Menjelajah Semarak Budaya Festival Krakatau Lampung

Topeng menjadi tema dalam Jelajah Semarak Budaya di Festival Krakatau 2016

Sore itu matahari bersinar sangat cerah di lapangan Saburai. Dari sana akan menjadi titik mulai parade budaya hari itu, Minggu, 28 Agustus 2016 dan berakhir di tugu adipura atau biasa disapa tugu gajah oleh masyarakat Bandar Lampung.

Penari naga

Pemusik dan penari naga

Tak jarang banyak dari para peserta parade yang sepertinya sejak siang sudah berdandan sampai sikop (cantik) itu mencari tempat untuk berteduh sambil menunggu parade dimulai. Sesekali mereka berpose atau cuma senyum lantaran sadar ada kamera yang sedang fokus ke arah mereka.

Gitapati.

Berteduh

Peralatan memotret sudah siap. Rasanya senang betul Vincent mau meminjamkan kamera DSLR kerennya itu. Maklum saja, sebenarnya sekarang aku sudah jadi seorang cameraless karena kamera mirrorless yang biasa menemaniku 2 tahunan ini terpaksa pensiun dini sehabis diterjang ombak besar samudra Hindia di pantai Mandiri, Pesisir Barat lebaran kemarin. Sedihlah pokoknya. Bikin patah hati juga. Jadi bersyukurlah aku karena masih ada yang tetap menghiburku walau ku tak bersamanya eh, jadi baper. Maksudnya si Tius mau pinjamkan kamera dan lensa-lensanya yang keren itu. Yaaa walaupun sebenarnya karena waktu itu dia gak bisa menyaksikan parade dan lagi butuh sepedaku untuk persiapan propti di kampusnya. Cie, maba. Makasih banyak ya, beruntung kau jadi kuliah di Unila.

Pahar, wadah makanan raja yang biasa dibawa oleh ibu-ibu.

Pokoknya ku senang, akhirnya bisa ikut menyaksikan lagi acara puncak Festival Krakatau yang sebenarnya di tahun-tahun sebelumnya parade budaya ini lebih akrab dengan sebutan Tapis Carnival.

Topengnya unik.

Diambil dari nama gunung api di Selat Sunda yang sangat terkenal karena letusannya yang dahsyat hingga menggetarkan seantero bumi tepat 133 tahun lebih satu hari silam, 27 Agustus 1883. Ya, pasti kamu tau kan gunung apa namanya? Sekarang, Festival Krakatau menjadi perhelatan unggulan provinsi Lampung sebagai ajang promosi kekayaan budaya dan pariwisata Lampung. Kalau gak salah dari tahun 1991 sampai sekarang. Tapi sayang gak seribu sayang, 4 kali sudah ku menyaksikan sajian acara Festival Krakatau, aku belum pernah kunjung mendaki gunung Anak Krakatau yang legend itu. Mungkin nanti, suatu hari lagi, hehehe

Gajah-gajah yang didatangkan langsung dari Taman Nasional Way Kambas.

Ada banyak yang berbeda di Festival Krakatau tahun ini. Semua rangkaian acara sejak 25-28 Agustus itu bertemakan Jelajah. Seperti Jelajah Pasar Seni atau pameran seni dan fotografi di Mall Boemi Kedaton, Jelajah Layang-layang atau festival layang-layang (internasional lho, diikuti 4 negara) di Stadion Sumpah Pemuda Way Halim, Jelajah Rasa atau wisata kuliner di Lapangan Saburai, Jelajah Krakatau atau mendaki Gunung Anak Krakatau, dan Jelajah Semarak Budaya sebagai puncak dari festival tersebut.
 
Adek-adek manis bertopeng.

Seluruh rangkaian acara jelajah tahun ini pun lebih fokus diadakan di ibukota provinsi, kota Bandar Lampung. Tak seperti di tahun-tahun sebelumnya yang mengusung acara dan kompetisi di berbagai daerah di Lampung seperti kompetisi selancar di pantai Tanjung Setia Pesisir Barat, pesta pantai di Pesawaran, menyelam di teluk Lampung, bike explorer di Lampung Selatan, lomba baca puisi, dsb.
 

Ternyata gak cuma tentang rangkaian acara yang berbeda, tema pawai budaya Festival Krakatau kali ini juga berbeda dibanding tahun sebelum-sebelumnya, semua peserta memakai topeng. Iya, semua peserta parade pada bertopeng. Wah, padahal biasanya cuma kabupaten Lampung Barat dan Lampung Selatan saja deh yang selalu tampil atau memiliki kebudayaan tentang topeng sampai sekarang pikirku, tapi kali ini hampir semua peserta pawai memakai topeng kreasi dearahnya masing-masing. Wah, kalau kata bapak Wakapolda Lampung Krishna Murti: "Lampung Kece!"

Penari kipas bertopeng.

Loh, kok tumben topeng? Kenapa kok temanya topeng? Biasanya tapis atau gak siger? Okelah, jawabannya.. Sudah liat kostum kontingen Indonesia di pembukaan olimpiade di Rio kemarin kan? Gimana respon warga dunia yang menyaksikannya? Terpesona kan? Berarti, intinya Tapis dan Siger sudah go international, tik. Gokil kan. Jadi, sekarang saatnya membawa budaya Lampung yang lainnya supaya bisa dikenal oleh orang banyak.
  
Peserta pawai dari Sekolah SMA YP Unila.

Bicara soal topeng, Lampung punya budaya dan sejarah tentang topeng yang menurut ku punya keunikan tersendiri dibanding budaya topeng dari daerah lain, yaitu Sekura dan Tupping.
  
Menari tari Sekura.

Sekura atau Sekuraan (orang yang menggunakan topeng) adalah kebudayaan asli Lampung Barat yang lahir sebagai bagian dari sejarah masuknya agama Islam ke bumi Sekala Brak. Sekuraan biasa digelar saat hari raya Idul Fitri dari hari lebaran pertama hingga hari keenam secara bergiliran dari satu pekon (desa) ke pekon lainnya. Terlihat seperti lingkup teater luar ruang, dari anak-anak hingga orang dewasa berdandan menjadi sekura kecah dan kamak, lalu berkeliling desa, berbaur, bersilaturahmi dengan orang asing, kawan ataupun sanak saudara. Mereka bersenang-senang layaknya merayakan hari kemenangan. Selengkapnya: Pesta Sekura, Halloween ala Lampung Barat.

Tupping dari Lampung Selatan. Yang putih namanya Mata Sipit, katanya.

 Ada sekura, ada lagi namanya tupping, walaupun arti katanya sama, sekura dan tupping memiliki fungsi yang berbeda. Tupping berkembang sebagai aksesoris penting di daerah Kalianda, Lampung Selatan untuk dikenakan oleh pendekar atau pengawal raja pada masa itu. Berbeda dengan sekura yang siapa saja boleh menjadi sekura, ada 12 tupping dengan 12 karakter berbeda yang dianggap memiliki nilai sakral yang tinggi, jadi gak sembarang orang boleh memakainya. Misalnya di daerah Kuripan, hanya orang yang memiliki garis keturunan tertentulah yang boleh memakai tupping tersebut. Sedangkan di daerah Canti, tupping hanya boleh dipakai oleh pemuda yang berusia 20 tahun. Pada saat ini, tupping lebih sering ditampilkan sebagai drama tari kepahlawanan dalam acara adat, prosesi pernikahan atau acara resmi lainnya.

Sekura atau tupping, hayo?

Memakai topeng bertuliskan aksara Lampung.

Wii, nyak tipoto. (Wi, saya difoto)

Senyummu, dek :3

Salah satu aksi peserta parade.
   
Garuda.

Senyum peserta pawai dari Tulang Bawang Barat.

Pengantin perempuan adat Pepadun bertopeng.

Adek kecil dari Tulang Bawang Barat ini juga gak mau kalah tampil kece dalam parade.

Pemusik bertopeng dari kabupaten Lampung Utara

Gak cuma orangnya, tongkatnya juga bertopeng.

Ibu bapak petani juga bertopeng.

Topeng-topeng yang mirip seperti di film Hush.

Ternyata V for Vendetta juga ikut meramaikan parade.

Suasana pawai di depan Lotus, Radin Intan.
* * *
Kok pada pakai topeng semua?
Ada yang gak pakai topeng gak?
Ada, nih..

Peserta pawai dari kota Bandar Lampung

Peserta pawai dari kabupaten Pringsewu.

Peserta pawai dari kabupaten Pringsewu juga.

Perwakilan kabupaten Pringsewu juga lagi.

Peserta dari Pesisir Barat yang baru saja memecahkan rekor Muri dan dunia: Membawa 1000 pahar.

Pengantin perempuan dengan pakaian adat Lampung Pepadun. Pengantin lakinya mana, kak?

Pengantin Lampung adat Saibatin dari kabupaten Pesisir Barat, ciee, diarak di kota.

* * *
Di setiap parade budaya Festival Krakatau, hal pertama yang pasti bakal ku cari lebih dulu adalah rombongan pawai dari tempat asalku, Lampung Barat atau Liwa. Iya, siapa tau ada yang kenal aku atau aku kenal meraka, hahaha

Kontingen Lampung Barat, sebut saja Rojali (Rombongan Jak Liwa).

Kali ini Lampung Barat menampilkan keunikan budaya khasnya dengan nuansa Pesta Sekura yang biasa diadakan saat hari lebaran. Mereka semua tampil sebagai sekura kamak dan sekura kecah, cewek-ceweknya juga berpenampilan sekura kecah, jadi gak keliatan wajahnya. Mereka juga membawa alat musik tabuh hadra dan beberapa membawa buah (pinang berhadiah) juga, lho. Tentu dalam bentuk yang praktis supaya mudah dibawa dalam pawai.
 
Bapak ini tetanggaku di Liwa.
 
Bima dan Donara, Mekhanai dan Muli (bujang dan gadis) Lampung Barat.

Pasukan sekura kecah.

Pasukan sekura kecah lagi.

Menjaga barisan.
 
Sekura kamak sedang santai.

Trio sekura kamak ini menjadi manusia bertopeng paling kocak di parade.

Sepanjang parade, tingkah lucu dan usil para sekura itu pun selalu mengundang tawa dari para penonton yang memperhatikannya, ada juga beberapa anak atau orang dewasa yang takut saat didekati oleh sekura kamak. Di penghujung acara, Lampung Barat berhasil meraih juara 1 dalam parade Jelajah Semarak Budaya Festival Krakatau. Keren, kan! Hanggum nyak uy ;)

Sebenarnya ini lagi iseng.

* * *
Di Jelajah Semarak Budaya Festival Krakatau itu juga, aku terpesona dengan band pengisi musik di acara tersebut. Mereka tampil dengan mengkombinasikan alat musik trandisional dan modern. Apa lagi kolaborasi antara 2 drummer band tersebut. Gokil! Gak sulit untuk melihat para penonton yang sepertinya juga terhanyut menikmati alunan musik sambil menggoyangkan kepala sesuai ketukan musik yang mereka mainkan.

Pokoknya band pengisi musik acaranya, keren!

Duo drummer-nya juga gokil!

Trio Sekura Kamak dari Liwa ini saja jadi 'mak nahan' buat goyang.

Dan di penghujung acara, panitia parade membagikan lagi topeng-topeng yang tersedia kepada pemerintah, tamu dan warga yang menyaksikan. Tebakan ku benar. Parade budaya kali ini ingin memecahkan rekor. Jelajah Semarak Budaya Festival Krakatau tahun ini menjadi semakin semarak karena berhasil memecahkan rekor Muri dan dunia dengan predikat acara dengan topeng terbanyak. Kira-kira ada 1500an orang memakai topeng di parade itu. Uwaw, Lampung keren!

* * *

Selfie kece bersama Mas Danel dan Wakapolda Lampung, Krishna Murti.

Bersama Hamish Daud yang sedang shooting The Nekad Traveler Movie.
Jujur, pas minta selfie cuma tau kalau intinya Hamish Daud itu artis, sebelumnya gak tau kalau dia itu Hamish Daud yang ternyata salah satu presenter My Trip My Adventure juga, huehehe, maklum gak pernah nonton tv.
* * *

Komentar

  1. Bagus nih artikelnya menginspirasi anak muda Indonesia akan budaya budayanya sendiri. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih udah mampir, Ba. Emang harusnya begitu, jadi supaya kita tau kalau topeng juga ternyata termasuk salah satu contoh budaya unik yang dimiliki Lampung.

      Hapus
  2. Sialll kerenn bangett, foto nya keren, artikelnya keren, jadi makin pengen foto dan nulis 😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe, iso waelah mamas iki, matur tengkyu yo!
      Yo sekarang penak moto terus nulis mas, ben koyo' dadi traveler kan, padahal nang kostan wae :D

      Hapus
  3. aihhhhhh,, sumpah keren banget.. senangnya bisa liat festival atau karnaval seperti ini, ada banyak budaya Indonesia yang dilihat disini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih udah mamping bang Rudi. Sama aja, aku juga seneng banget klo udah ada yang namanya karnaval atau festival, apa lagi kalau itu membawa tema budaya lokal, seru! ;)

      Hapus
  4. Wow.! Kita sama yaaa kemarin pake kamera pinjaman heheheheheh jangan sedih aku Aja blogger gak punya kamera kok selain pinjemin itupun kalo ada yang mau pinjemin hahahahhaha ... Btw gW salut lo ama lu yang suka Explore ... Kapan kapan trip bareng yaaa Broh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih bang, kita sama-sama pakai kamera pinjeman, hehe, iya sih, cuma kan udah biasanya aku ngeblog pakai kamera sendiri, dan ini udah biasa lagi, huhuhu

      Btw, makasih banget bang, biasa aja kok itu, boleh yuk kapan-kapan, kebanyakan sih aku jalan karena diajak, hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer