Mengikuti Balapan Sepeda di Sriwijaya Ranau Gran Fondo 2020

Setelah bertahun-tahun aktif bersepeda, akhirnya aku berkesempatan untuk mengikuti balap sepeda yang diadakan oleh pemerintah provinsi Sumatra Selatan yang ternyata sudah 2 kali ini digelar, yaitu Sriwijaya Ranau Gran Fondo, yang berlangsung di tepi Danau Ranau.

Karena berada di kota tersebut, tentu aku mengambil kesempatan untuk sekaligus pulang kampung ke Liwa. Sepeda gunungku satu-satunya itu pun diangkut dengan menumpang Bus AC Sekala Brak dengan biaya tambahan sebesar lima puluh ribu rupiah.

Nomor pesertaku

Sudah tentu sebelum dibawa pulang ke Bumi Sekala Brak, kupercayakan sepedaku kepada teman di Teman Bike untuk mengecek sepedaku yang beberapa bagiannya sebenarnya perlu untuk diperbarui.

Sepedaku dilengkapi aero bar yang dipinjamkan oleh Anggilang dari Teman Bike
Karena berita gran fondo ini, aku pun dipinjamkan sepasang aerobar yang bisa dipasang di stang sepeda supaya bisa melaju lebih cepat saat jalan datar. Jujur saja, baru ini aku mengetahui eksistensi alat macam tanduk itu.

Pada hari H, aku berangkat menuju Banding Agung pukul 4 pagi supaya tak terlambat. Pun baru ini aku bermotor dengan sepeda kuikat di atasnya meluncur menuruni Bukit Barisan menuju tepian danau Ranau pada dini hari sejauh 50 km dari rumah. May the Force be with the lone cyclist
 
 
Tiba di lokasi, tak butuh waktu lama untuk bisa merakit sepeda dan siap dikayuh. Sebelum ke tempat berkumpul, kutitipkan motorku di salah satu rumah warga yang dipakai sebagai tempat menginap (homestay) bagi para kontingen peserta lomba.

Panorama pagi di garis start SRGF 2020 di Banding Agung, OKU Selatan

Menurut MC yang bertugas, SRGF tahun ini telah diikuti hingga 2000an peserta dan terbagi menjadi 3 kategori, yaitu Road Bike (2 putaran), Mountain Bike, dan Tiny Wheel (sepeda lipat, minivelo, dan minion).

Terasering Desa Villa di tepi Danau Ranau, OKU Selatan, Sumatra Selatan

Secara teknis, gran fondo adalah istilah untuk bersepeda berjarak 100 km. Bagi pesepeda yang rajin merekam kegiatan olahraganya dengan Strava, pastilah akrab dengan istilah ini. Tetapi di perhelatan ini, hanya road bike saja yang menempuh 2 putaran (total 100 km), sedangkan kategori lainnya hanya 1 putaran (50 km).
 
Perlombaan dimulai, rombongan road bike diikut sepeda lainnya digiring menuju keluar kota. Semua peserta pun memacu sepedanya untuk menjadi yang terdepan sejak iring-iringan dimulai. Aku tak mau kalah. Berada di tengah kerumunan di perlombaan seperti ini bisa menjadi blok, harus menjauh.

Afik yang mendadak ikutan SRGF

Rute balapan pada perhelatan ini dimulai dari Banding Agung, Simpang Sender, Pantai Lama Kutabatu, Objek Wisata Pusri melintasi tepi danau, dan berakhir kembali ke panggung utama di Banding Agung. Rute melingkar ini merupakan jalur wisata yang biasa dilalui para wisatawan jika hendak bertamasya menikmati panorama Danau Ranau di bagian Sumatra Selatan. 

Balapan

Akhirnya, rute sepanjang 49 km dengan turunan dan tanjakan yang aduhai itu berhasil kulalui nonstop. Ada perasaan menantang saat mengayuh sepeda agar berjalan kebut dan bisa mendahului beberapa pesepeda lainnya. Di akhir, aku behasil masuk sebagai salah satu dari 80 finisher mountain bike dan mendapatkan sebuah medali finisher.

Bersama teman-teman Kelas Pagi CC yang juga menjadi finisher.

Tentu rasanya sangat menyenangkan sekali bisa menjadi salah satu finisher dalam balapan ini, apalagi dengan sepeda gunungku yang sebagian part-nya sebenarnya butuh di-update.

Sepeda-sepeda mtb yang menjadi finisher di kelasnya

Comments

You can also read this