesta sekura. Menjelang sore, pesta sekura pun akan diakhiri dengan dipanjatnya buah-buah (batang pinang berhadiah) oleh kawanan sekura kamak secara bergotong-royong.

Batang pinang berhadiah atau buah di beranda Gedung Dalom yang dipanjati oleh sekura anak-anak.

Komentar

  1. Kagum dengan yang namanya "pesta sekura" ini. Begitu antusiasnya masyarakat Liwa meramaikan acara tanpa ada paksaan dan bayaran :)
    Tak pernah bosan untuk datang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beh, saya juga nih Om.
      Saya rasa pesta sekura itu benar-benar sejatinya "pesta rakyat" dimana masyarakat Liwa sadar kalau mereka adalah pelaku dalam budayanya, bukan sekedar penonton budaya sendiri di tanah sendiri. Sekura itu acara paling unik pokoknya!

      Hapus
  2. tradisi dari adat liwa yang ini sangat menarik dan seharusnya tradisi ini selalu dijaga kelestariannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali bang! Inilah uniknya, masyarakat sudah ikut andil dalam pelestarian sekuraan dengan menjadi sekura, tak hanya menyaksikan.

      Hapus
  3. nah ini yang kemaren pengen di samperin tapi gak jadi hikss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, jangan sedih mas, masih bisa liat di Festival Sekala Brak 3 minggu ini kok, ya walaupun mungkin aksi-aksinya gak seheboh pas pesta sekura di pekon-pekon waktu lebaran :D

      Hapus
  4. Udah bertahun-tahun tinggal di Liwa, baru tahu kalo Sekura itu ada 2 jenis. Sekura Betik n Sekura Kamak. Gak gehol banget ih aku ini. Hahaha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, sama aja kak, seandainya dulu aku gak sekolah di Batu Brak, mungkin aku juga gak bakal ngerti apa itu Sekura, setelah tau, ternyata seru juga kalau diikutin, belum lagi dari sejarah sama tingkahnya :D

      Hapus
  5. Wah, baru tahu aku dengan Pesta Sekura adat Liwa, Lampung. Keren. Itu mukanya kudu ditutup ya, padahal, aku kan pengen melihat wajah cowok-cowok Lampung, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Unik kan? Iya begitu kak, mereka menutupi wajah dengan kain supaya enggak malu waktu berkenalan dengan cewek yang mereka temui di pesta, biasanya mereka bakal buka topeng kalau singgah ke dalam rumah atau gak klo acara udah usai :D

      Hapus
  6. Weitz.. iya nih, Halloween versi Indonesia! Kostumnya lucu-lucu, pasti seru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru kan! yaa walaupun masih ada juga yang takut sama penampilan sekura kamak, padahal mereka semua baik lho, suka seru-seruan ;)

      Hapus
  7. Ini pesta saruuuung... hahahaha....
    Tapi seru. Kostum Halloween ala Indonesia memang identik dengan karung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha.. yo beda, kain yang mereka pakai itu bukan sarung, tapi kain selendang yang biasa dipakai ibu-ibu buat gendong bayi :D

      Hapus
  8. Pas baca, aku kira namanya Sakura. Hehehhe, matanya agak2 siwer... 😝

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, beda tipis ya, makanya di awal aku terangin bedanya sekura sama sakura :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer