Jadi Anak Pantai di Utara Pesisir Barat Lampung

Pagi dari belakang rumah kakek Icel di Pugung Tampak.
  
Pagi itu kami sudah berada di sebuah pekon (kampung) kecil di tepi pantai bernama Walur. Ombaknya terdengar hingga ke beranda rumah Tamong si Marcellia, teman kecil yang mengajak kami berakhir pekan di kampung halaman ibunya.

Menikmati ombak pagi.

Sarapannya spageti, coy! Biasanya uduk tempe doang.
   
Berangkat pada hari Jumat, jam 10 malam, aku bersama Loren, Indah, Radho, Bang Rachman, Taqim dan Marcellia pun sampai di pekon Walur pukul 6 pagi. Sungguh perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan, meskipun selama di perjalanan kami tidur. Kami melintasi jalan lintas barat Sumatra yang membelah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan melewati kabupaten Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus sampai ke Pesisir Barat. Rute yang pernah ku lewati dengan bersepeda selama 4 hari pada tahun 2016.

(Cerita selengkapnya: Perjalanan Bersepeda Membelah Bumi Sekala Brak)

Perahu di tepi pantai sekitar pesisir Pugung Tampak.
  
Kami tak khawatir dengan bentuk jalan yang didomasi oleh tikungan dan tanjakan curam, apa lagi tanjakan Sedayu yang terkenal bahaya curamnya, karena supir dan mobil yang disewa Indah, sangat handal, ditambah lagi ada si Radho yang tak kalah handal mengendarai mobil sampai kami duduk terpental-pental di setiap tikungan tajam. Joss.

Pekon Walur, Pugung Tampak.
  
Setelah sedikit mengobrol dengan Tamong (kakek) Icel, kami semua langsung segera ke belakang rumah tamong. Penasaran. Ternyata apa yang dikatakan mama Icel sewaktu ia mengantar Icel ke Rumah Inggris sebelum berangkat ke sini benar. Samudra Hindia bahkan matahari terbenam pun benar-benar persis berada di belakang rumah tamong.

Menikmati deburan ombak.
  
Pekon Walur berada di daerah Pugung Tampak, Pesisir Utara, kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Butuh waktu sekitar 1 jam untuk bisa menempuh pekon Walur dari ibukota Pesisir Barat, Krui.

Banyak sekali pohon kelapa di pekon ini. Tak jarang warga setempat melepas hewan peliharaannya begitu saja di bawah teduh pohon-pohon kelapa di tepi pantai. Saat akhir pekan, banyak pengunjung berlibur di pantai-pantai Pesisir Barat dengan cuma-cuma.

Kebun kelapa di pekon Walur.
Sapi-sapi dilepas di tepi pantai.

Anak-anak pekon bermain kepiting.
  
Puas tidur siang setelah terkantuk-kantuk akibat perjalanan semalam, kami pun keluar berkeliling pantai. Seharian itu kami habiskan dengan bersantai ria menikmati alam yang tersajikan dengan cuma-cuma. Sore itu juga ada banyak peselancar asing yang sedang beraksi seirama dengan gulungan ombak yang notabene bisa sampai 3 meter tingginya.

Kendaraan para peselancar yang akan berselancar di pantai Walur.

Walur Surf House, pondok penginapan milik keluarga Icel.

Walur Surf Cottage

Seharian membaca buku dan minum jus sirsak.

Bersantai menikmati ombak laut di Walur Surf House.
  
Tamong pun meminjamkan papan selancar yang terdapat di pondok dekat rumahnya untuk dimainkan di pinggir pantai. Tanpa basa-basi, tiba-tiba Radho sudah berada di tengah gulungan ombak di tengah sana. Padahal, jangankan berselancar, perjalanan ini adalah kali pertamanya melihat ombak samudra. Waswas sudah kami di buatnya. Tetapi beruntung di ombak sana, dia diperingati salah satu peselancar asing untuk kembali ke tepian karena butuh keahlian khusus untuk menghadapi ombak-ombak besar Samudra tersebut. Berselancar di laut berbeda dengan bermain selancar di wahana ombak kolam renang.

Rado setelah nekat menembus ombak untuk berselancar. Gila.
  
Perlu diketahui bila sebenarnya laut pesisir barat Lampung sudah banyak merenggut korban setiap tahunnya dan banyak dari mereka adalah bukan warga lokal, melainkan pendatang yang sedang berwisata. Tentu sudah ada larangan untuk berenang di pantai, namun masih banyak dari mereka yang tak peduli dengan larangan tersebut padahal laut yang sedang mereka kunjungi ini adalah pantai laut lepas. Peselancar pun sering batal berselancar bila keadaan laut dan ombaknya tiba-tiba tak bersahabat.

Senja menjelang.

Anak-anak pekon megambil kelapa.
  
Banyak sekali hal-hal yang kami lakukan di sana. Hal yang selalu ku sadari, seperti di kampung halamanku Liwa, bahwa waktu di tempat ini berjalan sangat lambat sekali. Kami benar-benar menikmati suasana di sana. Tiduran di tepi pantai di mana hanya suara ombak yang terdengar, memanjat kelapa dan menikmati buahnya, berjalan mengitari pepohonan kelapa yang berdiri rapi di sepanjang pantai, mencari makhluk-makhluk laut seperti umang-umang, kepiting, dan bintang laut, hingga memperhatikan taburan gemintang yang terlihat jelas sekali malam itu yang kalau saja ku punya kamera lebih baik aku sudah pasti memotonya sepanjang malam.

Degan yang diambil dari pohon kelapa sekitar rumah Tamong.
  
Puas menyaksikan matahari terbenam di ujung cakrawala, malam itu kami habis kan dengan makan malam dan bercengkerama dengan Tamong Icel. Senang berada seharian di sana, apa lagi karena bertemu dengan Tamongnya Icel. Kami pun harus pamit malam itu karena besok pagi kami harus sudah jalan kembali ke Bandar Lampung.

Foto bersama Tamong Icel. Si Icel yang berjilbab biru.

Barisan rumah panggung di pekon Way Narta, Pesisir Utara.

Singgah sebentar di Pantai Batu Tihang, Kotakarang, Pesisir Utara.

Kotakarang, Pesisir Utara
 
Singgah lagi di Pantai Labuhan Jukung, Krui.

Komentar

  1. Balasan
    1. Acara Rumah Inggris nih pak, aku juga sih tadinya gak mau ikut, hahaha

      Hapus
  2. Wah, betapa segarnya mata kalau di belakang rumah begitu pemandangannya. Saya kagum dengan jajaran pohon kelapa yang rapih ditanam, jadi estetikanya ada gitu kalau di foto wkwkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, apa lagi ditambah ada bule-bule yang lewat di situ juga, makin mantap, hahaha

      Hapus
  3. Seru ya kalau rumah kita ketika setelah halaman belakang langsung laut. Nikmat banget memandang matahari terbenam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali, apa lagi kalau lautnya bukan di belakang rumah tetapi di depan rumah seperti di luar negeri, duduk-duduk di beranda sambil ngopi kopi liwa, buuuuh~

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer